Tradisi Cupu Panjala – Upacara Meramal Penanda Zaman di Gunung Kidul

Tradisi Cupu Panjala Yogyakarta. Hingga saat ini dalam lingkup masyarakat Jawa, masih tumbuh subur kepercayaan terhadap benda atau hal-hal yang dianggap memiliki kekuatan. Terlebih terhadap benda yang mereka yakini sebagai pusaka warisan leluhur.

Benda-benda tersebut sedemikian kuatnya mempengaruhi sikap, terutama ketika masyarakat Jawa menghadapi tantangan alam yang sangat keras. Begitulah adanya, seperti yang terjadi di Desa Girisekar, Panggang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tidak hanya di desa tersebut, di seantero Yogyakarta, keberadaan benda bernama Cupu Panjala (Panjalo) begitu populer sebagai benda bertuah dan keramat. Ada keyakinan benda tersebut mampu memperkirakan atau meramal peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

Setiap tahun ketika musim hujan akan tiba bertepatan dengan pasaran Kliwon, terdapat Tradisi Cupu Panjala di Desa Girisekar. Sebuah rangkaian upacara sakral pembukaan kain mori pembungkus Cupu Panjala. Menariknya, kain pembungkusnya berjumlah ratusan lembar.

Hasilnya adalah apa saja yang terpampang di kain mori. Masyarakat Girisekar meyakini apa yang terlihat, baik yang berupa gambar maupun tanda, sebagai perlambang atau sinyal penanda zaman dan menjadi semacam peringatan bagi masyarakat di desa tersebut.

Dikatakan bahwa berlangsungnya Tradisi Cupu Panjala hingga hari ini adalah karena begitu banyaknya peristiwa besar yang telah terjadi, memiliki kesamaan dengan apa yang sebelumnya telah diberitahukan oleh tanda yang terdapat di kain mori Cupu Panjala.

Sejarah Tradisi Cupu Panjala Yogyakarta

Ketika merujuk pada penuturan Bapak Dwijo Sumarto selaku menantu generasi ke 7 dari Trah Kyai Panjala, beliau berkata bahwa usia Cupu telah mencapai kurang lebih 600 tahun. Cupu tersebut merupakan peninggalan dari para leluhur secara turun temurun.

Dulu ada seorang kyai bernama Panjala keturunan prajurit Majapahit melarikan diri ke Gunung Kidul. Pada suatu hari, Kyai Panjala mengembara hingga tiba di pantai Gesing. Ketika menjala di laut bukan ikan yang ia dapat melainkan tiga buah cupu yang kemudian ia bawa ke rumah.

Sampai sekarang, masyarakat setempat masih meyakini bahwa benda tersebut bisa memberikan tanda-tanda alam atau perlambang dan ramalan tentang masa depan desa. Berdasarkan pada keyakinan itulah, hingga saat ini Cupu tersebut dikeramatkan.

Mereka yakin bahwa itu adalah benda bertuah yang bisa meramal kejadian-kejadian alam di masa datang atau memberi pertanda bagi kelangsungan kehidupan pertanian. Cupu Panjala keramat yang mereka yakini mempunyai tuah berjumlah tiga buah.

Ketiga buah cupu tersebut berada di dalam sebuah kotak atau peti dan terbungkus oleh beratus-ratus kain mori. Karena sifatnya yang sakral, masyarakat menyimpannya di ruangan khusus yang mana tidak sembarangan orang bisa masuk ataupun membukanya.

Uniknya, ketiga Cupu yang bertuah tersebut masing-masing memiliki nama. Cupu yang paling besar bernama semar kinandhu , cupu yang kedua atau cupu tengahan bernama kalang kinanthang, sedangkan cupu yang terakhir atau yang paling kecil bernama kenthi wiri.

Menurut sejarah, cupu tersebut sudah mengalami perpindahan tempat sebanyak tiga kali. Turun secara bergantian menurut trah tertua dari generasi ke generasi . Sejak tahun 1957 hingga sekarang, cupu tersebut berada di Dusun Colo Rejo, di rumah Bapak Dwijo Sumarto.

Referensi:

  1. http://www.wonosari.com…
  2. http://www.jogjaland.net/…

2 Responses

  • Adat ini biasanya di laksanakan pada bulan berapa ya? Dan di daerah mana saja? Tolong informasinya.. 🙂 Terima kasih.

  • mengenai daerahnya…sepertinya tlh dijelaskan dlm artikelnya yang mengacu pd wilayah panggang, gunungkidul yogyakarta, Sejak tahun 1957 hingga saat ini Cupu tersebut berada di Dusun Colo Rejo , di rumah Bapak Dwijo Sumarto. adapun mengenai kapan pelaksanaannya tradisi tersebut dilaksanakan setahun sekali ketika musim hujan akan tiba bertepatan dengan hari pasaran Kliwon (kalender jawa). jika sodara/i sangat tertarik untuk tahu lebih detail, mungkin bisa langsung datang ke wilayah panggang, gunungkidul yogyakarta dan bertanya sama penduduk setempat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *