• sumber : tradisinuswantoro.blogspot.co.id

Rentak Kudo – Tarian Tradisional Masyarakat Kerinci, Jambi

posted in: Jambi, Seni dan Budaya, Sumatera, Tari | 0

Tari Rantak Kudo atau Rentak Kudo adalah tarian tradisional yang berasal dari Hamparan Besar Tanah Rawang (Hamparan Rawang), Sungaipenuh, provinsi Jambi. Tari ini adalah budaya asli masyarakat Kerinci yang pada awalnya menjadi bagian dari suatu perayaan sakral untuk merayakan hasil panen padi.

Menariknya, perayaan sakral yang dimaksud bisa berlangsung selama berhari-hari tanpa henti. Saking sakralnya perayaan seni dan budaya Kerinci ini hingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasannya, tari ini menimbulkan getaran dan hentakan yang bisa terasa sampai jarak yang sangat jauh.

Disebut dengan Rantak Kudo karena gerakan kaki dari penari rentak kudo berhentak-hentak dan hentakan kaki penari itu seakan-akan senada dengan bunyi hentakan kaki Kuda. Sebagai bagian dari upacara yang sakral, Rentak Kudo biasanya difungsikan sebagai sarana memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, ketika Masyarakat Kerinci dilanda musim kemarau yang panjang.

Tari Rantak Kudo dimainkan dengan diiringi oleh alat musik gendang dan nyanyian yang berisi pantun-pantun. Dimainkan oleh penari laki-laki dan wanita dengan gerakan yang khas yang menggabungkan gerakan silat “Langkah Tigo” dan tarian. Pada kesempatan tertentu atau ketika tarian ini dimainkan dengan ritual pembakaran kemenyan tradisional, tidak jarang diantara para penari ada yang mengalami kesurupan.

Tarian ini sangat identik dengan bahasa dan gaya bahasa Masyarakat Kerinci dalam menembangkan nyanyian (pengasuh). Terlebih gaya dari Daerah Tanjung yang terletak dihilir menyusuri sepanjang pinggiran sungai yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal ini terlihat dari lirik dan pantun serta bahasa Kerinci Hilir yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian (pengasuh).

Terdapat satu lirik lagu di dalam pantun yang bersahut-sahutan adalah : “Tigeo dili, empoak tanoh rawoa. Tigeo mudik, empoak tanoh rawoa” (Bahasa Indonesia: “Tiga di Hilir, Empat dengan Tanah Rawang. Tiga di Mudik, Empat dengan Tanah Rawang”). Lirik tersebut menceritakan sebuah kisah pada zaman nenek moyang suku kerinci dahulu kala, di kala pemerintahan para Depati (Adipati).

Tanah Hamparan Rawang merupakan pusat pemerintahan, pusat kota dan kebudayaan di kala itu, yaitu dalam lingkup Depati 8 Helai Kain yang berpusat di Hiang (Depati Atur Bumi) dimana Tanah Hamparan Rawang merupakan tempat duduk bersama (pertemuan penting dalam adat Kerinci).

Mengenai Sejarah Tari Rantak Kudo, terdapat beragam pendapat yang mewarnainya, namun hingga saat ini belum ditemukan sumber yang benar-benar menjelaskan asal-asulnya. Ada yang memperkirakan tari ini telah ada sejak lama sekali di daerah Kabupaten Kerinci.

Menurut seniman-seniman senior (tua), kesenian ini telah dipelajari dan dilaksanakan jauh sebelum mereka lahir. Hanya saja asal-usulnya menjadi kabur seiring perjalanan waktu dan kurangnya perhatian dari sejarawan setempat. Adapun saat ini Tari Rentak Kudo biasa dipentaskan dalam acara-acara adat dan resepsi pernikahan adat Kerinci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *