Tari Seblang Banyuwangi – Sejarah, Fungsi, Penyajian Gerak dan Pengiring

Tari Seblang adalah salah satu tari tradisional yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya di desa Olehsari dan Bakungan, kecamatan Glagah. Tarian ini terselenggara setahun sekali sebagai bagian dari upacara adat atau Ritual Bersih Desa Suku Osing Banyuwangi.

Seblang termasuk jenis tarian yang sakral karena ketika menari, penarinya dalam keadaan tidak sadarkan diri atau trance. Mereka kerawuhan atau kejiman (kemasukan unsur kekuatan gaib). Penarinya adalah putri keturunan penari Seblang yang berumur 10 tahun hingga remaja.

Bentuk Penyajian Tari Seblang Banyuwangi

Dalam proses penyajiannya, Tari Seblang Banyuwangi tidaklah menampilkan tema atau cerita dalam susunan gerak tarinya. Meski demikian, melalui susunan gerak tersebut seperti ada sesuatu yang terungkap atau memiliki makna tertentu yang hanya bernilai simbolik.

Adapun melalui bentuk fisik penari Seblang dapat terlihat ungkapan sifat-sifat seorang wanita yang luwes, kenes, tregel dan cenderung “erotis”. Nuansa seperti itu cukup kentara terutama terlihat pada adegan nundik, yakni ketika penari Seblang berpasangan dengan penonton.

Tari Seblang suku Osing juga seperti tari tradisional Banyuwangi lainnya yang terdiri dari motif gerak, pola gerak dan vokabuler. Vokabuler atau sekaran-sekaran-nya berlatarbelakang nama gendhing (lagu), wujud gerak serta atas dasar tiruan gerak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Tari Seblang terdapat sejumlah sekaran seperti egol, sapon, celeng mogok dan daplang. Dalam hal ini egol dan sapon yang lebih ditonjolkan. Sedangkan celeng mogok dan daplang hanya dilakukan pada bagian tertentu, yaitu pada gendhing celeng mogok dan sondra dewi.

Iringan Musik dan Gendhing Tarian Seblang

Tari Seblang tersaji dengan iringan musik ricikan Gamelan Jawa yang menggunakan laras pelog. Instrumen musik yang terlibat mencakup dua buah kendhang, dua buah saron, demung, kempul dan gong yang dimainkan oleh lima penabuh Gamelan.

Selain iringan musik dari gamelan, penyajian Seblang juga mencakup iringan koor atau tembang. Melibatkan beberapa pesindhen yang biasanya berjumlah delapan orang. Sindhen Seblang pada umumnya berusia lanjut yakni sekitar 50 tahun ke atas.

Para penabuh dan pesindhen Seblang, dalam penampilan mereka biasanya membawakan 30 gendhing. Jumlah gendhing mengikat karena terdapat keyakinan apabila ada yang terlewatkan akan berakibat tidak baik. Gending-gending itu di antaranya ;

  1. Seblang Lokenta
  2. Lilira Kantun
  3. Cengkir Gadhing
  4. Padha Nonton Pupuse
  5. Padha Nonton Pedha Sempal
  6. Kembang Menur
  7. Kembang Gadhung
  8. Gendhing Kembang Pepe
  9. Kembang Dirmo
  10. Layar Kumendhung
  1. Kembang Waru
  2. Celeng Mogok
  3. Sondra Dewi
  4. Agung-agung
  5. Erang-erang
  6. Gelang Welut
  7. Emping-emping
  8. Upak Gadhung
  9. Lilira Gule
  10. Sampun.
  1. Ratu Sabrang
  2. Kebyar-kebyar
  3. Baguse
  4. Sekar Jenang
  5. Ayun-ayun
  6. Tambak
  7. Pentung Punjari
  8. Sembung Laras
  9. Ayo Kondur
  10. Kembang Abang

Di antara gending di atas, seblang lokenta dan layar kumendhung termasuk gendhing keramat. Paling berat bagi para pelaku Tari Seblang. Ada keyakinan bahwa 2 gendhing ini dapat mendatangkan roh halus pengusir roh jahat yang mengganggu Desa Olehsari.

Sejarah dan Fungsi Tari Seblang Banyuwangi

Ritual Tari Seblang Banyuwangi merupakan tradisi sakral yang ditujukan atau dipercaya untuk kemakmuran masyarakat. Konon tradisi ini merupakan sisa-sisa kebudayaan Hindu. Di masa lalu, kesenian Seblang terselenggara di setiap desa di Kabupaten Banyuwangi.

Untuk saat ini, penyelenggaraan seni tradisi ini hanya terdapat di Desa Bakungan dan Desa Olehsari. Walaupun ada beberapa perbedaan di antara keduanya, tetapi pada dasarnya sama, yaitu memanggil roh halus untuk menari melalui wadag seorang perempuan.

Pada abad ke XVI, upacara Seblang pernah dipindahkan ke istana oleh seorang bangsawan Blambangan bernama LOKENTO. Tetapi Seblang yang tampil di Pendopo Kadipaten dan yang terkenal dengan nama “Seblang Lokento” tersebut saat ini telah musnah.

Merujuk pada catatan buku historis di Desa Olehsari, Seblang pernah tidak terselenggara antara tahun 1943 sampai dengan 1956. Selama itu sering terjadi pageblug, panen banyak yang gagal dan serangan penyakit terhadap ternak dan manusia tak terhindarkan.

Maka pada tahun 1957 acara tersebut terselenggara kembali. Konon suasana jadi pulih seperti semula. Pada tahun 1930-an hingga kisaran tahun 1970-an, penyajian Tari Seblang Banyuwangi tidaklah menggunakan genjot atau panggung yang terlihat seperti sekarang ini.

Saat itu tarian ini tampil di atas tikar di kebun atau di halaman rumah yang luas ukurannya. Penonton dan penari hanya terbatasi oleh kalangan yang berbentuk segi empat yang terbuat dari bambu. Sementara itu, para penabuh duduk melingkar di tengah kalangan.

Baru pada kisaran tahun 1980-an, ada penentuan lokasi penyelenggaraan Tari Seblang, yakni di sebuah tempat khusus yang merupakan tanah kas desa di Dusun Jagasari. Hingga tahun 1984 penyajian Tari Seblang kembali mengalami perubahan dengan memakai panggung.

Isu klasik tentang terseoknya dana panitia di setiap tahun penyelenggaraan tampaknya selalu berhembus. Hasil penjualan kembang dirmo dan pendapatan dari jasa parkir tampaknya kurang mampu mengatasi biaya penyelenggaraan ritual Seblang.

Hanya lantaran berdasarkan rasa tanggung jawab kepada leluhur, kesenian ritual Tari Seblang tetap terjaga kelestariannya hingga saat ini.  Setiap tahun para penduduk Bakungan dan Olehsari senantiasa bahu-membahu mengupayakan terselenggaranya acara ini.


Demikian artikel mengenai Tari Seblang Banyuwangi. Sebagai informasi tambahan, kesenian Seblang Banyuwangi bersama dengan upacara adat Tumpeng Sewu pada tahun 2014 yang lalu telah masuk dalam penetapan dalam daftar Warisan Budaya Nasional.

Referensi:

  1. http://jurnal.isi-ska.ac.id/index…
  2. https://kanal3.wordpress.com…

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *