• sumber latar belakang : gateofjava.wordpress.com

Tari Yogyakarta – Sekilas Sejarah & Ragam Beksan Mataraman

Tari Yogyakarta. Sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, Yogyakarta hadir sebagai suatu wilayah yang sangat kaya akan kesenian. Keberadaan Keraton Yogyakarta yang tetap lestari, turut menghadirkan berbagai kekayaan budaya adiluhung bernilai seni yang tinggi, terlebih dalam hal seni tari.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta atau bisa juga disebut Gaya Mataraman telah berkembang seiring perjalanan dan telah ada sejak Keraton Yogyakarta berdiri. Umumnya, Joged Mataraman atau Tari Yogyakarta sangatlah sarat dengan nilai historis, sosiologis, politis serta muatan-muatan pendidikan.

Secara umum, beksan Mataraman memiliki aturan baku yang khas. Dalam tataran teknis, dikenal empat kriteria seperti sawiji, greget, sengguh dan mingkuh. Tentunya, untuk memahami sisi filosofis secara utuh dibutuhkan proses atau tahapan dalam bentuk latihan terus-menerus

Sejarah Tari Yogyakarta

Perihal sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta, bisa dimulai dari Perjanjian Giyanti dan Jatisari. Perjanjian Giyanti yang terjadi pada tahun 1755 menjadi saksi dimana Keraton Mataram terbagi menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya, dilakukan lagi Perjanjian Jatisari pada tahun 1756. Dalam perjanjian ini telah ditentukan masa depan masing-masing kerajaan, terlebih dalam hal meneruskan warisan budaya Mataram.

Singkatnya, Kasunanan Surakarta lebih cenderung untuk mengembangkan apa yang sudah ada. Sementara itu, Kasultanan Yogyakarta memilih melestarikan tradisi yang ada, khususnya tari klasik. Sejak saat itu, dari Keraton Yogyakarta lahirlah beberapa karya tari monumental seperti Lawung dan Bedhaya khas Yogyakarta. Tersebutlah istilah Tari Klasik Gaya Yogyakarta.

Selanjutnya, perkembangan Tari Klasik Gaya Yogyakarta mencapai puncaknya pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Saat itu, Wayang Wong adalah sebuah karya monumental yang sekaligus menjadi simbol legitimasi raja. Dikatakan juga, Wayang Wong telah menginspirasi lahirnya beksan-beksan (tari) lepas dengan mengambil ide dari tokoh kesenian tersebut.

Melalui kesenian Wayang Wong, terciptalah berbagai bentuk koreografi, baik tari tunggal dan pasangan. Sebagai misal tari tunggal adalah Klana Alus dan Klana Raja, sementara untuk tari berpasangan kita bisa mendapati Tari Srikandi Suradewati dan Anila Prahasta.

Ragam Tari Yogyakarta

Berikut ini adalah daftar Tari Yogyakarta yang telah saya tulis dalam blog ini. Klik “Selengkapnya” untuk melihat detail masing-masing tari, termasuk sejarah, motif gerak, pola lantai, iringan dll. Klik Scroll untuk buka di tab baru agar tidak meninggalkan halaman ini.



Demikian informasi mengenai Tari Yogyakarta. Sebagai catatan, artikel ini dan semua artikel yang berkaitan dengan Tari Klasik Yogyakarta adalah dirangkum dari berbagai sumber, termasuk buku dan internet. Mohon kebijaksanaannya untuk mencari pendamping rujukan dari sumber lain untuk memperkaya pengetahuan Anda.

Terima kasih telah berkunjung. Jika menurut Panjenengan artikel ini bermanfaat, mohon kiranya untuk berkenan membagikan artikel ini ke media sosial melalui tombol berbagi dibawah artikel ini. Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar melalui kolom yang kami sediakan. Terima kasih dan semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *