• sumber : emilliya97.blogspot.com

Topeng Dongkrek, Madiun – Antara Tari & Drama Tentang Kakek Sakti

Topeng Dongkrek Madiun. Topeng merupakan Benda Budaya yang sering dijadikan media dalam berkesenian, hal itu mungkin disebabkan Topeng adalah bentuk ekspresi yang bisa dikatakan tertua dalam sejarah peradaban Manusia.

Di Indonesia sendiri bisa ditemukan beberapa seni pertunjukan yang bermediakan benda tersebut seperti Topeng Malangan, Topeng Yogyakarta, Topeng Surakarta, Topeng Bali serta Topeng Cirebon. Tentunya masih ada lagi selain yang telah disebutkan, salah satunya adalah Kesenian Topeng Dongkrek yang berasal dari Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Topeng Dongkrek adalah seni pertunjukan tradisional dari Desa Mejayan, Caruban, Kabupaten Madiun. Seni Dongkrek menggabungkan seni tari dan drama dengan mengambil cerita tentang pertarungan Kakek Sakti melawan kawanan gendruwo yang berakhir dengan kemenangan sang kakek.

Sangat disayangkan apabila Seni Topeng Dongkrek kini menjadi salah satu kesenian yang hampir punah. Seperti halnya kepunahan beberapa kesenian tradisional daerah lainnya yang hampir kesemuanya disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat dan pemerintah.

Merujuk pada buku yang ditulis oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, istilah Dongkrek diambil dari bunyi dua alat musik. Bedug yang berbunyi “Dhung” dan Korek yang menghasilkan bunyi “Krek“. Kedua alat musik tradisional tersebut sangat dominan dalam pertunjukan kesenian ini. Apabila keduanya dibunyikan bergiliran dan terus menerus akan menghasilkan bunyi “Dhung-Krek-Dhung-Krek“

Dalam Pertunjukannya, Topeng Dongkrek Madiun disajikan dengan memiliki dua fungsi. Pertama, Dongkrek sebagai sajian ritual tolak balak yang diadakan tahunan pada tanggal 10 di bulan Sura berupa arak-arakan Dongkrek dan Upacara penyerahan Topeng. Kedua, Dongkrek juga bersifat hiburan yang berfungsi sebagai seni penyambutan, peresmian melalui arak-arakan dan pentas tari dongkrek.

Sejarah Kesenian Topeng Dongkrek

Sejarah Kesenian Topeng Dongkrek diperkirakan dimulai pada kisaran tahun 1900-an. Dipercaya pertama kali diciptakan oleh R. Bei Lo Prawirodipuro yang pada kisaran tahun tersebut menjabat sebagai Palang (Jabatan yang membawahi 4-5 Kepala Desa) di Mejayan.

Diceritakan bahwa Daerah Menjayan terkena wabah penyakit (Pageblug). Ketika siang sakit, sore hari meninggal, atau pagi sakit malam harinya meninggal dunia. Sebagai seorang pemimpin, Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro merenung untuk mencari metode yang tepat untuk penyelesaian atas wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Beliau merenung, meditasi dan bertapa di Gunung Kidul Caruban.

Dari perenungannya, beliau mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian yang bisa mengusir bala tersebut. Wangsit menggambarkan para punggawa kerajaan roh halus atau pasukan gendruwo menyerang penduduk Caruban akan dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari wilayah Caruban. Maka dibuatlah semacam kesenian yang melukiskan fragmentasi pengusiran roh halus yang membawa pagebluk tersebut.

Pada awal perkembangannya, Topeng Dongkrek hidup dan berkembang dengan begitu pesat dan menjadi kesenian rakyat paling populer di masa itu. Hanya saja masa kejayaannya tidaklah berlangsung lama, berangsur tapi pasti Dongkrek surut dan tak lagi diminati.

Sebab kemundurannya pun tidak jelas. Mungkin karena sifatnya yang statis yang menimbulkan kejenuhan peminatnya atau masuknya beberapa kesenian lain terutama dari Jawa Tengah yang hingga saat ini pun masih sangat diminati oleh Masyarakat Caruban.

Selain perkiraan diatas, adapula kemungkinan yang mengatakan bahwa susutnya minat terhadap Seni Dongkrek masih ada hubungannya dengan meninggalnya sang pencipta. Memang pencipta kesenian ini semasa hidupnya terkenal sebagai orang sakti dan mempunyai kewibawaan yang besar. Jadi surutnya Dongkrek karena ditinggalkan oleh pencipta dan mungkin sekaligus sebagai satu-satunya pembina yang tangguh, ampuh dan berwibawa.

Sementara itu menurut Jaecken (2011:3), kesenian ini mengalami masa kejayaan pada rentang tahun 1867-1902. Setelah itu, perkembangannya mengalami pasang surut seiring pergantian kondisi politik di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, dongkrek sempat dilarang oleh pemerintahan Belanda untuk dipertontonkan dan dijadikan pertunjukan rakyat. Hal ini dikarenakan mereka khawatir apabila dongkrek terus berkembang, bisa digunakan sebagai media penggalang kekuatan untuk melawan pemerintahan Belanda.

Saat masa kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, kesenian ini dikesankan sebagai kesenian “genjergenjer” yang dikembangkan PKI untuk memperdaya masyarakat umum. Sehingga kesenian dongkrek mengalami masa pasang surut akibat imbas politik. Tahun 1973, dongkrek digali dan kembali dikembangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun bersama Propinsi Jawa Timur (Jaecken, 2011: 3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *