Tari Salai Jin – Tarian Bernuansa Mistis Khas Suku Ternate di Maluku Utara

Tari Salai Jin. Dalam masyarakat tradisi, kepercayaan terhadap ajaran leluhur (animisme-dinamisme) masih kuat mengakar meskipun di kemudian hari mereka telah memeluk agama-agama dunia (Islam, Kristen, Buddha dll). Berbagai ritual adat yang melibatkan arwah leluhur pun masih tetap terjaga. Sebagai misal adalah Salai Jin, ritual adat Suku Ternate di wilayah kepulauan Ternate dan Tidore, Maluku Utara.

Salai” berarti menari dan “Jin” adalah makhluk halus. Seperti diisyaratkan oleh namanya, Salai Jin merupakan tarian ritual yang sarat nilai sakral atau magis. Umumnya para penari mengalami trans atau kerasukan roh halus yang lazim disebut jin. Dalam fungsinya sebagai sarana ritual, tarian ini digunakan untuk berkomunikasi dengan jin dalam rangka memohon perlindungan atau penyembuhan penyakit.

Karena beragamnya kebutuhan, pelaksanaan ritual juga bergantung niat dan kemana sasarannya. Waktu pelaksanaannya pun bisa berbeda-beda di setiap wilayah. Ada yang dilakukan semalam suntuk, 3 hari, 5 hari, dan bahkan ada yang menggelarnya hingga 7 hari. Saat ini, Salai Jin juga berkembang sebagai kesenian yang lebih profan, untuk menyambut tamu penting atau mengisi berbagai acara budaya.


Sejarah & Penyajian Tari Salai Jin

Salai Jin merupakan seni tradisi purba yang konon dikatakan sebagai bagian dari tradisi megalit. Sejak awal, tarian ini menjadi perantara yang menghubungkan manusia dengan alam roh para leluhur yang diyakini bisa memberi bantuan. Meski umumnya berkaitan dengan wabah penyakit, namun Tari Salai Jin juga dipercaya dapat memberi solusi untuk masalah lain dalam keluarga, seperti jodoh dan percintaan dan lain sebagainya.

Oleh karena sifatnya yang sakral, tarian Salai Jin aslinya tidak boleh ditarikan sembarangan. Hanya orang-orang tertentu yang menjadi penarinya. Pemainnya bisa laki-laki atau perempuan, atau campuran dari keduanya asalkan jumlahnya genap. Dalam keadaan kemasukan jin, para penarinya menari sambil membawa tempat dengan kemenyan yang sudah dibakar. Asapnya semakin menambah aura magis di tempat tarian ini digelar.

Secara turun-temurun tarian ini diwariskan, namun seperti tarian sakral pada umumnya, di kemudian hari tarian ini juga ada versi profannya. Banyak terjadi perubahan dan kini menjadi salah satu atraksi pariwisata unggulan di Ternate. Bakaran kemenyan bukanlah keharusan, terkadang juga diganti arang. Sudah jarang penarinya kemasukan jin, nuansa mistis lebih dihadirkan oleh musik, gerak dan mimik wajah penarinya saja.

Penyajian tari ini di awali oleh para penari pria membawa wadah yang mengeluarkan asap berbau kemenyan. Mereka masuk ke arena sambil diiringi alunan tifa dan gong, serta ucapan Bobeto, sejenis mantra dalam bahasa asli Tidore. Selanjutnya, dengan berjalan pelan, para penari perempuan masuk ke arena membaur dalam barisan penari pria. Mereka membawa seikat daun palem kering sebagai pelindung dari kekuatan roh jahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *