Tari Ratoh Duek, Aceh – Satu Diantara Tari Aceh Yang Mirip Tari Saman

Tari Ratoh Duek, Aceh. Pada dasarnya tarian-tarian Aceh terbagi menjadi dua macam, yakni tari duduk dan tari berdiri. Rateeb atau yang dalam bahasa Aceh disebut ratoh merujuk pada kegiatan berdoa atau berdzikir yang dinyanyikan atau diiramakan. Awalnya ratoh dilakukan dalam posisi duduk (duek) sehingga lahirlah istilah Ratoh Duek. Oleh karena pergerakan yang lebih meluas dan ada yang dilakukan sambil berdiri (dong), muncullah istilah Ratoh Dong.

Oleh para syekh (pemimpin gerak tari), posisi duduk dalam ratoh sering juga disebut meusaman. Berangkat dari penyebutan tersebut, masyarakat Aceh juga menggunakan istilah “meusaman” untuk menyebut tarian Aceh lainnya yang dilakukan dengan duduk, tidak terkecuali Tari Saman. Meski demikian, Ratoeh Duek dan Saman adalah dua tari dengan banyak perbedaan. Pembeda paling menonjol adalah Tari Saman ditarikan oleh penari laki-laki, Tari Ratoh Duek ditarikan oleh penari wanita.

Ratoeh Duek adalah tari yang disajikan penuh semangat untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh yang kental dengan nilai kebersamaan dan kekompakan. Ratoh Duek sebagai gambaran umum tarian duduk Aceh, menyajikan kombinasi ragam gerak tari tradisional duduk lainnya. Perkembangannya yang sangat pesat dan banyaknya variasi telah menginspirasi lahirnya tari-tari kreasi baru, salah satunya Ratoeh Jaroe yang menjadi sangat populer setelah tampil di pembukaan Asian Games 2018.

Penyajian Tari Ratoh Duek

Tari Ratoh Duek merupakan perkumpulan ragam gerak tari tradisional duduk lainnya. Struktur gerak tarian ini terdiri dari gerak saleum pembuka, gerak hai ba kusen, gerak lahe tujan, gerak ku ayoen ilallah, gerak kutidhing dan gerak yahuallau ee haa. Selanjutnya, ada gerak la illa la illa lahee, gerak hai jalla tun, gerak arok pulo pineung, gerak kosong (tanpa syair), dan berakhir di gerak saleum penutup.

Tari ini disajikan dalam posisi duduk berbanjar dengan pola lantai yang tidak banyak memiliki perubahan, yakni hanya berbentuk horisontal, zig zag. Para penarinya semuanya wanita berjumlah genap yang biasanya berjumlah 8 hingga 12 orang. Mereka menari menggerakkan tangan dan pukulan telapak tangan di paha dan di dada yang masing-masing diselaraskan dengan syair.

Pengiring tari biasanya hanya berupa syair oleh syahi serta diperindah suara petikan jari atau tepukan tangan para penarinya, namun ada juga yang diiringi oleh rapai. Dalam hal tata busana, para penari Ratoh Duek menggunakan busana tradisional Aceh dengan beberapa modifikasi, meliputi baju, celana, songket, hiasan kepala dan tali pinggang. Selebihnya, tarian Ratoeh Duek tidak menggunakan properti atau peralatan apapun.

Perbedaan Tari Ratoh Duek dan Tari Saman

Jika definisi Ratoh Duek adalah mencakup semua tari Aceh yang dilakukan dalam posisi duduk, maka Tari Saman dengan sendirinya termasuk kesenian Ratoh Duek. Adapun jika Ratoh Duek merujuk pada varian tari, sudah pasti antara Tari Ratoh Duek dengan Tari Saman memiliki banyak perbedaan. Sejak ditetapkan dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh UNESCO, Tari Saman hanya boleh ditarikan oleh laki-laki, berjumlah ganjil. Sedangkan penari Ratoh Duek semuanya wanita berjumlah genap.

Struktur gerakan kedua tari ini pun berbeda, yang mana Ratoeh Duek ditarikan dalam bentuk yang lebih sederhana, lebih fleksibel dan dapat dikreasikan sewaktu-waktu. Syair dalam Tari Saman terdiri dari tiga bagian, sek; alunan keras yang merdu bernada khas, redet; dinyanyikan oleh seorang penari (penangkat), dan saur; nyanyian bersama. Sementara dalam Tari Ratoeh Duek hanya dinyanyikan secara biasa oleh syahi yang kemudian disahut dan diikuti oleh seluruh penari.

Perbedaan lain yang juga mencolok adalah busana. Penari Saman menggunakan pakaian adat Suku Gayo yakni baju kantong bermotif kerawang, ada bulang teleng di kepala yang disertai daun kepies (atau daun pandan). Saat menari mulai kencang, penari Saman membuka bulang teleng dan memakainya kembali saat selesai. Adapun penari Ratok Duek hanya menggunakan pakaian polos berwarna dipadu dengan kain songket Aceh, serta ikat kepala berwarna. Penarinya tidak melepas ikat kepala saat menari.

Kerancuan penyebutan beberapa tarian Aceh lain yang sering dianggap sebagai Tari Saman biasanya diluar masyarakat Aceh. Selain Tari Ratoh Duek, Tari Ratoh Jaroe juga kerap disebut Tari Saman, padahal Ratoh Jaroe merupakan tari kreasi semi-urban yang tumbuh dan berkembang di Jakarta dan bukan di daerah Aceh. Menariknya, ketika merujuk pada wikipedia, Tari Saman yang ditarikan oleh remaja putri di pesisir Aceh berubah namanya menjadi Tari Ratoh Duek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *