Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi – Sejarah dan Bentuk Pelaksanaannya

Tradisi Kebo-Keboan. Suku Osing, masyarakat pribumi asli Banyuwangi di Jawa Timur memiliki beragam tradisi dan kesenian yang khas. Dalam hal ini, tradisi dan kesenian dalam kebudayaan Osing sangatlah terkait dengan berbagai mitos-mitos.

Berbagai ritual budaya Osing yang dapat kita jumpai di antaranya; Tradisi Ider Bumi, Tumpeng Sewu serta kesenian Tari Seblang. Selain itu ada juga Tradisi Kebo-keboan, tradisi unik Suku Osing yang sedikit banyak akan kita bahas dalam artikel ini.

Istilah Kebo-keboan sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang berarti kerbau jadi-jadian (kerbau mainan). Kerbau merupakan hewan yang sangat akrab dalam kehidupan laros atau lare Osing (sebutan orang Osing) sebagai masyarakat agraris.

Hewan kerbau adalah mitra para petani yang menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat desa, yang memang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, kerbau mereka pilih untuk menjadi perlambang atau simbol Tradisi Kebo-keboan.

Kebo-keboan telah menjadi bagian dari rangkaian tradisi turun-temurun di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi dan Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Uniknya, Kebo-keboan di dua desa tersebut tidaklah sama, terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya.

Menurut Hasnan Singodimayan (Budayawan Banyuwangi). Meski sama-sama ritual kerbau jadi-jadian, antara Desa Aliyan dan Desa Alasmalang berbeda. Di Desa Aliyan bernama Keboan bukan Kebo-keboan, istilah Kebo-keboan lebih akrab dengan Desa Alasmalang.

Masyarakat desa yang menjadi manusia kerbau di Desa Aliyan tidak ditentukan oleh pemuka adat desa setempat. Melainkan arwah leluhur yang memilih siapa saja yang menjadi keboan. Sedangkan di Desa Alasmalang, pemeran Kebo-keboan ditentukan dan dipilih oleh pemuka adat” (Hasnan Singodimayan).

Bentuk Pelaksanaan Tradisi Kebo-Keboan

Kebo-keboan dalam kebudayaan suku Osing merupakan tradisi ritual yang rutin terselenggarakan setiap setahun sekali. Tepatnya terjadi pada bulan Muharam atau Suro jika dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini konon telah ada sejak abad ke-18.

Keberadaannya merupakan bagian dari rangkaian selamatan desa untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen sekaligus sebagai upacara bersih desa. Melalui Kebo-keboan, suku Osing berharap keselamatan dan terhindar dari segala marabahaya.

Masyarakat Osing sebagai penyangga budaya Banyuwangen sangatlah kuat dalam menjaga tradisi dan budaya mereka. Terkait dengan Kebo-keboan, ada keyakinan bahwa apabila mereka tinggalkan maka akan muncul berbagai musibah yang melanda desa.

Dalam pelaksanaannya, upacara Kebo-keboan Banyuwangi melibatkan para lelaki yang bertubuh tambun yang berdandan layaknya kerbau. Sebagai ciri khas utamanya, mereka menggunakan hiasan kepala berupa tanduk buatan serta berkalung lonceng.

Agar tampak seperti kerbau, mereka juga melumuri sekujur tubuh dengan cairan hitam yang biasanya terbuat dari oli dan arang. Kemudian mereka berjalan dengan menarik bajak di sepanjang jalan desa dengan iringan musik tradisional khas Banyuwangi.

Referensi:

  1. http://www.banyuwangibagus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *