Tarian NTB – 10 Nama Tarian Tradisional Khas Daerah Nusa Tenggara Barat

Tarian NTB. Seperti halnya Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah wilayah yang cantik alam budayanya. Dua pulau terbesar di provinsi ini, Lombok dan Sumbawa, indah alamnya juga dipercantik oleh kekhasan budaya suku-suku yang mendiaminya. Ragam seni bercitarasa tinggi tercipta mengiringi kesejarahan mereka.

Suku Sasak di Pulau Lombok dikenal kuat memegang tradisi nenek moyangnya. Dalam hal seni, pemudanya jago bertarung, pemudinya jago menenun. Gamelan Sasak adalah salah satu instrumen musiknya, sementara mereka juga suka menari. Banyak tarian tradisional Sasak, sebagian ada dalam daftar di bawah.

Demikian pula suku Dou Mbojo di wilayah Bima dan Dompu, juga suku Sumbawa yang mendiami sisi barat dan tengah Pulau Sumbawa. Kesenian hidup dan berkembang sebagai bagian dari budaya mereka. Tidak terkecuali seni tari yang sebagian tetap lestari hingga kini. Beberapa di antaranya terangkum di artikel ini.

Daftar 10 Tarian Daerah Nusa Tenggara Barat

Tari Buja Kadanda

Tari Buja Kadanda
sumber: @bregas95

Tarian NTB pertama adalah Buja Kadanda, tarian prajurit asli Bima. Penggambaran dua prajurit yang sedang berperang. Dua orang membawakannya dengan berpakaian prajurit bersenjata tombak atau tongkat. Mereka menari dengan gerakan bela diri. Sehingga dibutuhkan keahlian khusus untuk menarikannya.

Tarian Buja Kadanda diawali dengan iringan tabuhan musik. Gendang, Gong, Serunai dan Tawa-tawa adalah alat musik tradisional yang menjadi pengiringnya. Mengalun dalam dua irama yang berbeda. Bertempo cepat ketika mengiringi tarian, dan bertempo lambat saat mengawali dan mengakhiri tarian.

Tari Gandrung

Tari Gandrung Lombok
sumber: khairiurwatul.blogspot.com

Dalam sejarah, kesenian Gandrung Banyuwangi tersebar ke Bali untuk kemudian tiba di Lombok. Di masa lalu, Bali dan Lombok Barat (Karangasem) merupakan kesatuan daerah kultural. Sehubungan dengan keberadaan Gandrung, tarian ini sudah populer sebelum kerajaan Lombok terakhir jatuh di tahun 1894.

Gandrung Banyuwangi menyebar ke Bali dan menyesuai dengan karakter lokal. Gandrung Bali yang melibatkan penari laki-laki berbusana wanita, sempat bertahan di Lombok hingga 1930-an. Selanjutnya, penari Gandrung Lombok adalah wanita. Di tahun 1938, tarian ini sudah tersebar ke seantero Lombok.

Tari Gendang Beleq

Gendang Beleq
sumber: youtube.com

Tarian NTB selanjutnya adalah Tarian Gendang Beleq. Gendang Beleq merujuk pada alat musik tradisional Suku Sasak yang dimainkan secara berkelompok dalam bentuk orkestra. Beleq dalam bahasa Sasak berarti besar, sehingga Gendang Beleq bisa bermakna alat musik gendang berukuran besar.

Gendang Beleq dikatakan sebagai tarian, karena para pemain memainkan alat musik ini sambil menari. Penarinya 13-17 orang. Ada dua jenis Gendang Beleq, yakni mama (laki-laki) serta nina (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika. Selain itu, ada juga Gendang Kodeq berukuran kecil.

Alat musik lain yang menyertai pertunjukannya, di antaranya perembak beleq dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong, serta dua buah reog (mama dan nina) untuk melodi. Di masa lalu orkestra gendang ini adalah penyemangat prajurit. Kini, lebih berfungsi untuk mengiringi acara adat Sasak.

Tari Lenggo

Tari Lenggo
sumber: gotripina.com

Kesenian dalam Istana Bima atau Asi Mbojo berkembang cukup pesat di masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, sultan Bima yang kedua (1640-1682 M). Mpa’a adalah istilah lokal untuk menyebut seni tari. Mpa’a Lenggo adalah salah satu tarian klasik Kesultanan Bima yang bertahan hingga saat ini.

Tari Mpa’a Lenggo ada dua macam, Lenggo Mone (Lenggo Melayu) dan Lenggo Siwe (Lenggo Mbojo). Lenggo Mone hadir ke Istana Bima melalui para mubaligh dari Sumatera Barat. Oleh karena itu disebut juga Lenggo Melayu, sementara itu disebut Lenggo Mone karena ditarikan oleh penari pria. Mone berarti pria.

Tari Lenggo selanjutnya adalah Lenggo Siwe, karya dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin dari Lenggo Melayu. Penarinya adalah Sampela Siwe (gadis) sehingga dinamakan Mpa’a Lenggo Siwe. Karena pembuatnya sultan sebagai dou Mbojo, maka tarian ini terkenal juga dengan nama Mpa’a Lenggo Mbojo.

Tari Nguri

Tari Nguri Tarian Khas Sumbawa
sumber: @ammanmineral

Di Tanah Samawa (Suku Sumbawa) yang dulu sempat ada kerajaan yang kemudian menjadi Kesultanan Sumbawa, juga memiliki ragam tari-tarian. Tari Nguri adalah salah satunya. Nguri berasal dari Guri yang berarti perkataan dan tingkah laku lemah lembut untuk menghibur raja yang sedang berduka.

Tarian Nusa Tenggara Barat ini berangkat dari ritual masyarakat kepada sang raja. Mereka datang ke istana membawa hasil bumi dan lain-lain, dengan tujuan meringankan beban hati rajanya. Tradisi itu kemudian hadir dalam bentuk tari. Kreatornya adalah seorang penata tari bernama Mahmud di era 60-an.

Tari ini sempat mengalami beberapa pembaharuan. Kini, Tarian Nguri mewakili simbol penghormatan, keterbukaan, serta keramah-tamahan masyarakat Sumbawa. Biasa tampil secara massal atau paling tidak 3 penari. Musik pengiringnya adalah Gong, Gendang, Rebana, Serunai, Palampong dan Satung Serek.

Tari Oncer

Oncer - Tarian Tradisional Nusa Tenggara Barat
sumber: sasakoncentb.blogspot.com

Tari Oncer adalah tarian daerah NTB khas Suku Sasak. Lahir di era 60-an, karya dari Muhammad Tahir dari desa Puyung, Lombok Tengah. Tarian berkelompok ini terbagi menjadi 3 kelompok penari. Ada penari kenceng yang terdiri dari 6-8 penari pembawa kenceng. Dua penari gendang dan satu penari petuk.

Tarian ini terkait erat dengan kesenian Gendang Beleq karena di bagian akhir tarian ini ada penyajian Gendang Beleq yang dimainkan sambil menari. Tari Oncer terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama menggambarkan peperangan. Bagian kedua dan ketiga lebih melukiskan kondisi usai peperangan.

Tari Peresean

Tradisi Presean Lombok NTB
sumber : explorlombokisland.blogspot.com

Peresean adalah seni tradisi bertarung antara dua laki-laki Suku Sasak. Oleh masyarakat internasional, tradisi ini terkenal dengan nama stick fighting karena dalam prakteknya para petarung bersenjatakan tongkat rotan, selain juga menggunakan perisai kulit kerbau yang keras dan tebal (ende).

Dalam sesi tarung dalam Presean, selain kedua petarung (pepadu), ada juga wasit pinggir (pakembar sedi) serta wasit tengah (pakembar). Pepadu bertelanjang dada, hanya berbalut kain Sasak serta capuk (penutup kepala). Pepadu tidaklah di tunjuk, siapa saja bisa ikut, termasuk penontonnya.

Presean adalah seni tradisi yang termasuk dalam seni tari khas Lombok. Tradisi ini dulu bertujuan melatih ketangkasan lelaki Sasak dalam mengusir para penjajah. Ada juga yang mengatakan, Presean adalah bentuk pelampiasan emosional para prajurit Lombok, setelah menang dalam perang melawan musuh.

Tari Rudat

Rudat - Tarian Daerah NTB
sumber: lombokbaratkab.go.id

Tari Rudat adalah tarian tradisional NTB yang juga dari Suku Sasak Lombok. Rudat lebih mirip dengan pertunjukan pencak silat. Di dalamnya ada gerak memukul, menendang, memasang kuda-kuda, hingga menangkis. Dalam fungsinya, tarian ini hadir sebagai penyambut tamu dan pengisi acara-acara formal daerah.

Rudat telah ada sejak abad ke-15, sebagai perkembangan kesenian Turki bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Penarinya 13 orang berbusana mirip prajurit. Ada seorang komandan bermahkota memegang sebilah pedang. Alunan musik Melayu, rebana, mandolin, biola, dan jidor adalah pengiringnya.

Tari Sanggulu

Sanggulu - Tarian Daerah Nusa Tenggara Barat
sumber: indonesiakaya.com

Tarian NTB lainnya yang khas Bima adalah Tari Sanggulu. Tarian massal bertemakan permainan rakyat. Penarinya adalah anak-anak perempuan yang mengenakan Tembe, kain tenun khas Bima. Musik pengiringnya dalah kendang dan rebana. Biasa ditampilkan pada acara hari besar, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tari Wura Bongi Monca

Wura Bongi Monca - Tarian NTB
sumber: gotripina.com

Masih dalam budaya Suku Bima ada tari bernama Wura Bongi Monca. Wura artinya Menabur, bongi adalah Beras dan Monca berarti Kuning. Jadi, ini adalah tarian Menabur Beras Kuning yang sering mewarnai hajatan adat Bima. Lambang kesejahteraan, kejayaan, serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sama halnya dengan Mpa’a Lenggo. Tari Wura Bongi Monca telah berkembang sejak masa kesultanan Abdul Khoir Sirajuddin. Penarinya adalah gadis-gadis ayu yang membawakan gerakan lemah gemulai sehingga menarik perhatian siapa saja untuk datang ke dana Mbojo atau Tanah Bima. Jumlah penari bisa 4-6 gadis.

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *