• sumber : steemit.com/@muntaza03

Rapai Geleng, Aceh – Tari Sebagai Media Dakwah Dari Masyarakat Pesisir

posted in: Aceh, Seni dan Budaya, Sumatera, Tari | 0

Rapai Geleng. Secara umum, kesenian dalam budaya tradisional Aceh difungsikan sebagai media dakwah. Dalam hal ini, buah karya seni lebih banyak didominasi oleh seni tari. Tersebutlah Rapa’i Geleng sebagai satu diantara banyak ragam tarian di Aceh yang kental dengan nilai-nilai dakwah Islam.

Istilah Rapa’i merujuk pada nama alat musik tabuh yang umumnya tersebar di wilayah pesisir Aceh. Penggunaan alat musik pukul ini mencakup banyak permainan, salah satunya adalah Rapai Geleng. Kesenian ini dimainkan dengan disertai gerakan tari untuk melambangkan keseragaman dan kebersamaan.

Dalam fungsinya sebagai media dakwah Islam, Tari Rapai Geleng mengekspresikan nilai-nilai Islam disetiap bagiannya, termasuk syair, busana dan gerakannya. Selain itu, tarian ini juga turut melambangkan sikap hidup Suku Aceh yang menonjolkan nilai kekompakan dan kebersamaan dalam bermasyarakat.

Kesenian ini menjadi salah satu yang paling populer digemari oleh masyarakat Aceh. Setiap pertunjukannya, hampir selalu dipadati penonton. Daya tarik utama dari Tari Rapa’i Geleng lebih kentara melalui keindahan gerak dan syair yang menyertainya, sangat menghibur mata dan telinga.


Sejarah Tari Rapai Geleng

Kesenian Rapai lahir, tumbuh, dan berkembang ditengah-tengah masyarakat pesisir Aceh. Kesenian ini telah ada sejak kisaran abad ke-13 bersamaan dengan masuknya agama Islam di Aceh. Berkembang sebagai media dakwah dimasa kerajaan Islam pertama di Nusantara, yakni Kerajaan Samudera Pasai.

Sebagai alat musik, Rapa’i merupakan hasil akulturasi budaya Islam melalui para ulama dan saudagar Islam dari Timur Tengah. Dalam sejarahnya, alat musik ini dibawa oleh seorang ulama besar Syekh Abdul Qadir Zailani yang meneruskan ajaran gurunya, yakni Syekh Ahmad Rifai dari Badhdad, Irak.

Sementara itu, kesenian Rapa’i Geleng mulai dikembangkan sekitar tahun 1965, namun tidak diketahui siapa pengembangnya. Awalnya, kesenian ini merupakan permainan para santri untuk mengisi kekosongan waktu untuk menghindari kejenuhan dalam belajar agama.

Oleh karena permainan tersebut menarik, lambat laun dijadikan suatu pertunjukan sebagai sarana dakwah. Kesenian ini pun semakin berkembang, baik di Aceh Selatan maupun di Aceh Barat Daya. Kesenian ini menjadi menarik karena kekompakan gerak yang mengusung gerak dasar Tari Meuseukat.

Syair juga sebagai satu unsur yang sangat dominan, sebagai ekspresi kedinamisan masyarakat Aceh. Keberadaan syair sangatlah beragam dan terus dikembangkan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Meski terkadang menyentuh politik, syair tetap pada fungsinya, yaitu sosialisasi dakwah Islam.


Penyajian Tari Rapai Geleng & Kandungan Pesan didalamnya

Rapai Geleng dibawakan oleh 12 orang penari laki-laki terlatih. Ada tiga babak dalam penyajiannya, saleuem (salam), kisah (kisah rasul, nabi, raja dan ajaran agama), dan lani (penutup). Dengan diiringi tabuhan rapa’i, tarian ini menghadirkan empat tingkatan gerak, lambat, cepat, sangat cepat, dan diam.

Secara nilai, empat tingkatan gerak yang dimaksud adalah miniatur dari karakteristik masyarakat Aceh. Didalamnya terkandung pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan agama, politik, sosial dan budaya. Pesan juga terwakili oleh syair di setiap tingkat gerak.

Pada ritme gerakan lambat terkandung pesan bahwa setiap tindakan yang diambil harus melalui pemikiran yang matang. Diperlukan pertimbangan yang seksama, karena setiap keputusan akan diikuti resiko yang harus dihadapi. Permaafan atau permakluman musti dikedepankan jika ada yang melakukan kesalahan.

Ritme gerakan cepat mengandung pesan penyikapan ketika perbuatan jahat (dimaknai sebagai kesialan nasib) kembali dilakukan oleh individu atau kelompok yang sama. Penyikapan bisa berupa apa saja, namun masih terbatas pada protes keras belaka. Ritme ini disajikan sebentar, lalu disusul ritme selanjutnya.

Ritme gerakan sangat cepat mewakili perang, opsi dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Pilihan ini diambil ketika protes tak dihiraukan. Nuansa gemuruh juga didramatisasi oleh tetabuhan rapai. Menghentak bersama syair pesan perlawanan ketika harkat dan martabat bangsa terinjak-injak. Setelahnya, ada titik disaat semuanya berhenti, termasuk seluruh nyanyian syair. Gerakan diam ini menjadi tanda berakhirnya tarian.

Mengenai syair, selalu bergantung pada syahi. Meski saat ini banyak syair-syair baru dibuat, namun tetap pada fungsi awalnya yakni dakwah. Umumnya, syair yang dibawakan adalah sosialisasi tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi.

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *