• sumber : www.youtube.com/watch?v=fCS7LnTtr6U

Tari Siwa Nata Raja – Tari Pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Kuasa

posted in: Bali, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Siwa Nata Raja menjadi gambaran puncak keagungan pada kesenian tari. Dalam hal ini, dalam perspektif hindu dimaknai sebagai kesenian yang ditujukan untuk pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Kuasa. Juga sebagai penggambaran manifestasi dari Siwa selaku penari tertinggi atau dewanya penari. Siwa terus dalam tariannya hingga terciptalah sebuah ritme dan keteraturan dalam alam semesta. Gerakannya berarti pancaran tenaga prima yang selanjutnya menyatu hingga terciptalah alam semesta ini.

Di Indonesia, tepatnya di Pulau Bali, Tari Siwa Nataraja adalah hasil karya dari N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang dibantu oleh I Nyoman Widha dalam hal penataan iringan tari. Tercipta sebagai sebuah tarian yang memadukan unsur Tradisional Bali dengan elemen BharataNatyam (Tari Tradisional India). Tari ini telah menjadi tari kebesaran STSI Denpasar yang ditarikan oleh Sembilan penari, dimana satu penari berperan sebagai Siwa dan lainnya berfungsi sebagai pancaran tenaga-tenaga prima dari Siwa.

Merujuk pada filosofi india, lebih detail mengenai Siwa Nata Raja dikatakan sebagai perwujudan dari Siwa sebagai penari kosmis yang sarat akan makna, simbolisasi, falsafah serta kaya akan kreativitas. Adapun dalam perspektif Agama Hindu di Bali, kesenian memiliki kedudukan yang sangat mendasar karena memiliki keterikatan kuat dengan Religiusitas Masyarakat Hindu Bali.

Berbagai ritual atau upacara selalu di identikan dengan kesenian, baik seni suara, tarian, karawitan, seni rupa dan sastra. Seni difungsikan sebagai pengungkapan rasa estetika, etika dan sikap keberagamaan mereka. Sang penari dengan tanpa pamrih mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti serta kerinduan pada Hyang Siwa atau Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Hyang Siwa dikatakan sebagai sumber dari kesenian. Adapun sang seniman akan berusaha menyatu dengan seni tersebut yang juga telah dipahami bahwa setiap insan yang hidup di dunia adalah percikan dari kesenian. Oleh karena itu Siwa Nata Raja dengan sendirinya telah bersemayam didalam setiap insan di dunia ini.

Dewa Siwa atau Siwa Nataraja sebagai Dewa tarian hadir dengan gerakan-gerakan mistis (mudra) sebagai upaya memutar dunia ini. Setiap gerakan tangan dan gerakan tubuhnya memiliki kekuatan, yang bisa dimaknai bahwa tarian ini tidaklah selalu difokuskan ada keindahan rupa. Tariannya merupakan perpaduan antara kekuatan Sekala (Nyata) dan Niskala (Tidak Nyata). Hanya sebagian saja dari gerakan mudra dapat dijumpai dalam Tarian Bali, meskipun begitu kekhasan Tari Bali beserta nilai artistik magis tetap kentara, hanya saja tidak sepenuhnya dalam bentuk mudra.

Sehubungan dengan hal itu, Seniman Bali lebih cenderung menjadi Seniman Karya yang tidak banyak berfilsafat dan lebih menonjolkan visualisasi tarian daripada mengejar filosofi dari karya seninya. Minimnya gerakan Mudra pada Tari Bali bisa jadi disebabkan oleh istilah Mudra yang dianggap sebagai sesuatu yang sangatlah sakral yang hanya diperuntukkan bagi para sulinggih atau orang suci umat hindu.

Bagi masyarakat Hindu Bali, konsep dan filosofi Siwa Nata Raja tidak saja perlu diketahui dan dipahami, tetapi juga dipakai sebagai landasan filsafat di dalam berkesenian. Hindu Bali yang Siwaistis, menempatkan Siwa sebagai Dewa tertinggi, Maha Kuasa, pencipta seni, dan sekaligus sebagai tujuan dari kreatifitas seni.

Visualisasi populer dari Siwa adalah Lingga-Yoni. Bentuk antromorfik dari Siwa dapat digambarkan menjadi dua bentuk, yaitu pertama aspek Ugra atau Ghora artinya menyeramkan, kedua aspek Somya artinya damai. Lingga-Yoni melahirkan aspek Siwa dan Sakti.

Dari Siwa, segala bentuk seni di dunia ini berkembang, oleh karena itu Siwa dipuja oleh para seniman. Dewa Siwa yang pertama kali melahirkan seni tersebut. Sebagai pencipta tarian, Siwa berwujud Nrtyamurti. Siwa juga mengajarkan kesenian kepada Dewa-Dewa dan umat manusia. Siwa juga disebut Adi Guru atau guru pertama kesenian. Siwa juga sebagai guru yoga, musik, dan jnana (ilmu pengetahuan).

Siwa dalam wujud Siwa Nata Raja adalah Siwa dalam postur menari. Gerakannya sangat indah, ritmis dan eksostis mistik yang menggetarkan siapa saja yang menyaksikannya. Gerakannya dalam ritmis tersebut sangat harmonis dan melahirkan keindahan. Gerakan dalam Siwa Nata Raja adalah juga merupakan simbolisasi dari Panca Aksara. Panca Aksara membentuk tubuh Siwa.

Tangan yang memegang api adalah Na, kaki yang menindih raksasa adalah Ma, tangan yang memegang kendang adalah Si, tangan kanan dan kiri yang bergerak adalah Wa, tangan yang memperlihatkan abhaya mudra adalah Ya. Panca Aksara adalah kekuatan yang dapat menghapus noda dan dosa. Si Wa Ya Na Ma, adalah mantra. Si mencerminkan Tuhan, Wa adalah anugerah, Ya adalah jiwa, Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan, Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa.

Tarian Siwa melambangkan pergerakan dunia spirit. Dalam tarian tersebut, semua kekuatan jahat dan kegelapan menjadi sirna. Tujuan Siwa menari adalah untuk kesejahteraan dan keselamatan alam semesta, membebaskan roh dari belenggu mala. Siwa bukanlah sebagai penghancur tetapi sebagai regenerator (proses regenerasi). Siwa adalah sebagai Manggala data atau pemberi kesucian, dan Ananda Data yakni sebagai pemberi kebahagiaan. Siwa menciptakan alam semesta dengan cara menari.

Secara konseptual Siwa Nata Raja sebagai wujud nyata diterapkan dalam aktivitas keagamaan di Bali yang selanjutnya mengalir menjadi bentuk-bentuk kesenian. Gerakan tangan atau mudra tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan-gerakan anggota badan. Pada upacara yadnya terdengar weda mantra sang sulinggih, suara genta, kidung-kekawin atau nyanyian sakral.

Tidak terkecuali gamelan atau musik, tarian, banten atau sesajen yang ditata indah pada dasarnya perwujudan rasa seni yang dipersembahkan kepada Tuhan. Salah satu dari pertunjukan seni dalam rangka pemujaan kehadapan Dewa Siwa adalah pertunjukan seni Wayang Sapu Leger yaitu suatu paduan yang harmonis antara seni pertunjukan dengan filsafat ketuhanan.

Tari Siwa Nata Raja adalah upaya pencarian kebenaran, kesucian, keharmonisan, melalui berkesenian (satyam, siwam, sundaram). Berkesenian di dalam kaitannya dengan Hindu di Bali adalah sebuah langkah pemujaan untuk menyatu dengan pencipta seni itu sendiri yakni Dewa Siwa. Berkesenian adalah sebuah upaya mencari kepuasan bhatin, mencari kesenangan, mencari keseimbangan, mencari pembebasan dalam penyatuan dengan sang pencipta sebagai sumber dari seni itu sendiri yakni Sang Hyang Siwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *