• Tari Saman Aceh

Tari Saman – Tarian Tradisional Aceh

posted in: Aceh, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Saman. Telah umum diketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya akan tarian tradisional. Hampir setiap daerah yang menjadi bagiannya, memiliki tarian yang khas. Dari beragam tarian yang ada, Tari Saman tampil sebagai kesenian yang tetap lestari, bahkan tari ini termasuk salah satu tari tradisional Indonesia yang telah mendunia.

Tari Saman merupakan kesenian asli suku Gayo, suku bangsa yang ada di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh Tenggara. Tari yang sangat kental dengan nuansa Islam ini, selain sering ditampilkan dalam perayaan peristiwa-peristiwa adat, juga sering dipertunjukan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Beberapa literatur mengatakan bahwa Tari Saman pertama kali dikembangkan oleh seorang ulama dari Gayo yang bernama Syekh Saman. Disamping aktif menyebarkan Agama Islam, beliau juga sempat mempelajari Tarian Melayu Kuno. Selanjutnya, gerakan-gerakan tari yang dipelajari tersebut diadopsi dan dikombinasikan dengan syair-syair bernuansa Islami.

Sejak awal dikembangkannya, tari ini memang difungsikan sebagai media dakwah Islam. Dirancang sedemikian rupa untuk mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakkan serta kebersamaan. Hingga saat ini, tari Saman merupakan tarian ritual yang bersifat religius yang masih tetap digunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Gerakan & Nyanyian Tari Saman

Gerakan tari Saman sangatlah unik, dimana tepuk tangan dan tepuk dada menjadi unsur dasar tarian ini. Dominasi gerakan tepuk tangan sangatlah kentara, sementara ada juga gerakan-gerakan lain seperti gerak Guncang, Kirep, Lingang dan Surang-saring (semua gerak ini menggunakan bahasa Bahasa Gayo).

Keindahan gerak tari terutama diperlihatkan melalui keseragaman formasi dan ketepatan waktu para menari dalam menarikannya. Dikatakan bahwa, untuk mencapai keseragaman tersebut, para penari dituntut memiliki konsentrasi tinggi dan latihan serius agar dapat tampil dengan sempurna.

Tari ini semakin dinamis dengan adanya nyanyian para penarinya, lagu dan syair diungkapkan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Terdapat lima macam cara menyanyikan lagu-lagu dalam tarian ini, sebagai berikut :

  • Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
  • Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
  • Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
  • Syekh, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
  • Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Pelaksanaan Tari Saman

Sebelum dimulai, tarian ini akan didahului dengan penampilan seorang tua cerdik atau pemuka adat dalam sesi mukaddimah atau pembukaan. Selain mewakili masyarakat setempat (keketar), penampilan tersebut juga memuat nasihat-nasihat yang diharapkan bermanfaat bagi semuanya, termasuk pemain dan penonton.

Selanjutnya, Tari Saman ditampilkan dengan dipandu oleh seorang pemimpin yang biasa disebut sebagai “Syekh“. Tari ini dikemas sangat khas dengan paduan suara dan tepuk tangan para penari tanpa iringan alat musik. Umumnya, tari Saman melibatkan puluhan pemuda atau minimal 10 orang dengan 8 penari dan 2 pemimpin.

Kesenian Tari Saman, melalui kombinasi gerakan dan syair-syair dalam pementasannya telah memikat hati para penikmat seni tradisional, baik dari Indonesia maupun Mancanegara. Tari ini sering ditampilkan di luar negeri serta tidak jarang tarian ini menjadi pemenang pada kompetisi Tari Tradisional tingkat Internasional.

Dalam skala nasional, Tari Saman biasa dipertunjukkan pada acara-acara bersifat resmi, seperti kunjungan tamu-tamu antar kabupaten dan negara, atau dalam pembukaan sebuah festival dan acara lainnya. Pada tahun 2011 yang lalu, tari Saman ditetapkan oleh UNESCO dalam Daftar Representative Budaya Tak benda Karya Manusia. Tepatnya pada sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda UNESCO di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *