Tari Rantak, Minangkabau – Jejak Pemberontakan Seorang Gusmiati Suid

Tari Rantak merupakan tarian Minangkabau yang mungkin diadaptasi dari Tarian Rantak Kudo, tarian tradisional Jambi. Meski pada dasarnya memiliki kesamaan, khususnya pada hentakan kaki, namun oleh seniman Minang dikolaborasikan dengan silek (silat) yang tegas.

Gerakan-gerakan silat dalam tarian ini mengambil bagian dari bungo silek yang memang difungsikan untuk pertunjukan semata. Lebih menonjolkan unsur keindahan yang tentu berbeda dengan gerak silat sesungguhnya. Tari ini disajikan dengan iringan musik yang cenderung bertempo cepat.

Dalam ranah kebudayaan Minang dikenal dua tarian Rantak, yakni Rantak Kudo Pesisir Selatan dan Rantak karya Gusmiati Suid. Tarian di Kabupaten Pesisir Selatan bisa jadi adalah perkembangan dari Rantak Kudo di Jambi, karena daerah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Kerinci, Jambi.

Artikel ini lebih difokuskan pada tarian Rantak karya Gusmiati Suid. Ia adalah seorang maestro tari di dunia seni tari kontemporer Indonesia. Seorang tokoh pemberontak di dunia seni tari bagi masyarakat seni Minangkabau. Hampir semua karya tari Gusmiati keluar dari pakem tarian Minang.

Sekilas Sejarah Tari Rantak

Tari ini lahir sebagai hasil dari ketidak-puasan Gusmiati Suid terhadap tarian Minang sebelumnya. Tari Payung, Tari Piring, Tari Galombang dianggapnya terlalu gemulai dan baku. Maka diciptakanlah tarian ini dengan mengadopsi gerakan aliran silat di Ranah Minang, khususnya Silat Tuo.

Dalam sejarahnya, Tari Rantak tercipta tahun 1976. Ditampilkan pertama kali dalam Pekan Tari Rakyat di Jakarta tahun 1978 dan memenangkan penghargaan tiga besar. Di acara inilah tarian Rantak membuat heboh dunia seni tari Indonesia. Lebih-lebih di kalangan seniman tari Minangkabau.

Gerakannya dinilai keluar dari gerak tari Minangkabau umumnya, yang lebih berakar dari tarian Melayu yang lemah gemulai. Meski demikian, Gusmiati Suid tidak pernah meninggalkan identitas tradisi Minang dalam berkarya. Ia adalah salah satu pilar pengembang budaya alam Minangkabau.

Melalui karyanya ini, Gusmiati Suid ingin membuka mata banyak orang untuk mempelajari kembali seni tradisi Minangkabau. Karyanya hadir sebagai sesuatu yang unik dan khas terutama pada gerak tarinya. Meski terkesan modern, namun spirit dan nuansa ke-Minangkabau-annya demikian kuat.

Tarian Rantak tercipta sebagai sebuah karya yang dipenuhi ide kreatif. Hal ini dikarenakan Gusmiati Suid meramu kreativitasnya berdasarkan pada pengalaman. Sebelum menciptakan tarian ini, selama enam tahun ia mempelajari silat tuo dari berbagai nagari yang ada di Sumatera Barat.

Perihal Penari dan Gerak Tari

Meski hadir dengan cara dan pola yang beragam, tari ini disajikan dalam kesamaan konsep yang telah menjadi karakternya. Menyajikan gerakan yang tegas, dinamis dan terkadang menyentak. Sangat menuntut kerantakan dimana para pemainnya diharapkan menguasai permainan berdasarkan pancak silek.

Bagi seorang Gusmiati Suid, penguasaan bentuk-bentuk tari tradisi sebagai bahasa karya baru haruslah diikuti dengan penguasaan pancak. Lebih dari itu, harus juga dipahami dalam konteks filosofinya. Beberapa teknik gerak silek Minangkabau yang harusnya dikuasai oleh para penari, di antaranya:

  • Tagak-Tagun: tagak atau tegak artinya berdiri. Namun, dalam silek Minangkabau diartikan melakukan gerak kokoh. Lazim dikatakan mambao tagak (gerakan). Adapun tagun berarti merenung sejenak sebelum memulai gerakan.
  • Ukua Jo Jangko: artinya ukur dan jangka. Mewakili satu makna yakni ketepatan melakukan sesuatu sesuai ketentuannya. Penari diharapkan bisa membawakan gerak secara sempurna, meski belum mampu menafsirkan atau mengekspresikannya.
  • Pandang Kutiko: pandang artinya melihat. Dalam silek dimaknai pemahaman, penafsiran atau persepsi terhadap sesuatu. kutiko merujuk pada ketepatan pemahaman, penafsiran dan persepsi terhadap sesuatu. Penari harus mengenal tariannya.
  • Garak-Garik: garak (firasat) merujuk pada kepekaan terhadap sesuatu yang sedang dan akan terjadi. Adapun garik berarti gerak. Ini menuntut penari agar mampu melakukan sesuatu, baik secara teknis maupun non-teknis.
  • Raso-Pareso: artinya periksa rasa atau koreksi rasa. Dimaknai dengan menyimpulkan sikap dan perbuatan berdasarkan pikiran dan perasaan. Diharapkan adanya pembauran antara raso dan peraso (pikiran dan perasaan)

Dalam teknisnya, tidak ada kepastian jumlah para penari Tari Rantak. Yang pasti, mereka ditekankan mengenakan busana khas Minang. Umumnya berwarna mencolok agar dapat menarik perhatian, seperti merah, kuning, atau oranye. Tarian ini disajikan dengan iringan musik tanpa ada unsur vokal.

Referensi:

  1. jurnal.isi-ska.ac.id/index…
  2. www.slideshare.net/nisak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *