Tari Retno Tinanding – Salah Satu Tarian Putri Berpasangan Gaya Surakarta

Tari Retno Tinanding merupakan salah satu contoh tari klasik gaya Surakarta, selain yang telah dituliskan sebelumnya, yakni Tari Bedhaya Ketawang dan Tari Bambangan Cakil. Retna Tinanding adalah bentuk tari putri berpasangan gaya Surakarta yang menggambarkan peperangan antara dua dewi, mirip dengan Tari Srikandi Suradewati di Keraton Yogyakarta.

Dalam prakteknya, tarian ini menggambarkan peperangan antara Dewi Wara Srikandhi dengan Dewi Larasati. Berlangsung dalam durasi penyajian kurang lebih 12 menit hingga pada akhirnya Dewi Larasati tampil sebagai pemenangnya. Tari Retno Tinanding tercipta tahun 1958 sebagai buah karya dari S. Ngaliman, seorang seniman tari besar dari Surakarta.

Untuk menggambarkan suatu pertempuran, para penari Retno Tinanding menyajikan tarian ini dengan membawa gendhewa (bendera) di tangan kiri. Juga, membawa panah yang diletakkan di endong panah (tempat panah), serta sebuah cundrik atau keris yang diletakkan di depan pusar. Tata rias yang digunakan adalah rias cantik, sedangkan busananya mengacu wayang.

Seperti umumnya tarian klasik Jawa lainnya, Tarian Retna Tinandhing disajikan dengan iringan Gamelan Jawa. Mengalun mengiringi gendhing landrang puspadenta slendro sanga untuk kemudian diteruskan dengan gendhing landrang utama slendro songo. Penggunaan gendhing tersebut adalah ketika maju beksan, beksan, dan mundur beksan.


Struktur Penyajian Tari Retno Tinanding

  • Maju Beksan: motif geraknya adalah srisig kiri dan lumaksana lembehan kanan.
  • Beksan: motif gerak di antaranya; sembahan laras, laras sawit 1/4, lumaksana golek iwak, ngunus jemparing, jemparingan/panahan, dan enjer ridhong sampur. Kemudian dilanjut ngunus keris/cundrik, perangan kengseran, perangan srisigan, manglung, lembehan maju mundur, dan sembahan akhir.
  • Mundur Beksan: motif geraknya adalah lumaksana lembehan kanan dan sririg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *