• sumber : jogjaprov.go.id

Grebeg Keraton – Tradisi Unik Saat Maulud dan Lebaran di Yogyakarta

posted in: Jawa, Tradisi, Yogyakarta | 0

Tradisi Grebeg adalah salah satu tradisi kerajaan yang tetap lestari hingga saat ini di Yogyakarta. Tradisi ini telah berlangsung sejak penyelenggaraan pertama kalinya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Istilah Gerebeg atau Grebeg sendiri berangkat dari peristiwa Miyos.

Miyos adalah peristiwa keluarnya sultan dari dalam istana bersama keluarga dan kerabat dalam rangka memberikan Gunungan Makanan kepada Rakyatnya. Proses keluarnya sultan dan keluarganya tersebut diibaratkan seperti tiupan angin yang sangat keras sehingga menimbulkan bunyi “Grebeg…Grebeg”. Disebutkan juga istilah Hanggarebeg yang dimaknai sebagai iring-iringan Raja.

Jenis Tradisi Grebeg Keraton

Dikatakan bahwa Upacara Adat Gerebeg ditujukan untuk memenuhi kewajiban sultan dalam menyebarkan dan melindungi Agama Islam. Tradisi ini diadakan 3 kali dalam setahun yang bertepatan dengan hari –hari besar Agama Islam. Penamaan ketiga Upacara Grebeg juga disesuaikan dengan hari-hari besar dalam Islam yakni Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan Grebeg Besar.

  1. Grebeg Syawal diadakan sebagai ungkapan rasa syukur pihak keraton setelah melewati bulan puasa yang sekaligus ditujukan untuk menyambut datangnya bulan Syawal
  2. Grebeg Maulud dilaksanakan untuk merayakan Maulud Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
  3. Grebeg Besar berlangsung pada perayaan Hari Raya Idul Adha di bulan Dzulhijjah yang dalam penanggalan jawa disebut sebagai bulan “Besar”.

Gunungan dalam Tradisi Grebeg

Tradisi Grebeg sangatlah identik dengan keberadaan gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta. Gunungan adalah makanan dalam jumlah besar dari berbagai hasil bumi yang disusun kerucut menyerupai gunung yang nantinya akan dibagikan kepada rakyat. Dalam hal ini terdapat enam jenis gunungan yang masing-masing memiliki perbedaan dalam bentuk dan isinya :

  1. Gunungan Dharat dipuncaknya terdapat kue besar berwarna hitam yang dikelilingi oleh kue ketan berbentuk lidah (ilat-ilatan)
  2. Gunungan Gepak terdiri dari empat puluh buah keranjang yang diisi kue-kue kecil yang berwarna merah, biru, kuning, hijau dan hitam
  3. Gunungan Kutug/Bromo juga berisi kue-kue namun dipuncaknya diberi lubang
  4. Gunungan Lanang tediri dari rangkaian kancang panjang, cabe merah, telur itik dan ketan serta puncaknya ditancapi kue dari tepung beras yang disebut Mustaka
  5. Gunungan Wadon yang terdiri dari kue-kue kecil dan ketan
  6. Gunungan Pawuhan yang bentuknya mirip dengan Gunungan Wadon namun pada puncaknya ditancapi bendera kecil berwarna putih.
Pelaksanaan Upacara Grebeg

Tradisi Grebeg adalah sebuah budaya yang istimewa yang dimulai dengan Parade Prajurit Keraton Yogyakarta. Diketahui setidaknya ada sekitar delapan kelompok prajurit yakni Wirobrojo, Daheng, Patangpuluh , Jagakarya, Prawirotama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis serta Surakarsa.

Parade tersebut keluar secara bertahap dari Siti Hinggil yang kemudian melewati Pagelaran Keraton untuk menuju ke Alun-alun Utara Yogyakarta. Mereka membentuk formasi barisan yang khas lengkap dengan pakaian kebesaran prajurit, membawa senjata khusus, panji-panji dan memainkan alat musik. Parade tersebut kemudian dilanjutkan oleh barisan panglima keraton atau yang dikenal dengan Manggala Yudha. Terakhir adalah barisan prajurit yang tersisa yang mengiringi keluarnya Gunungan dari Siti Hinggil.

Kedatangan gunungan di Alun-alun Utara disambut dengan Salvo atau tembakan serentak sejumlah senapan sebagai tanda penghormatan. Selanjutnya seluruh prajurit akan ikut mengiringi gunungan menuju Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan oleh penghulu masjid. Setelah prosesi tersebut, gunungan diturunkan dan disambut oleh seluruh Masyarakat yang hadir. Mereka berebut dan mengambil makanan apa saja yang tersusun dalam gunungan.

Ramainya pengunjung yang berebut makanan didasari oleh keyakinan masyarakat akan keberkahan dari makanan yang ada di gunungan. Ada juga yang meyakini bahwa beberapa jenis makanan yang ada, apabila ditanam di sawah akan menjadikan tanah dari sawah tersebut menjadi subur dengan harapan hasil panen akan menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *