Topeng Klana Udeng – Tarian Topeng Cirebon Gaya Indramayu, Jawa Barat

Topeng Klana Udeng. Dalam Tarian Topeng Cirebon lazim dikenal istilah Panca Wanda atau lima rupa untuk mengkategorikan karakter topengnya sebagai perwakilan watak manusia. Topeng-topeng yang dimaksud adalah Topeng Klana, Topeng Tumenggung, Topeng Rumyang, Topeng Samba, dan Topeng Panji.

Masing-masing topeng dalam Panca Wanda tidak menutup kemungkinan untuk berkembang sesuai dengan gaya tarian. Seperti diketahui Topeng Cirebon memiliki sejumlah gaya tari dari desa-desa asli yang melahirkan tari topeng atau yang menciptakan gaya baru yang secara adat diakui berbeda dengan gaya lainnya.

Di antara gaya tarian topeng, salah satunya tersebar di sekitar wilayah Indramayu. Di daerah inilah lahir varian dari salah satu topeng Panca Wanda, yakni Topeng Klana yang diberi nama Topeng Klana Udeng. Dinamakan seperti itu karena di bagian kostum hiasan kepala penarinya mengenakan udeng atau ikat kepala.


Keunikan Gerak Tari Topeng Klana Udeng

Tarian Klana Udeng menjadi sangat terkenal setelah Rasinah atau yang juga akrab dipanggil Mimi Rasinah menarikannya di berbagai pertunjukan. Tidak hanya di Indramayu, maestro tari Topeng Cirebon kelahiran Indramayu tersebut juga menarikannya di berbagai daerah lain serta dalam pementasan tari di luar negeri.

Selain penggunaan udeng sebagai hiasan kepalanya, tarian Topeng Klana Udeng unik dengan gerakan khas yang tidak dimiliki tari Topeng Klana lainnya, yakni gerakan memutar kepala 360 derajat diikuti oleh gerakan tubuh. Butuh keahlian khusus untuk menarikannya, bahkan penari lihai pun belum tentu mampu mempraktekannya.

Gaya memutar yang membutuhkan keseimbangan penuh itu mirip tarian sufi, memutar ke depan dan ke belakang bahkan mirip kayang. Tak kenal pusing atau jatuh karena penari memiliki kesadaran dan kekhusyuan sepenuh jiwa raga. Untuk karakter topeng sama dengan Klana biasa; marah, mabuk, murka, nafsu tak terkendali.

Penyajianlah yang menonjol membedakan Topeng Klana Udeng dengan Klana biasa. Penyajian gerak Klana Udeng ditarikan secara komikal, terkadang menirukan orang mabuk bahkan melucu. Gerakannya juga cenderung mirip gerak orang yang kaki, tangan, dan kepalanya lemas. Dalam pertunjukan Topeng Cirebon, tarian ini biasanya disajikan di akhir.

Menurut Rasinah, Klana Udeng mengisahkan kesiapan Rahwana ketika maju perang. Karakter ini juga diceritakan di golek cepak dari Sunda. Tentang Raja Blambangan dan Panji yang sama-sama ingin melamar Dewi Sekar Taji. Sehingga mereka harus bertarung memperebutkannya. Tarian ini adalah gambaran Raja Blambangan yang kalah dalam bertarung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *