• sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Zapin Penyengat – Energik, Mewakili Masyarakat Yang Gemar Bekerja

Tari Zapin Penyengat merupakan varian dari Zapin, tarian Melayu yang erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di pesisir Nusantara. Oleh karena itu, ekspresi peradaban Islam sangatlah kuat dalam tarian ini. Penyebaran Tari Zapin yang meluas melintasi daerah dan negara, turut memungkinkan terjadinya banyak perubahan pada ragam dan gerak yang disesuaikan dengan citarasa masing-masing daerah, salah satunya adalah Zapin di Pulau Penyengat.

Seperti umumnya Tari Zapin, Zapin Penyengat tetap merupakan tarian yang lebih menonjolkan gerakan dan langkah kaki. Dalam hal ini, Tari Zapin Penyengat menjadi unik karena menghadirkan gerakan yang cenderung lebih energik, volume gerak kaki yang lebih lebar disertai loncatan-loncatan serta ada penekanan-penekanan pada gerakannya. Tarian ini disajikan dalam tiga tahap, yakni tahap pembuka, tahap tengah (isi), serta tahap akhir sebagai penutup.

Sekilas Sejarah Tari Zapin Penyengat

Dalam sejarahnya, Tarian Zapin di Pulau Penyengat mulai tumbuh dan berkembang pada tahun 1811. Tarian ini bisa dikatakan sebagai perkembangan dari Zapin Kalimantan, karena tari ini adalah hasil kreasi dari Encik Muhammad Ripin dari Sambas, Kalimantan Barat yang menetap di Penyengat. Setelah beliau wafat, tarian ini kemudian dikembangkan lagi secara turun-temurun oleh Raja Mahmud yang lahir dan asli dari pulau yang ada di Kepulauan Riau tersebut.

Pada awalnya, Tari Zapin Penyengat hanya disajikan pada saat upacara penabalan (penobatan) Sultan Penyengat dan hari-hari besar Islam. Seiring perkembangannya sejalan dengan pola pikir masyarakat modern, tarian ini dipentaskan pula pada acara-acara lain, seperti pesta pernikahan atau acara hiburan seni dan budaya. Tetapi hal ini tidaklah mengurangi esensi pada fungsi utamanya, yakni sajian dalam penabalan Sultan Penyengat dan hari-hari besar Islam.

Hingga saat ini, Tarian Zapin Penyengat tetap lestari sebagai salah satu ciri khas kesenian Provinsi Kepulauan Riau. Tari Zapin yang ada di kepulauan ini cukup beragam dengan beberapa kesamaan dan perbedaan. Di Pulau Penyengat, tarian ini turut mewakili citra masyarakat nelayan yang gemar bekerja, sehingga menyajikan gerakan yang lebih bersemangat. Selebihnya, secara prinsip seluruh gerak dasar Zapin tetaplah sama, baik di Riau maupun di Kepulauan Riau.

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *