• sumber : zainbie.wordpress.com

Tradisi Baratan, Jepara – Arak-Arakan Cahaya Sebelum Ramadhan

posted in: Jawa, Jawa Tengah, Sejarah, Tradisi | 0

Tradisi Baratan adalah dari budaya menyambut Bulan Ramadhan oleh masyarakat Kaliyamatan, Jepara, Jawa Tengah. Sebuah tradisi berupa arak-arakan lampion yang biasa dilaksanakan sejak 15 hari sebelum Puasa Ramadlan.

Istilah Baratan sendiri berasal dari bahasa arab “Baraah” yang berarti Keselamatan, atau juga berasal dari kata “Barakah” yang bermakna Keberkahan. Bisa dikatakan, tradisi ini mewakili ekspresi rasa syukur terkait dengan Nishfu Syakban.

Seperti diketahui bahwa Nisfhu Syakban adalah malam pergantian buku catatan amal perbuatan manusia untuk ditutup, dan di ganti dengan buku catatan yang baru. Juga bisa berarti persiapan menghadapi Ramadhan sehingga diharapkan hati selalu bersih dari segala dosa.

Pelaksanaan Tradisi Baratan

Dalam pelaksanaannya, Tradisi Baratan dipusatkan di Masjid Al Makmur di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan, dengan ritual yang cukup sederhana. Biasanya kegiatan diawali setelah Sholat Maghrib, dimana masyarakat setempat tidak langsung pulang seperti biasanya.

Mereka menunggu dan berkumpul di Masjid untuk berdoa bersama, pembacaan Surat Yasin tiga kali dilanjutkan shalat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nisfu syakban dipimpin ulama setempat yang dilanjutkan dengan makan (bancaan) nasi puli. Sebagai acara puncaknya adalah melepas arak-arakan Lampion.

Nasi Puli dalam tradisi ini memiliki makna tersendiri. Dikatakan bahwa istilah “Puli” berasal dari bahasa arab “Afwu Lii” yang berarti maafkanlah aku. Nasi Puli adalah nasi yang terbuat dari bahan beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang dibakar atau tanpa dibakar.

Sejarah Tradisi Baratan

Berbicara mengenai sejarah tradisi Baratan, berbagai sumber mengatakan bahwa asal-usul tradisi ini masih erat hubungannya dengan keberadaan Ratu Kalinyamat. Seorang puteri raja Demak Trenggana yang menjadi bupati di Jepara. Merujuk pada wikipedia.co.id terdapat tiga versi cerita yang berkaitan dengan Asal-usul Tradisi Baratan, yakni :

  1. Versi Pertama : Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) berperang melawan Aryo Penangsang dan terluka. Kemudian sang isteri Nyai Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) membawanya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Banyak desa di sepanjang jalan yang dilewati rombongan diberi nama peristiwa menjelang wafatnya Sultan Hadirin. Salah satu contohnya adalah saat rombongan melewati suatu desa, mendadak tercium bau harum semerbak (gondo) dari jasad Sultan. Maka desa tersebut sekarang kita kenal dengan nama Purwogondo.
  2. Versi Kedua : Setelah berperang melawan Aryo Penangsang, Sultan Hadirin tewas dan jenazahnya dibawa pulang oleh isterinya (Ratu Kalinyamat) pulang ke Jepara. Peristiwa itu berlangsung malam hari, sehingga masyarakat disepanjang jalan yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa alat penerangan. Penerangan berupa obor bagi rakyat jelata, sedangkan bagi kaum bangsawan dan orang cina membawa lampion.
  3. Versi Ketiga : Setiap 15 hari sebelum Ramadhan (Nisfu Sya’ban) selalu di peringati dengan menyalakan lilin atau obor di depan rumah. Anak muda membawa obor mengelilingi kampung, karena dahulu belum ada listrik. Selain itu, karena Nisfu Sya’ban merupakan penutupan buku catatan amal umat Islam, maka dengan dinyalakan obor di depan rumah dan membawa obor keliling kampung harapannya catatan amal warga sekampung diharapkan terang alias baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *