• sumber : goblokku.wordpress.com

Tembang Macapat – Puisi Tradisional Jawa

Tembang Macapat merupakan puisi tradisional Jawa yang pada tiap baitnya memiliki Gatra (baris kalimat). Gatra sendiri dibangun oleh suku kata (Guru Wilangan) tertentu, selanjutnya rangkaian tersebut selalu diakhiri dengan bunyi sajak akhir yang disebut dengan Guru Lagu.

Meskipun Macapat telah disebutkan sebagai Puisi Tradisional Jawa, namun dibeberapa kebudayaan daerah seperti Bali, Sasak, Sunda dan Madura juga bisa kita temukan tembang Macapat dengan nama lain. Selain itu, Macapat juga pernah ditemukan dalam kebudayaan Palembang dan Banjarmasin.

Macapat secara etimologi diartikan dengan Maca Papat-papat (jawa) atau dalam bahasa indonesia bisa diartikan dengan Membaca Empat-empat. Pengertian tersebut mengarah pada cara membacanya yang terjalin pada tiap empat guru wilangan. Selain itu, ada yang mengartikan bahwa -pat adalah merujuk jumlah dari sandhangan (diakritis) dalam Aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat.

Pengertian Macapat lainnya juga bisa kita dapati dalam Serat Mardawalangu karya dari Ranggawarsita. Menurut serat tersebut, Macapat diartikan sebagai singkatan dari frasa Maca-Pat-Lagu atau “melagukan nada keempat”. Disebutkan juga sebagai frasa maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu.

Dikatakan bahwa Maca-sa-lagu menjadi yang tertua yang konon diciptakan oleh para dewa yang diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Kategori ini yang sekarang disebutkan sebagai Tembang Gedhe. Maca-ro juga termasuk tipe tembang gedhé yang mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara.

Sementara itu, Maca-tri menjadi kategori yang ketiga dan termasuk dalam tembang tengahan. Konon jenis ini diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan lagi oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Terakhir adalah Maca-pat-lagu yang mewakili Macapat atau disebut juga tembang cilik. Tembang ini diciptakan oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali.

Sejarah Tembang Macapat

Tembang Macapat memiliki sejarah yang cukup rumit untuk diketahui. Secara umum sejarah macapat ketika merujuk pada pendapat Pegeud diketahui tercipta pada akhir masa Majapahit atau sejak hadirnya pengaruh Walisongo. Hanya saja, pendapat Pegeud bisa dikatakan kalau hanya berlaku untuk tembang macapat di Jawa Tengah, sebab di Jawa Timur dan Bali, sejarah Macapat telah dimulai sejak sebelum datangnya Agama Islam.

Di sisi lain, Purbatjaraka mengatakan bahwa macapat lahir bersamaan Syair Jawa Tengahan. Pendapat itu juga diperkuat oleh Karseno Saputra. Ia mengatakan “Apabila pola metrum yang digunakan pada tembang macapat sama dengan pola metrum tembang tengahan. Jika tembang macapat tumbuh berkembang sejalan dengan tembang tengahan, maka diperkirakan Macapat telah hadir dikalangan masyarakat peminat setidak-tidaknya pada tahun 1541 Masehi

Perkiraan diatas adalah berdasar angka tahun yang terdapat pada kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J atau 1541 Masehi. (Saputra, 1992 : 14 ). Pada kisaran tahun tersebut hidup berkembang puisi berbahasa jawa kuno, jawa tengahan dan jawa baru yaitu kekawin, kidung dan macapat.

Tahun perkiraan diatas sesuai pula dengan pendapat Zoetmulder lebih kurang pada abad XVI di jawa hidup bersama tiga bahasa, yaitu jawa kuno, jawa tengahan dan jawa baru. Melihat dalam Mbombong manah (Tedjohadi Sumarto 1958 : 5), disana telah disebutkan bahwa Macapat, dalam hal ini mencakup 11 Metrum adalah diciptakan oleh Prabu Dewawasesa (Prabu Banjaransari) di Segaluh di tahun Jawa 1191 (Masehi 1279).

Meskipun begitu, selalu aja terdapat sumber lain yang memperkirakan bahwa Tembang Macapat diperkirakan telah dibuat tidak hanya oleh satu orang saja, tetapi oleh beberapa orang wali dan bangsawan. ( Laginem, 1996 : 27 ). Sebut saja Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra dan Adipati Nata Praja.

Kajian Ilmiah telah menyebutkan bahwa terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai keberadaan macapat. Jika pendapat yang pertama mengatakan bahwa macapat adalah lebih tua ketimbang Tembang Gede, pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya. Kecuali pendapat itu ada pendapat lain tentang timbulnya macapat berdasarkan perkembangan bahasa.

Pendapat yang mengatakan bahwa macapat lebih tua dari pada Tembang Gede memperkirakan macapat timbul pada zaman Majapahit akhir ketika pengaruh kebudayaan Islam mulai berkembang ( Danusuprapta, 1981 : 153-154 ). Dikemukakan pula oleh Purbatjaraka bahwa timbulnya macapat bersamaan dengan kidung, dengan anggapan bahwa tembang tengahan tidak ada. ( Poerbatjaraka, 1952 : 72 ).

Sedangkan yang berpendapat bahwa macapat lebih muda dari Tembang Gede beranggapan bahwa tembang macapat timbul pada waktu pengaruh kebudayaan Hindu semakin menipis dan rasa kebangsaan mulai tumbuh, yaitu pada zaman Majapahit akhir.

Lahirnya macapat berurutan dengan kidung, muncullah tembang gede berbahasa jawa pertengahan. Berikutnya muncul macapat berbahasa Jawa Baru dan pada zaman Surakarta awal, timbul tembang gede kawi miring. Bentuk gubahan berbahasa jawa baru yang banyak digemari adalah kidung dan macapat.

Proses pemunculan bermula dari lahirnya karya-karya berbahasa jawa pertengahan yang biasa disebut dengan kitab-kitab kidung. Kemudian muncul karya-karya berbahasa jawa baru berupa kitab-kitab suluk dan kitab-kitab niti. Kitab suluk dan kitab niti itu memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan macapat.

Dalam hipotesis Zoetmulder ( 1983 : 35 ) disebutkan bahwa secara linguistik bahasa jawa pertengahan bukan merupakan pangkal bahasa jawa baru. Melainkan merupakan dua cabang yang terpisah dan divergen pada bahasa jawa kuno. Bahasa jawa kuno merupakan bahasa umum selama periode Hindu – Jawa sampai runtuhnya Majapahit.

Sejak datangnya pengaruh Islam, bahasa jawa kuno berkembang menurut dua arah yang berlainan yang menimbulkan bahasa jawa pertengahan dan bahasa jawa baru. Kemudian, bahasa jawa pertengahan dengan kidungnya, berkembang di Bali dan bahasa jawa baru dengan macapatnya berkembang di Jawa. Bahkan, sampai sekarang tradisi penulisan karya sastra jawa kuno dan pertengahan masih ada di Bali.

Jenis dan Struktur Tembang Macapat

Dalam Wikipedia dituliskan bahwa Tembang Macapat biasanya dibagi kedalam beberapa Pupuh, sedangkan pupuh sendiri masih dibagi menjadi beberapa Pada (Bait). Pupuh yang merupakan bentuk puisi tradisional Jawa dengan jumlah suku kata dan rima tertentu di setiap barisnya, dalam hal ini menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.

Jumlah bait pada setiap pupuh biasanya berbeda-beda karena bergantung pada teks yang digunakan. Adapun setiap bait atau Pada masih dibagi / dibangun oleh Gatra (Baris Kalimat). Selanjutnya Gatra sendiri memiliki beberapa suku kata atau Wanda dengan jumlah yang selalu tetap dengan diakhiri dengan vokal yang sama. Istilah Guru Wilangan dalam hal ini merupakan sebuah aturan mengenai jumlah suku kata yang dipakai, sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama Guru Lagu.

Tembang Macapat memiliki metrum baku berjumlah lima belas yang kemudian dipisahkan atau dikategorikan menjadi tembang cilik yang mewakili sembilan metrum, tembang tengahan mewakili enam metrum dan tembang gedhe dengan hanya satu metrum.

Tembang Macapat disajikan dalam beberapa jenis yang mana masing-masing tembang tersebut dibedakan dengan aturan-aturan yang membentuknya yakni Guru Lagu dan Guru Wilangan. Secara umum ada 11 jenis tembang yang paling dikenal sebagai berikut :

  • Pangkur : Dikatakan bahwa istilah Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kependetaan yang biasa tercantum pada piagam – piagam bahasa jawa kuno. Pangkur diartikan sebagai Buntut atau Ekor (Serat Purwaukara). Identik dengan sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
  • Maskumambang : Istilah Maskumambang dihasilkan dari gabungan dua kata yakni Mas dan Kumambang. Kata Mas berasal dari Premas yang berarti punggawa dalam upacara Shaministis. Sedangkan Kumambang bisa diartikan dengan terapung yang juga bisa berarti kembang. Selanjutnya Maskumambang membawa pengertian bahwa punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis. Mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
  • Sinom : Sinom bisa dikaitkan dengan istilah Sinoman yang memiliki arti perkumpulan pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muda zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti sekaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
  • Asmaradana : Asmaradana merupakan dua gabungan kata yakni Asmara dan Dhana. Asmara sendiri bisa diartikan sebagai dewa percintaan, sedangkan Dhana mewakili api. Penamaan tembang Asmaradana sering dikaitkan dengan peristiwa hangusnya Dewa Asmara oleh sorot mata ketiga Dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
  • Dhangdhanggula : Istilah Dhangdhanggula diambil dari nama Raja Kediri yang terkenal setelah Prabu Jayabaya yakni Prabu Dhangdhanggendhis. Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan (Serat Purwaukara).
  • Durma : Durma (Jawa Klasik) bisa diartikan sebagai Harimau. Seperti namanya, Macapat Durma identik dengan watak atau digunakan dalam suasana seram.
  • Mijil : Mijil memiliki arti keluar. Bisa juga dihubungkan dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
  • Kinanthi : Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda, nama bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
  • Gambuh : Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa digunakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
  • Pucung : Pucung merupakan nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
  • Megatruh – Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.

Filosofi Tembang Macapat

Dibalik keindahan ritme bahasa ataupun kesyahduan tembang macapat, tersimpan sebuah kedalaman pemikiran dari sang pembuatnya. Sebuah filosofi kehidupan yang sering terkandung dalam kebiasaan dan adat Jawa tertanam juga dalam tembang-tembang Macapat.

Tembang Macapat merupakan harmoni antara keindahan dan khasanah kearifan. Ajaran keluhuran budi dan sebuah gambaran perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga sampai dengan meninggalnya. Berikut ini adalah detail penjelasan Filosofi Tembang Macapat yang terkandung dalam setiap metrumnya :

  • Maskumambang merupakan gambaran ketika manusia masih berada di alam ruh , saat-saat sebelum ditanamkan di dalam gua garba (rahim) ibu. Dalam keadaan ini, Allah SWT memberi pertanyaan kepada ruh kita “Bukankah AKU ini Tuhanmu? (Alastu Bi Robbikum)”, dan di jawab oleh ruh kita “Qoolu Balaa Sahidna” yang artinya “Benar (Yaa Allah Engkau adalah Tuhan kami dan kami semua menjadi saksinya)”. Ada juga yang mendeskripsikan bahwa Maskumambang berarti keadaan bayi yang masih berada dalam rahim ibu, dimana belum diketahui jenis kelaminnya
  • Mijil bisa dikatakan sebagai sebuah ilustrasi proses kelahiran manusia, dimana telah jelas jenis kelaminnya, Mijil bisa diartikan sudah lahir atau keluar.
  • Kinanthi bisa disebut berasal dari istilah “Kanthi” yang berarti dituntun supaya bisa berjalan. Menjadi lambang hidupnya anak kecil atau bayi yang perlu tuntunan lahir dan batin supaya bisa berjalan di dalam samudra alam dunia. Gambaran sebuah proses pembentukan jati diri dan meniti jalan menuju cita-cita.
  • Sinom berasal dari tembung “Sinoman” atau bisa di maknai sebagai  para pemuda. Dimana manusia yang masih muda itu memiliki arti penting dalam babak kehidupannya. Karena itu perlu banyak belajar untuk mempersiapkan diri hidup berumah tangga. Sebuah lukisan dari masa muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan.
  • Asmaradana , sebuah proses dimana manusia telah memiliki rasa cinta pada lawan jenis. Telah menjadi kehendak sang Khalik, dimana ini merupakan awal untuk membangun kehidupan rumah tangga. Masa-masa dirundung asmara, dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Asmara artinya cinta, dan Cinta adalah ketulusan hati.
  • Gambuh, berasal dari kata “Jumbuh” yang bisa dimaknai telah didapati kecocokan antara pria dan wanita yang didasari cinta (Asmaradana). Sebuah komitmen untuk  membangun kehidupan rumah tangga. Saling melengkapi dan bersinergi secara harmonis.
  • Dhandanggula, menjadi ilustrasi hidup seseorang ketika keinginannya terkabul yang intinya semua itu menjadikan dia bahagia (Punya Istri, Punya Anak, Rumah serta cukup sandang dan pangan). Sebuah tahap kemapanan sosial, dimana dalam tahap ini dibutuhkan kedewasaan berfikir, karena kunci hidup bahagia adalah rasa syukur.
  • Durma, berasal dari kata “darma” yang bisa diartikan dengan berbakti, manusia jika sudah hidup kecukupan harus melihat kanan kirinya. Melihat keadaan saudaranya dan tetangga yang masih dalam kesengsaraan, lalu member pertolongan pada sesamanya.
  • Pangkur, berasal dari kata “Mungkur”. Dimaknai dengan manusia yang musti menghindari sifat angkara murka, selalu berfikir dan bergerak dengan niat berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama.
  • Megatruh, bermula dari kata “Megat Ruh” atau telah terpisahnya Ruh dari Raga. Kehendak sang Khalik yang tidak bisa dielakkan, setiap manusia akan menghadapi kematian.
  • Pocung, Gambaran manusia yang telah mati, sesuai dengan syariat Islam, dimana jasad manusia dibungkus kain mori putih, diusung dipanggul laksana raja-raja. Itulah prosesi penguburan jasad kita menuju liang lahat, rumah terakhir kita didunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *