• sumber : youtu.be/g562D1r9zmI

Tari Ula-Ula Lembing, Aceh – Tari Tradisional Khas Budaya Aceh Tamiang

posted in: Aceh, Seni dan Budaya, Sumatera, Tari | 0

Tari Ula-Ula Lembing. Kabupaten Aceh Tamiang merupakan satu-satunya wilayah di Aceh yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengan Aceh pada umumnya. Lebih cenderung serupa dengan budaya Melayu, namun unik karena mengalami akulturasi dengan budaya Aceh.

Selain bahasanya yang khas, masyarakat Aceh Tamiang juga memiliki beberapa kesenian yang mewakili keunikan budaya mereka. Satu diantaranya adalah Tari Ula-Ula Lembing, tarian tradisional yang sering kali disajikan untuk mengiringi pesta-pesta pernikahan adat budaya Aceh Tamiang.

Tari Ula-Ula Lembing merupakan tarian pesisir laut Tamiang. Tersebut sebuah legenda cinta yang mengawali sejarah kesenian ini. Kisah cinta seorang pangeran yang terhalang restu orang tua dan rakyatnya. Tidak direstui, lantaran sang idaman hati hanyalah seorang gadis keturunan rakyat biasa.

Karena cinta yang sudah sedemikian kuat, sang pangeran menempuh beragam cara hanya untuk bisa bertemu dengan gadisnya, termasuk berubah menjadi seekor ular. Menelusuri pesisir pantai, diterjang ombak untuk bisa sampai di tepian sungai, tempat berada sang pujaan hati yang diyakininya.

Melalui cerita tersebut, tarian ini mencoba menggambarkan tentang sebuah perjuangan yang musti ditempuh seorang pemuda dalam mengejar cita-citanya. Gambaran kuatnya tekad, meski harus menghadapi tantangan dan rintangan demi mendapatkan kekasih idaman hatinya.


Penyajian Tari Ula-Ula Lembing

Ula-Ula Lembing merupakan tari drama bermusik yang disajikan dengan diiringi lirik-lirik atau lagu-lagu berbahasa Aceh Tamiang. Seperti sekilas diisyaratkan oleh namanya, tarian ini mewakili kelincahan seekor ular. Adapun lembing (tombak) melambangkan ketangkasan.

Kelincahan dan ketangkasan tersebut tergambarkan melalui rangkaian gerak tari. Dimulai dengan acara penghormatan, kemudian penari membawakan gerak salam. Gerakan lain, diantaranya Gerak Niti Batang, Tunda-Tunda Benting, Pungku-Pungku Batang, Endang-Endang Bincah dan Gerakan Silat.

Sebagai kesenian yang berfungsi hiburan, dalam prakteknya Tari Ula-Ula Lembing bisa ditarikan oleh penari laki-laki maupun penari perempuan. Jumlah penari biasanya tujuh orang atau lebih yang semuanya menggunakan busana atau ragam hias khas adat Aceh Tamiang.

Dulu tari ini sering dipentaskan pada acara penyambutan tamu agung atau pada pesta pernikahan adat Aceh Tamiang. Sayangnya, seiring banyaknya hiburan modern serta kurangnya sosialisasi, perlahan tapi pasti tarian ini mulai ditinggalkan masyarakat pendukungnya.

  • 6
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *