Rateb Meuseukat – Tarian Rakyat, Bermula Dari Tempat Pengajian

Tari Rateb Meuseukat, Aceh. Tari Saman merupakan penggal seni Aceh yang popularitasnya melambung, bahkan telah membuat takjub masyarakat dunia. Karena populeh, hampir setiap tarian duduk Aceh ditampilkan, sebagian besar orang (khususnya yang luar Aceh) menganggapnya sebagai Tari Saman. Padahal, tari duduk Aceh sangatlah banyak macamnya, seperti Likok Pulo, Ratoeh Duek, tidak terkecuali Rateb Meuseukat yang akan dibahas dalam artikel ini.

Pada dasarnya tarian-tarian Aceh terbagi menjadi dua macam, yakni tari duduk dan tari berdiri. Rateeb atau yang dalam bahasa Aceh disebut ratoh merujuk pada kegiatan berdoa atau berdzikir yang dinyanyikan atau diiramakan. Awalnya ratoh dilakukan dalam posisi duduk (duek) sehingga lahirlah istilah Ratoh Duek. Oleh karena pergerakan yang lebih meluas dan ada yang dilakukan sambil berdiri (dong), muncullah istilah Ratoh Dong.

Seperti halnya Tari Saman, Tari Rateb Meuseukat juga termasuk ratoh duek jika istilah tersebut merujuk semua tarian duduk Aceh. Dalam khasanah tarian Aceh, ratoh duek sendiri telah menjadi nama bagi sebuah tarian tersendiri. Ada juga yang berpendapat, Rateb Meuseukat adalah Tari Saman yang ditarikan oleh perempuan. Seperti diketahui, Saman merupakan tari yang khusus ditarikan oleh laki-laki.

Sebenarnya, banyak sekali perbedaan diantara keduanya, termasuk sejarah kelahirannya. Tari Saman adalah kesenian asli Suku Gayo di dataran tinggi Gayo di Aceh Tenggara, sedangkan Rateb Meuseukat lahir di Kabupaten Nagan Raya di Aceh Barat. Terlepas dari perbedaan tersebut, keduanya tetap mengusung kekhasan seni tari Aceh, yang bernuansa Islam, ditarikan banyak penari, serta banyak pengulangan gerak serupa dan rancak.

Sejarah Tari Rateb Meuseukat

Tersebutlah nama seorang ulama, Teuku Muhammad Thaib yang memperkenalkan Tari Rateb Meuseukat pada kisaran abad ke-19. Beliau adalah seorang pemimpin dari sebuah pendidikan agama Islam di Kila, Seunagan, Kabupaten Nagan Raya (dulu Kabupaten Aceh Barat). Tarian ini terlahir dari aktivitas berdzikir bersama (meurateb) sebagai cara mengusir kejenuhan disela-sela kegiatan belajar murid-murid beliau.

Sebelum memimpin di pendidikan agama Islam tersebut, Teuku Muhammad Thaib yang termasuk bangsawan di gampong Rumoh Baro ini pernah belajar di Baghdad, Irak. Disana beliau belajar pada seorang filosof dan ulama besar Irak, Ibnu Maskawaihi. Pada gurunya tersebut, Teuku Muhammad Thaib belajar pengetahuan Islam serta beberapa cabang pengetahuan lainnya, termasuk seni sebagai satu media dakwah.

Kegiatan meurateb yang diterapkan ketika mengajar murid-murid beliau sama halnya dengan apa yang biasa dilakukan oleh Ibnu Maskawaihi. Untuk diketahui, Ibnu Muskawaihi merupakan ulama yang hidup pada masa kesenian sedang berkembang pesat di Jazirah Arab (Asia Barat). Pada masa itu, kesenian difungsikan sebagai media dakwah dalam mengajarkan ilmu Tauhid dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Saat Teuku Muhammad Thaib pulang ke kampung halaman dan menjadi pemimpin pendidikan Islam di Aceh, geliat seni Ibnu Muskawaihi diterapkan pada santri-santrinya yang semuanya perempuan. meurateb atau rateb dilakukan dengan gerak dan lagu yang sederhana namun sangat menarik. Ketika pulang ke tempat asal masing-masing, para santrinya juga menggunakan kesenian ini sebagai metode dakwah mereka.

Perihal namanya, Rateb Meuseukat secara etimologis merupakan gabungan dari dua kata, Rateb dan Meuseukat. Rateb (Arab; ratib) dimaknai sebagai aktivitas dzikir yang dinyanyikan atau diiramakan. Sementara itu, Meuseukat ada yang mengatakan berasal dari istilah “sakat” atau memusatkan pikiran dan jiwaraga memuji kebesaran Tuhan. Ada juga yang berpendapat Meuseukat berasal dari Maskawaih, nama guru dari pelopor tarian ini.

Secara historis Tari Meuseukat adalah salah satu permainan rateb yang dilakukan ditempat pengajian. Seiring berjalannya waktu berkembang menjadi tarian rakyat. Oleh karena itu, tari ini mengalami perkembangan yang tidak luput dari pembaharuan sesuai dengan kondisi perubahan pada masyarakat pendukungnya. Perubahannya menjadi tari kerakyatan tidak luput dari peran santri yang mengembangkan tarian tersebut di lingkup masyarakat luas.

Sekilas Penyajian Tari Rateb Meuseukat

Rateb Meuseukat tumbuh dan berkembang sebagai seni tari yang hanya dibawakan oleh kaum perempuan saja. Hal ini sejalan dengan ide awal yang selain difungsikan untuk mengusir kejenuhan, juga untuk mengarahkan mereka agar lebih memusatkan pikiran dan jiwaraga memuji kebesaran Tuhan, ketimbang mempercakapkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Tarian ini melibatkan penari dengan jumlah yang tak terbatas, namun minimal 10 orang dengan dipimpin oleh seorang syekh. Sumber lain ada yang mengatakan pemainnya 13 orang, berjumlah ganjil tidak boleh kurang dari 10 penari. Jumlahnya yang ganjil dikatakan berpedoman pada langit dan bumi yang berjumlah ganjil. Jika ada salah satu peserta kelelahan, bisa digantikan oleh pemain lainnya.

Awalnya penari membentuk formasi duduk berbanjar satu, syekh berada ditengah. Mereka melakukan gerak salam pembuka diiringi oleh vokal seorang syahi. Memulai dengan ucapan salam 5-12 bait, dilanjut sajak-sajak pilihan seperti sholawat, kisah Hasan dan Husein, pendidikan dan lain-lain. Tari Rateb Meuseukat merupakan perpaduan antara seni tari, musik dan sastra.

Selain syekh yang mengatur gerak agar serempak dan dinamis, biasanya ada juga eneuk syekh (wakil syekh) dalam kelompok penarinya. Gerak tari yang disajikan merupakan pengulangan gerak dalam pola yang sederhana. Secara berturut-turut, ada gerak horisontal, gerak salam, gerak menunduk, gerak selang-seling, gerak kepakan sayap, serta gerak ombak atau gelombang.

Selengkapnya mengenai penyajian, ragam gerak serta simbol dan makna dari masing-masing gerakan tari, bisa Anda baca melalui tautan referensi dibawah artikel ini.

Busana & Properti Tari Rateb Meuseukat

Oleh karena fungsinya yang sangat sarat dengan nilai kearifan, busana para penari haruslah sopan dan menutup aurat. Mengenakan baju kebaya lengan panjang dan celana panjang yang ditutupi sarung setengah dari pinggang ke lutut. Tidak menggunakan selendang, namun wajib memakai jilbab. Sumber lain mengatakan, busana penari adalah pakaian wanita adat Aceh.

Saat ini, tidak ada ketentuan terhadap warna baju, yang terpenting adalah polos dan cerah. Celananya dari kain katun berwarna hitam, sementara untuk sarung biasanya kain songket bermotif ukiran bermacam-macam. Ada juga ikat pinggang dari perak sembilan lipatan. Jika zaman dulu digunakan kerudung dari kain yersi yang tipis, untuk saat ini kerudungnya sangat beragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *