Tari Sining Suku Gayo, Aceh – Tarian nan Sakral Bagian dari Prosesi Adat Gayo

Tari Sining. Kesenian merupakan unsur budaya yang dikatakan tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo, Aceh. Tari Saman, salah satu kesenian Suku Gayo, sangat dikenal oleh masyarakat dunia, mewakili ragam kesenian Indonesia.

Tari Guel dan Tari Bines adalah contoh lain tarian tradisional Suku Gayo. Meski demikian, di antara popularitas tarian-tarian itu, ada juga beberapa tari yang musti bersusah payah untuk mempertahankan eksistensinya. Tari Sining salah satunya dan artikel ini akan mencoba sedikit membahasnya.

Sining adalah tarian tradisional yang dalam sejarah keberadaannya dikaitkan dengan dua prosesi adat Gayo yang sakral. Pertama, ini adalah tarian yang menjadi bagian dari prosesi membangun rumah. Kedua, Sining adalah tarian pengiring upacara memandikan raja baru dalam proses pelantikannya.

Tari Sining dalam Prosesi Membangun Rumah

Dalam prakteknya, tarian Sining dibawakan laki-laki dewasa di atas papan kayu. Penari itu menari membawakan gerakan melingkar yang indah, seolah menggambarkan gerakan seperti yang diperagakan oleh burung wo. Putaran gerakan tersebut lebih dominan ke arah yang berlawanan dengan putaran bumi.

Tari Sining dilakukan di atas kayu lintang (Bere ni Umah) bagian dari bangunan rumah adat (umah naru). Bagian ini memiliki ketinggian antara 8-12 meter di atas permukaan tanah. Posisinya berada di bagian tiang lintang utama yang menghubungkan tiang-tiang yang ada pada bagian depan bangunan.

Sebelumnya, tarian ini juga dilakukan di atas dulang yang merapat ke tanah. Sekilas tarian ini mirip dengan Tari Guru Didong dan Tari Guel yang juga merupakan tari tradisional di daerah Gayo. Sebagai pembeda, Sining dalam hal ini lebih dikhususkan sebagai bagian dari prosesi pembangunan rumah baru.

Apa yang tersaji di dalam gerakannya termasuk juga kenapa ditarikan di atas ketinggian tertentu di atas tanah, secara simbolis mengandung makna dan filosofi mewakili kekuatan bangunan. Juga, mewakili keteduhan bagi pemilik atau penghuninya serta sebagai tempat berkumpulnya anggota keluarga.

Prosesi pembangunan rumah adat sendiri akan melalui beberapa tahap. Dimulai dari mencari dan memilih kayu hutan yang terbaik. Sebelum menebang pohon yang akan dijadikan reje tiang, sesepuh adat meminta izin kepada lingkungan hutan dan kayunya. Prosesi ini biasanya dilakukan menjelang siang.

Oleh sekumpulan lelaki dewasa, kayu yang sudah ditebang dibersihkan, diikat tali akar-akaran hutan untuk selanjutnya ditarik menuju lokasi pembangunan rumah. Saat penarikan kayu reje tiang itu, tidak jarang diiringi dengan nyanyian dan sorak-sorai.Juga, bebunyian canang oleh kaum wanita.

Tarian Sining yang dimaksud dalam prosesi pembangunan rumah adalah apa yang dilakukan oleh petua adat setelah pembangunan kerangka rumah telah selesai. Dengan beberapa pendamping, petua melakukan pemantauan keseimbangan bangunan, keseimbangan antar unsur kerangka bangunan dengan permukaan tanah, dll.

Pemantauan dimulai dari permukaan tanah. Lanjut di atas dulang hingga ke atas bangunan dengan gerakan yang menyerupai burung ketika membangun sarang. Berbagai pertimbangan mendasari setiap pengamatan dan teknik gerakannya, termasuk perhitungan arah terbit matahari, kiblat sholat, arah mata angin, dll.

Puncak pemantauan terjadi di atas bangunan, di atas bere atau kayu penghubung antar tiang dengan reje tiang. Gerak-gerik petua seolah menari, meloncat kecil dari satu sudut ke sudut lainnya sambil mengibas-ibaskan kain seperti kepakan saya burung yang mencari keseimbangan di ketinggian dahan.

Ia juga bergerak memutar berlawanan dengan jarum jam, menghentak, melompat dan lain sebagainya. Gerakan-gerakannya dinamis dan terlihat heroik. Tidak sembarang orang bisa melakukannya di atas bere. Sangat dibutuhkan konsentrasi dan keseimbangan yang tinggi serta penjiwaan karena berada di atas ketinggian

Tari Sining adalah apa yang dilakukan petua adat tersebut. Tarian ini sifatnya sakral dan kental dengan unsur mistis. Ketika melakukan gerakan-gerakannya, petua adat juga bergumam mengucapkan sesuatu, seolah beramanat kepada setiap komponen bangunan. Tidak jarang, ia juga berpuasa sebelum melakukannya.

Tarian Sining dalam Ritual Memandikan Raja

Tari Sining dalam prosesi adat pemandian raja, tidak hanya dilakukan ketika raja yang terpilih akan melaksanakan tugas menggantikan raja sebelumnya. Namun juga dilakukan setiap setahun sekali pada raja terpilih. Hal ini dilakukan sebagai simbol pembersihan atas segala kekhilafan di tahun sebelumnya.

Dalam prosesi ini Tari Sining dilakukan di tanah lapang atau di tempat yang berdekatan dengan sumber air, danau misalnya. Tarian Sining dalam upacara ini bukanlah tarian utuh, melainkan hanya unsur-unsurnya saja yang berkenaan dengan tari ini. Tarian yang utuh dinamakan tari “Turun Kowih/Turun Ku Lut“.

Referensi:

  1. kebudayaan.kemdikbud.go.id/di…
  2. img: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *