• sumber : riauberbagi.blogspot.com

Tari Zapin – Sebuah Kesenian Penyerta Penyebaran Islam di Nusantara

Tari Zapin. Seiring dengan masuknya Agama Islam di Nusantara, pengaruh kebudayaan Islam pun turut mewarnai ragam budaya masyarakatnya. Akulturasi budaya tersebut, kemudian melahirkan beberapa kesenian yang sangat kentara dengan nuansa keIslaman. Sebagai misal adalah Tari Zapin yang merupakan khasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh Arab. Secara jelas, asal-usul tarian ini terkait erat hubungannya dengan penyebaran Islam di pesisir Nusantara.

Dalam Tari Zapin, terlihat sangat kuat ekspresi peradaban Islam. Konsep estetika geraknya banyak didasarkan pada nama bernuansakan Islam, termasuk gerak-gerak simbolik seperti alif, mim dan ba. Gerakan tersebut, selain diambil dari abjad bahasa Arab juga merupakan simbol-simbol dalam tradisi Sufi di kawasan pendukung tarian ini. Istilah Zapin sendiri berasal dari bahasa Arab yakni “Zafn” yang berarti gerak kaki cepat senada rentak pukulan.

Bisa dikatakan bahwa Zapin adalah salah satu seni Islam yang mewujudkan konsep-konsep ajaran Islam. Oleh karena itu, didalam Zapin terkandung nilai-nilai, filsafat, etika, estetika atau semua hal yang terkait dengan seni Islam. Untuk pertama kalinya, tari ini disebarkan oleh orang-orang Arab yang beragama Islam. Mereka membawa serta kebudayaannya ke daerah-daerah yang dipengaruhi Melayu.

Seperti umumnya kesenian tradisional, seiring perkembangan Tari Zapin juga mengalami beberapa perubahan penyajian dan bentuknya sejalan dengan kreativitas kesenian dari masa ke masa. Sebagai misal, jika pada awalnya Tari Zapin dimonopoli oleh kaum laki-laki, saat ini juga ditarikan oleh penari wanita. Bahkan dibeberapa keadaan, tari ini juga ditarikan bersama antara lelaki dan wanita secara berpasangan.

Sejarah Perkembangan Tari Zapin

Sebelum masuk ke Nusantara, istilah Zapin sudah lama dikenal dan dikaitkan dengan kisah kegirangan Ali bin Abi Thalib ra. Sehubungan dengan ini, Zapin berasal dari kosa kata Arab “Zafn” yang berarti pergerakan kaki cepat mengikuti rentak pukulan. Dalam prakteknya, Tari Zapin sendiri memiliki kekuatan utama pada pergerakan kaki mengikuti irama musik.

“Istilah Zapin muncul pada sekitar abad ke-6 M, ketika terjadi peperangan dengan orang-orang kafir Mekah, di mana pada waktu itu puteri Saidina Hamzah ingin ikut Nabi Muhammad untuk hijrah ke Madinah, namun Nabi Muhammad menolaknya, sehingga terjadi perdebatan, namun tak lama kemudian Nabi menunjuk Saidina Ali untuk menjadi wali pengasuh puteri Saidina Hamzah, yang kemudian Saidina Ali dengan girangnya menari dengan mengangkat kaki” (dalam Md. Nor, 2000: 84: 85; Basarshah 2010: 14; dan Husein 2011: 50).

Untuk diketahui, kerajaan-kerajaan Melayu hampir seluruhnya terletak di tepi sungai atau tepi laut, sementara orang Melayu sendiri adalah ahli berdagang. Hal ini memungkinkan kebudayaan Melayu terbuka terhadap pengaruh dari luar. Tari Zapin adalah salah satu contoh seni pertunjukan yang berkembang menjadi kesenian Melayu. Selain di Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand, kesenian ini juga dikenal di Nusantara Indonesia. Tersebar mulai dari Sumatera, Kepulauan Riau, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku.

Dalam sejarahnya, Tari Zapin terkait erat dengan penyebaran Islam di pesisir Nusantara pada kisaran abad ke-13 dan 14. Zapin bersama dengan kesenian Arab lain, seperti Rodat dan Hadrah diperkenalkan oleh para saudagar Arab yang sekaligus pendakwah Islam. Di masa awal, Zapin hanyalah sebuah hiburan untuk mengungkapkan rasa gembira. Dengan iringan musik khas Arab, Marawis dan Gambus, tarian ini dibawakan dengan gerakan yang didominasi kecepatan jejak dan Langkah kaki.

Di Nusantara Indonesia sendiri, tari ini bermula dari hiburan bagi lingkungan keturunan Arab untuk kemudian masuk ke lingkungan kerajaan. Melalui persilangan dengan budaya lokal, kemudian dikenallah penggolongan tari Zapin, Zapin Arab dan Zapin Melayu. Zapin Arab merupakan tradisi tari eksklusif di kelompok warga keturunan Arab. Sementara itu, Zapin Melayu adalah tarian yang berkembang di kalangan kaum Melayu, terutama di lingkungan kerajaan.

Selain berniaga, sebagian orang Arab juga ada yang menjadi guru agama bagi kaum kerabat kerajaan. Di kerajaan Siak Sri Indrapura, awalnya kesenian ini hanya dijadikan hiburan selepas mengaji agama, akhirnya tari dan musik Zapin berkembang menjadi hiburan di kalangan istana. Istilah Zapin Istana pun dikenal karena tarian ini juga dibawakan dalam acara seremonial kerajaan. Di masa keemasan Kesultanan Siak Indrapura, Zapin dibina dan dipelihara sebagai satu bentuk kesenian dengan kaidah-kaidah yang luhur dan santun.

Tidak hanya berkembang pesat dilingkup istana, Tari Zapin juga di kalangan masyarakat Melayu dengan ragam dan gerak yang khas. Kesenian ini pun lestari berkat pemeliharaan yang baik sebagai kesenian istana maupun sebagai kesenian masyarakat. Namun apa yang tumbuh di masyarakat tentu berbeda dengan yang ada di istana yang diatur dari segi adat, estetika, etika dan simbol serta secara keseluruhan disesuaikan dengan tatacara atau adat dalam istana.

Dengan demikian, seiring penyebaran agama Islam di daerah-daerah yang dipengaruhi Melayu, Zapin pun tertinggal dan mengalami proses akulturasi dengan budaya di daerah-daerah tersebut. Seiring perkembangannya, Zapin tumbuh dan menyebar di sebagian besar daerah Riau, terutama di daerah pantai (Kepulauan Riau). Selain itu, tari ini juga tersebar di bekas pusat-pusat pemerintahan kerajaan Melayu seperti di Siak Sri Indrapura, Pulau Penyengat, Daek Tembelan dan pulau-pulau disekitar laut Cina Selatan.

Dalam perjalanan sejarahnya, penyebaran Zapin meluas melintasi daerah dan negara. Hal ini turut memungkinkan adanya perubahan-perubahan hingga tercipta ragam-ragam dan gerak yang khas yang disesuaikan dengan citarasa masing-masing daerah. Selain itu, Zapin yang dulunya hanya dibawakan oleh kaum lelaki, sejak kisaran tahun 1960-an sudah mulai dimainkan oleh remaja putri. Bahkan ada juga yang melibatkan penari laki-laki dan wanita secara berpasangan.

Sejalan dengan perkembangan Agama Islam, Tari Zapin pun menyebar hampir di seluruh pesisir Nusantara. Tarian ini bisa ditemukan di Sumatra Utara, Riau dan Kepulauannya, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung. Ada pula di Jakarta, pesisir utara – timur dan selatan Jawa, Nagara, Mataram, Sumbawa, Maumere, pesisir Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Tengah, Gorontalo, Ternate, dan Ambon. Sedangkan di negara tetangga terdapat di Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.

Di sebagian tempat, Tari Zapin juga dikenal dengan nama berbeda. Umumnya sebutan Zapin lebih populer di Riau dan Sumatra Utara. Orang Jambi, Sumatra Selatan, dan Bengkulu menyebutnya sebagai Dana, di Lampung disebut Bedana dan di Jawa disebut Zafin. Sementara itu, di Kalimantan dikenal dengan nama Jepin, di Sulawesi disebut Jippeng, di Maluku lebih akrab disebut Jepen dan di Nusa Tenggara dikenal sebagai Dana-Dani.

Pertunjukan Tari Zapin

Sebagai tari persembahan, dalam pelaksanaannya Tari Zapin terbagi dalam 3 peringkat. Pertama adalah pembuka tari, kedua adalah pecahan atau gerak serta lenggang tari, dan yang terakhir adalah penutup tarian. Tarian ini menumpukan pada langkahan dengan posisi kaki tertutup tidak merendah. Posisi badan umumnya bergerak seperti ombak mengalun, sementara posisi tangan kanan dan kiri terlihat jelas berada dibawah bahu.

Dalam tarian Melayu dikenal istilah rentak, yaitu motif irama (musik) tertentu yang mendasari motif gerak tertentu (Dewan Kesenian Jakarta, 1978: 99).

Rentaklah yang membangun suasana dan identitas tari Melayu. Rentak yang dikenal antara lain rentak Zapin, rentak Joget, rentak Ghazal, rentak Melayu, rentak Mak Inang, rentak Nobat, dan sebagainya. Semua rentak di atas masih dapat dibagi dalam tiga garis besar, yaitu rentak cepat, rentak sedang, dan rentak lambat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, t.t.: 124)

Ragam Gerak Tari Zapin

Dalam tarian Zapin, baik penari laki-laki maupun perempuan memiliki gerakan yang sama, yang membedakan hanyalah pada gerak tangan saja. Pola tari sangatlah sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang. Gerakan tari mendapatkan inspirasi dari kegiatan manusia dan alam lingkungan. Misalnya, Titi Batang, Anak Ayam Patah, Siku Keluang, Sut Patin, Pusing Tengah, Alif dan sebagainya. Berikut ini adalah sebagian dari gerakan Tari Zapin :

  1. Tahto 1 : Gerakan dengan maksud sikap rendah diri dan menghargai yang biasa ditampilkan pada permulaan tari. Gerak ini dilakukan sebanyak dua kali di awal dan di akhir dengan dilakukan sebanyak 8 hitungan per 1 kali.
  2. Tahto 2 : Juga dimaksudkan sebagai sikap rendah diri yang dilakukan setelah gerak Tahto 1. Dilakukan dengan 8 hitungan per 1 kali, sebanyak dua kali diawal dan diakhir gerakan Tahto 1.
  3. Tahto 3 : Masih sama sebagai sikap rendah diri dan menghargai dan dilakukan setelah gerak Tahto 2. Dilakukan dengan 8 hitungan per 1 kali, sebanyak 1 kali diawal dan diakhir gerakan Tahto 2.
  4. Bebas : Gerak yang selalu ditampilkan, dilakukan diantara gerak-gerak lainnya. Terkadang sebanyak 1 kali, kadang juga dilakukan 1 kali sebanyak 8 hitungan per 1 kali.
  5. Shut : Dimaksudkan sebagai sikapadil dan sabar dengan keseimbangan. Dilakukan setelah gerak bebas yang sebelumnya adalah gerak Tahto 3. Dilakukan 2 kali, shut maju dan shut mundur dengan 16 hitungan per 1 kali.
  6. Siku Keluang : Mewakili dinamisnya kehidupan. Dilakukan sebanyak 2 kali setelah gerak bebas yang sebelumnya didahului gerak Shut maju dan mundur. 16 hitungan per 1 kali.
  7. Mata Angin : Dilakukan setelah gerak bebas 1 kali setelah sebelumnya didahului gerak Siku Keluang. Sebanyak 1 kali dalam 16 hitungan.
  8. Titik Batang : Mewakili keteguhan hati dan ketrampilan dalam menghadapi cobaan. Dilakukan sebanyak 2 kali setelah gerak bebas yang sebelumnya didahului gerak Mata Angin. Dilakukan 2 kali maju dan mundur yang keduanya dipisahkan oleh 1 kali gerak bebas. 16 hitungan per 1 kali.

Tata Rias dan Busana Tari Zapin

Para penari Zapin dirias dedemikian rupa agar terlihat menarik, cantik dan tampan. Dalam hal tata busana, penari pria mengenakan pakaian adat Melayu yang terdiri dari atasan baju kurung, cekak musang, bawahan seluar, plekat, kopiah, songket dan bros.

Adapun penari wanitanya memakai baju kurung labuh, kain songket, selendang tudung manto, kain samping, anting-anting, kalung, hiasan kembang goyang, sanggul lipat pandan dan conget. Semua busana umumnya berwarna cerah, seperti merah, kuning, hijau, atau biru.

Busana para penari sengaja didesain bernuansa islami. Dalam fungsinya untuk menutupi tubuh, memperjelas garis-garis ruang gerak, mempertegas identitas tari, tidak menggaggu gerak, serta memperjelas garis-garis ruang gerak, busana Tari Zapin mampu menimbulkan estetika yang tinggi.

Pakaiannya saja sudah menimbulkan suatu norma kesopanan didalam berpakaian yang diharapkan menjadi acuan masyarakat dan menjadi aturan khusus sejalan dengan adat istiadat yang berlaku.

Musik dan Syair Pengiring Tari Zapin

Elemen pengiring dalam tarian Zapin ada dua, alat musik dan syair Melayu. Syair-syair yang dibawakan umumnya mengandung pesan moral.

Khusus untuk jenis Zapin yang berasal dari budaya Arab (Zapin Arab) ada 2 alat musik yang digunakan, yakni marawas dan gambus. Sementara Tari Zapin Melayu sering ditampilkan dengan iringan beberapa alat musik, seperti gambus, akordeon, rebana, gendang, gitar, dan marwas.

Untuk syairnya, Tari Zapin umumnya diiringi lagu-lagu yang diciptakan oleh Tengku Mansor seperti Lagu Ya Salam, Gambus Palembang, Tanjung Serindit, Sri Pekan, Yale-Yale, Lancang Kuning, dan Lancang Daik. Sebelum lagu-lagu tersebut diciptakan, dahulu syair tarian ini meliputi Pulut Hitam, Nasib Lancang Kuning, Bismillah, Lancing Balai, Anak Ayam Patah, Sanaah, Saying Sarawak, Zapin Asli, Gendang Rebana, dan lain lain.

Artikel mengenai Tarian Zapin ini ditulis berdasarkan beberapa sumber. Untuk pengetahuan yang lebih baik, setelah membaca artikel ini Anda bisa melanjutkan membaca referensinya melalui tautan yang telah disediakan dibawah. Atau bisa juga dengan mencari sumber lain sehubungan dengan tarian ini. Apabila artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan melalui ke media sosial melalui tombol berbagi yang telah tersedia. Terima Kasih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *