• sumber : worldartswest.org

Topeng Telek, Bali – Antara Jauk, Topeng Penamprat, Barong & Rangda

posted in: Bali, Drama, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Telek adalah salah satu dari ragam tarian Bali yang menggunakan properti topeng selain Dramatari Topeng, Barong dan Rangda, Brutuk, serta Wayang Wong. Hingga saat ini Tari Topeng Telek tetap dipentaskan secara teratur oleh banjar-banjar di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai.

Dikatakan bahwa Topeng Telek adalah tarian sakral (Tari Wali) warisan leluhur yang pantang tidak dipentaskan. Sangat diyakini pementasan tari ini adalah sarana untuk “meminang” keselamatan dunia, khususnya bagi banjar atau desa adat masyarakat pendukungnya. Diyakini juga oleh mereka apabila tidak mementaskan Telek sama halnya dengan mengundang beragam jenis marabahaya.

Keyakinan tersebutlah yang turut menjadikan Tari Telek tetap lestari hingga saat ini. Bahkan demi menjaga tetamian (warisan) leluhur ini, seluruh pakem pada pementasan Tari Telek tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Adapun mengenai waktu pementasan, masing-masing banjar memiliki aturan tersendiri. Ada yang dua kali dalam setahun, ada juga yang dilakukan rutin lima belas hari sekali.

Sejarah Tari Telek

Mengingat kurangnya data, hingga saat ini asal usul Tari Topeng Telek belum diketahui secara pasti. Sejauh ini hanyalah Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai yang telah diketahui sejarah penciptaannya, meski informasi ini masih harus dibandingkan dengan sumber-sumber literatur lain yang ada kaitannya dengan Tari telek Bali secara umum.

Sejarah Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai sendiri bermula dari ditemukannya kayu yang sudah berbentuk calonan (belum berwujud) Rangda oleh I Sweca atau Ning Turun di pantai. Dikisahkan, Ning Turun membawa kayu tersebut disertai dengan pahat dan temutik (pisau peraut kayu) saat menggembala sapi. Oleh karena cuaca yang sangat panas, ia pun berteduh di Pura Dalem Kekeran.

Ia masih tersadar ketika mendengar suara “tempe kai” (tirulah aku) dibarengi datangnya bayangan berwujud Rangda. Dengan bersegera ia pun meniru bayangan tersebut, hanya saja tiba-tiba bayangan itu menghilang ketika masih terbentuk wajah tanpa telinga. Dari sini kemudian perwujudan Rangda hingga saat ini tidak ada telinganya.

Tapel atau topeng buatan Nang Turun ternyata terlalu besar dan mengandung unsur magis yang besar pula. Ketika dipentaskan, aura magis yang besar membuat roboh pagar-pagar rumah masyarakat yang ada disekitaran pentas. Selanjutnya atas petunjuk dari orang yang kerawuhan, maka dibuatlah topeng baru dengan terlebih dahulu meminta ijin pada penunggu pohon pule di sentra Akah dengan membawa sesajen.

Jauh sebelum itu pada suatu masa Desa Jumpai pernah terkena wabah penyakit yang menyebabkan turunnya jumlah penduduk yang semula 800 menjadi 300 orang. Penurunan jumlah penduduk tersebut selain karena meninggal juga ada yang mengungsi ke Badung, Seseh dan Semawang. Akibatnya banjar menciut dari yang semula 5 banjar tinggal hanya 2 banjar saja yang tersisa.

Kejadian itu dinilai masyarakat disebabkan oleh daya magis yang ditimbulkan dari Rangda, Barong dan Telek yang setiap masolah menggunakan tapel buatan Nang Turun. Mereka pun berinisiatif untuk menghanyutkan kembali tapel itu ke pantai, sayangnya tapel-tapel itu kembali lagi secara ghaib ke pinggiran pantai yang akhirnya ditemukan lagi oleh masyarakat.

Dari peristiwa itu, masyarakat Desa Jumpai menyakini bahwa tapel-tapel tersebut memang diberikan khusus untuk Desa Jumpai yang kemudian disimpan di Pura Dalem Penyimpenan hingga saat ini. Karena daya magis yang terlampau besar, maka melalui kesepakatan para tetua Desa Jumpai dibuatlah tapel baru dengan fungsi yang sama yakni menghindarkan Desa Jumpai dari wabah penyakit.

Topeng-topeng yang dimaksud dibuat oleh Kaki Patik bersama dengan Tjokorda Puri Satria Kanginan. Sementara itu, upacara pamlaspas di gelar di Desa Akah dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Griya Batu Aji yang berasal dari Puri Satria. Pada saat itu juga, selesailah pembuatan tapel Barong, Rangda dan Telek secara bersamaan termasuk di Desa Akah dan Desa Muncan dengan warna tapel yang khas di masing masing desa. Topeng di Desa Jumpai diberi warna merah, di Desa Akah berwarna putih dan di Desa Muncan berwarna hitam. Dari sini juga, kemudian Bhatara Gde Desa Akah dan Desa Jumpai dianggap mesemeton (bersaudara).

Meskipun pada uraian diatas tidak disebutkan kepastian waktu terjadinya, setidaknya telah ada gambaran tentang proses keberadaan Telek. Sementara ini, hanya disebutkan bahwa Tari Telek termasuk juga Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai sudah ada begitu saja dan telah berlangsung turun-temurun. Apabila merujuk pada pendapat I Wayan Marpa, dikatakan Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai telah berkembang sejak kisaran tahun 1935 hingga sekarang.

Pelaksanaan Tari Telek

Tari Topeng Telek di Banjar Adat Gelgel dipentaskan dua kali setahun, tepatnya pada Buda Umanis Perangbakat (wali Ida Batara di Pura Dalem Guru, Pancoran) dan pada Buda Kliwon Paang (wali Ida Batara Gede). Pementasan keduanya dilakukan di jaba sisi Pura Dalem Guru. Dalam hal ini, seluruh warga dipastikan menyaksikan serta memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sementara itu, Tari Telek di Desa Jumpai diadakan lebih sering tepatnya setiap rahinan Kajeng Kliwon atau lima belas hari sekali. Dipentaskan juga bersama upacara piodalan di Pura Penataran Dalem Cangkring, Pura Taman Sari dan Pura Dalem Katulampa. Jadi, Tari Topeng Telek di Desa Jumpai dipentaskan setidaknya 27 kali disetiap tahunnya.

Dalam pementasannya, umumnya Tari Telek dibawakan oleh empat penari pria, namun terkadang ada juga ditarikan oleh perempuan. Di Desa Jumpai, semua penari dipastikan masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik). Oleh karena banjar di desa ini terbagi menjadi dua, Banjar Kangin dan Banjar Kawan. Jadi, kedua banjar secara bergiliran mementaskan tari ini.

Keempat penari membawakan Tari Telek dengan menggunakan topeng berwarna putih berkarakter wajah tampan nan lembut dengan diiringi Tabuh Bebarongan. Tari ini dipentaskan tidak berdiri sendiri, namun dirangkai dengan Tari Jauk, Tari Topeng Penamprat, Bhatara Gede (Barong), Rarung dan Bhatara Lingsir (Rangda).

Selama kurang lebih dua jam, seluruh unsur tarian berpadu membangun satu kesatuan cerita yang utuh. Cerita yang digunakan berkisar tentang Bhatara Ciwa yang mencoba menguji keteguhan cinta sang istrinya yakni Bhatari Giri Putri. Sebagai puncaknya, di akhir pertunjukan akan diwarnai dengan atraksi menusukkan keris ke dada yang bersangkutan maupun ke dada Bhatara Lingsir atau Rangda.

Apabila pembaca menghendaki informasi lebih detail mengenai Tari Topeng Telek, silahkan merujuk pada tautan referensi yang telah penulis sediakan dibawah artikel ini. Melalui tautan-tautan tersebut, bisa Anda temukan info lebih lengkap termasuk fungsi, motif gerakan, struktur dan pola lantai, serta tata busana yang digunakan dalam pementasan Tari Telek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *