Ratoeh Jaroe – Tarian Kreasi Baru Semi-Urban yang Dikira Tari Saman

Tari Ratoh Jaroe merupakan tarian kreasi baru yang didalamnya memuat nilai kebersamaan dan kekompakan sebagai ciri khas tarian tradisional Aceh. Bisa juga dikatakan sebagai tarian kreasi tradisi, karena Ratoh Jaroe menyajikan ragam gerak yang diangkat dari tari-tarian Aceh. Seperti tari Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, dan tarian lainnya.

Meskipun begitu, Ratoh Jaroe bukan berasal dari daerah Aceh, melainkan tumbuh dan berkembang di Jakarta. Tarian ini merupakan kreasi seniman Aceh bernama Yusri yang merantau ke Jakarta pada tahun 1999. Koreografer yang akrab dipanggil Dek Gam ini mengembangkannya pada kisaran tahun 2000-2001. tepatnya ketika menjadi pelatih tari di salah satu SMA di Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, Tari Ratoh Jaroe terus berkembang hingga dimasukkan dalam mata pelajaran ekstrakurikuler favorit di setiap sekolah di ibukota Jakarta. Tarian urban ini menjadi sangat terkenal, terutama setelah berhasil mengiringi upacara pembukaan Asian Games 2018. Acara tersebut di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada pertengahan bulan Agustus yang lalu.

Seperti umumnya tari tradisional Aceh, Tarian Ratoh Jaroe juga sarat dengan nilai Islam. Hal ini seperti disyaratkan oleh namanya, ratoh berarti berdzikir dan jaroe berarti jemari tangan. Selain itu, tarian ini juga melibatkan banyak penari, berjumlah genap minimal 10 orang. Selebihnya, tari ini juga banyak menyajikan pengulangan gerak yang serupa dan rancak seperti Tari Saman Aceh.

Perbedaan Tari Ratoh Jaroe dan Tari Saman

Saking persisnya, terlebih setelah sukses memeriahkan pembukaan Asian Games 2018, banyak yang mengira bahwa Ratoeh Jaroe adalah Tari Saman yang memang telah menjadi salah satu budaya Indonesia yang mendunia. Meski terlihat mirip, sebenarnya jika diperhatikan lebih teliti banyak juga perbedaan antara Tari Ratoh Jaroe dengan Tari Saman.

Ratoh Jaroe ditarikan oleh penari putri berjumlah genap, penari Tari Saman umumnya laki-laki berjumlah ganjil. Ratoeh Jaroe disajikan dengan iringan musik, Tari Saman hanya diwarnai suara tepuk tangan. Perbedaan lain adalah busana, penari Saman menggunakan busana khas Gayo, penari Ratoh Jaro menggunakan atasan polos dan bawahan songket.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *