• sumber : www.asliindonesia.net

Kasada (Kasodo) – Tradisi Ritual Masyarakat Tengger

posted in: Jawa, Jawa Timur, Sejarah, Tradisi | 0

Tradisi Kasada (Kasodo). Sebagian pembaca mungkin pernah berkunjung dan berwisata ke Gunung Bromo Jawa Timur. Sebuah gunung dengan ketinggian 2. 392 mdpl yang menjadi bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Keberadaannya sebagai tempat wisata semakin populer karena menawarkan paket keindahan alam yang cukup lengkap. Biasanya, wisatawan semakin ramai ketika datang Hari Raya Yadya Kasada.

Tradisi Kasada atau Yadya Kasada adalah upacara berupa persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Ritual ini dilakukan oleh Masyarakat Tengger setiap bulan Kasada hari-14 dalam Penanggalan Jawa. Ritual Tradisi Kasada di Kawah Gunung bromo ini bermula dari perjanjian yang terdapat dalam Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya diyakini sebagai Leluhur dari Masyarakat Suku Tengger.

Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger

Dalam Salah Satu Sumber,  kisah lengkap Rara Anteng dan Jaka Seger berawal dari kepergian seorang Raja Majapahit dari negerinya bersama permaisuri dan beberapa pengikutnya karena kalah melawan putranya sendiri.  Mereka pergi ke lereng Gunung Bromo dan membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka.

Pada suatu hari,  permaisuri melahirkan anak keduanya.  Mantan Raja Majapahit itu gelisah menunggu sang istri melahirkan anaknya di luar rumah. Pada tengah malam, akhirnya anaknya berhasil dilahirkan. Anak yang dilahirkan itu perempuan.

Sang Raja lalu melihat anaknya “Dinda, anak kita perempuan”.  Tetapi, terdapat keanehan pada bayi itu karena bayi itu tidak menangis seperti bayi pada umumnya “Benarkah Adinda melahirkan, mengapa tidak ada suara tangisan bayi?” pikir sang permaisuri.

Betul Adinda, anak kita telah lahir.   Lihat,  ia terlihat tenang,  tidak menangis.   Dia terlahir dengan normal dan sehat. Mukanya terlihat tampak bersinar. Karena ia terlihat tenang dan diam, maka aku akan menamakannya Roro Anteng” ucap Sang mantan Raja sembari menunjukkan bayinya kepada istrinya.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri. Sang Suami merupakan seorang Brahmana. Pada saat yang bersamaan, sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras. Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras, maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar.

Istriku, anak kita menangis dengan suara yang amat keras. Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger

Tahun telah berlalu. Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa. Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik, sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa.

Karena kecantikkan Roro Anteng, banyak pemuda yang datang untuk meminangnya. Tapi, tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.

Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima. Mendengar kabar itu, ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya.

Hai Roro Anteng, apakah kamu mau menerima pinanganku?

Roro Anteng dan keluarganya kebingungan. Bila tidak diterimanya, nanti dusun mereka akan dihancurkan beserta isinya. Joko Seger tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima.  Roro Anteng pun berpikir keras

Kalau aku tidak menerimanya, nanti Bima akan marah

Roro Anteng, jawablah pertanyaanku Roro!” ucap Kyai Bima.

Akhirnya, Roro Anteng mendapat ide. Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus, yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima. Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima.

Hai Bima, aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!

Ha Ha Ha…Baiklah” ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.

Hai Bima, aku menerimanya, tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!

Apa syaratnya?” tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.

Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup, tetapi ia berusaha agar tampak tenang.  Roro Anteng kemudian berkata “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu, tetapi hanya dalam waktu semalam!” perintah Roro Anteng sambil menunjukkan tempat yang dimaksud.

Ha Ha Ha…kalau itu maumu, aku akan melakukannya, itu sangat mudah bagiku!” jawab Kyai Bima dengan nada angkuh.

Tetapi, Bima, kau harus bisa menyelesaikannya sampai waktu ayam berkokok!” ucap Roro Anteng.

Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu. Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar, Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah.

Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau. Hanya beberapa kali kerukan, Kyai Bima berhasil membuat lubang besar.  Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah.

Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar “Aduh, bagaimana ini, raksasa itu benar-benar sakti? Pasti nanti pagi danau itu sudah selesai. Bagaimana caranya agar aku dapat mengalahkannya?

Setelah lama berpikir, akhirnya ia menemukan ide. Ia membangunkan para penduduk desa, termasuk tetangga dan keluarganya. Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung, sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit

Wahai saudara-saudaraku, aku meminta kalian agar menciptakan suasana pagi. Hai kaum perempuan, aku perintahkan kau untuk menumbuk padi. Dan kau kaum laki-laki, aku perintahkan engkau untuk mengumpulkan jerami dan dibakar disebelah Timur agar terlihat seperti matahari terbit

Baiklah Roro Anteng, kami akan melakukannya”. Lalu, kaum laki-laki dan perempuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Roro Anteng.

Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur, disusul dengan suara lesung yang bersahutan.  Ayam pun terbangun dan berkokok.  Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng.

Sial! Pagi sudah tiba. Sementara pekerjaanku tidak selesai. Aku tidak bisa menikahi Roro Anteng” seru Kyai Bima dengan kesal.

Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu. Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah. Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok. Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.

Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang. Tak berapa lama kemudian, mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo. Mereka kemudian membuka desa baru. Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger. Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua, Roro An(teng) dan Joko Se(ger). Mereka pun hidup bahagia.

Setelah bertahun-tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Karena itu, terjadi keresahan di hati mereka berdua.

Dinda, sebenarnya sudah bertahun-tahun kita menjadi suami istri, tetapi mengapa kita belum dikaruniai anak? Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat” ucap Joko Seger.

Sabarlah Kanda, mungkin nanti kita akan dikaruniai anak. Janganlah cepat berputus asa. Serahkan saja semuanya kepada dewa” ucap istrinya untuk menenangkan hati suaminya.

Joko Seger pun bersumpah “Aku bersumpah, bila kita dikaruniai 25 orang anak, salah satu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo!

Setelah suaminya berucap seperti itu, tiba-tiba muncul api dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo. Itu pertanda bahwa doa mereka didengar oleh Dewa. Mereka pun senang dan berterima kasih.

Terima Kasih Dewa, terima kasih karena engkau telah mendengarkan permintaan kami. Kami akan menepati janji kami” .

Tak berapa lama kemudian setelah itu, Roro Anteng diketahui mengandung. Mereka bertambah senang dan bahagia karena saat yang ditunggu-tunggu tiba. Sembilan bulan kemudian, Roro Anteng melahirkan seorang bayi kembar laki-laki.  Ada yang kembar dua, tiga, hingga anak mereka menjadi 25.

Kebahagiaan mereka bertambah. Setelah itu, Roro Anteng tidak melahirkan lagi.  Mereka mengasuh dan mendidik ke 25 anak mereka dengan ikhlas. Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi dewasa. Nama anak yang paling bungsu adalah Jaya Kusuma. Karena terlena dalam kebahagiaan, Joko Seger menjadi lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salah satu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo.

Pada suatu malam, ketika Joko Seger tidur, Dewa menegurnya agar menepati janjinya untuk mempersembahkan salah satu anaknya untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo melalui mimpi.

Wahai Joko Seger tepatilah janjimu untuk mempersembahkan salah satu anakmu untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo!

Joko Seger pun tersentak kaget dan terbangun.  ”Aduh, bagaimana ini? Siapa diantara putra putriku yang harus aku persembahkan? Aku sangat menyayangi mereka semua” Joko Seger yang masih dalam keadaan gelisah pun melanjutkan tidurnya.

Pada Keesokan harinya, Saat pagi hari, Joko Seger bangun dari tidurnya. Joko Seger pun mulai gelisah karena ia belum menepati janjinya. Makin hari ia semakin gelisah karena belum menepati janjinya.  Akhirnya ia ingin menceritakan semuanya kepada anak-anaknya

Apa aku harus membicarakan ini kepada anak-anakku? mudah-mudahan saja ada salah satu dari mereka yang mau menjadi persembahan

Joko Seger dan isrinya kemudian mengumpulkan anak-anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga. Ia menjelaskan janjinya yang pernah ia ucapkan

Anak-anakku, Ayah sebenarnya mempunyai sebuah janji yang melibatkan kalian

Janji apakah itu ayahku?” tanya anak-anaknya.

Sebelum kalian lahir, Ayah dan Ibumu ini sudah lama tidak dikaruniai anak. Padahal Ayah dan Ibumu ini sudah banyak berdoa dan berusaha. Karena Ayah dan Ibumu ini tidak juga dikaruniai anak, maka Ayah mengucapkan sebuah janji yaitu bila Anak ayah ada 25, salah satu dari mereka harus ada yang dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo” jawab Joko Seger sambil menjelaskan.

Lalu, apakah yang melibatkan kami Ayahku?” tanya anak-anaknya.

Apakah salah satu dari kalian ada yang mau menjadi persembahan di kawah Gunung Bromo?” tanya Sang Ayah.

Ayahandaku, apakah ayahanda tega mengorbankan anak ayahanda sendiri, mengapa ayah berjanji seperti itu? Apakah ayahanda tidak sayang dengan kami?” tanya salah satu anaknya.

Bukan begitu anakku, aku hanya ingin dikaruniai anak, sehingga ayahmu ini berjanji demi dikaruniai anak. Ayah itu sangat sayang dengan kalian semua, jadi ayah tidak tega untuk mempersembahkan salah satu dari kamu semua menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo” ucap ayahnya kepada anak-anaknya.

Ampun Ayahanda, ananda pokoknya tidak mau menjadi persembahan di Gunung Bromo. Kami tidak ingin mati muda Ayahanda” ucap si Sulung.

Iya, kami tidak mau mati dibakar oleh panasnya kawah Gunung Bromo!” ucap putra-putrinya, kecuali si Jaya Kusuma.

Ayahanda, Ibunda, aku mau dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo ayahanda, demi ketenangan ayahanda.  Ananda sangat menginginkan bahwa Ayahanda itu bahagia.  Biarlah Ananda yang dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo” ucap si bungsu, Jaya Kusuma. Mendengar perkataan Kusuma, semuanya menjadi sedih.

Jaya Kusuma anakku, mengapa kamu berani untuk kami persembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo? Sedangkan kakak-kakakmu tak berani melakukannya” ucap Joko Seger.

Ananda akan melakukan apa saja, termasuk dikorbankan, demi keselamatan penduduk Tengger dan Ayahanda, Ibunda, serta kakak-kakakku. Sekarang, ijinkanlah aku pergi ke kawah Gunung Bromo” ucap Jaya Kusuma.

Jaya Kesuma lalu berpamitan kepada kedua orangtuanya “Ayahanda, Ibunda, Ananda akan pergi ke kawah Gunung Bromo. Ananda hanya meminta restu dan doa kalian. Kirimlah hasil ladang ke Ananda dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan, tanggal 14 bulan Kasadha. Ananda akan pergi ke kawah sekarang

Tunggu Kusuma, kami akan ikut ke kawah dan mengajak semua penduduk mengantarmu ke kawah” ucap Joko Seger.

Joko Seger lalu memanggil seluruh penduduk Tengger. Setelah itu, Joko Seger, keluarga, dan para penduduk Tengger beserta Jaya Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo. Setelah sampai, Jaya Kesuma menyampaikan pesan kepada rakyat Tengger

Aku akan menceburkan diri kedalam kawah demi ketentraman Rakyat Tengger disini. Kirimkanlah aku hasil ladang pada saat terang bulan, yaitu pada tanggal ke 14 bulan Kasadha” ucap Jaya Kusuma.

Setelah berucap seperti itu, ia menceburkan diri kedalam kawah Gunung Bromo. Tak ada rasa takut yang muncul dari wajahnya.

Jaya Kusuma….  Anakku” seru ayahnya dari atas kawah.

Dari Peristiwa itulah Tradisi Kasada berawal dan tetap dilestarikan oleh Masyarakat Suku Tengger hingga saat ini dan ditetapkan sebagai Hari Raya mereka. Tradisi tersebut dilakukan di Poten di area Lautan Pasir dan Kawah Gunung Bromo.

Perlu diketahui, meskipun Masyarakat Tengger merupakan penganut Agama Hindu namun tempat peribadatan mereka berbeda dari Pemeluk Agama Hindu pada Umumnya. Tidak berupa Candi-Candi namun mereka melakukan sembahyang di Punden dan Poten.

Poten merupakan sebidang tanah di Lautan Pasir Gunung Bromo yang merupakan tempat Pemujaan bagi Masyarakat tengger, dibagi dalam beberapa bangunan dan memiliki tiga mandala atau zona sebagai berikut :

Mandala Utama : Sebagai tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan. Mandala itu sendiri terdiri dari Padma berfungsi sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda, dan Angsa.

Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana. Dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana. Menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Kori Agung Candi Bentar. Bentuknya mirip dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas. Lengkap dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi.

Mandala Madya : Sebagai tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari Kori Agung Candi Bentar. Bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas. Memiliki bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan atau disebut juga bale kul-kul. Letaknya disudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.

Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci. Letaknya di antara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

Mandala Nista : Disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker. Batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/ sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *