• sumber : solselwisata.blogspot.com

Kesenian Batombe – Seni Tradisi Berbalas Pantun di Sumatera Barat

Batombe adalah nama salah satu kesenian tradisional dari Propinsi Sumatera Barat. Tepatnya berasal dari Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok. Kesenian Batombe adalah seni pertunjukan berupa balas-membalas pantun yang dilagukan antara laki-laki dan perempuan.

Menariknya, karena Batombe terlahir dan terikat dengan aturan adat yang berlaku, maka terdapat syarat yang mengikat sebelum dilaksanakannya kesenian ini. Diantara syarat tersebut adalah penyembelihan sapi, kerbau atau kambing. Dikatakan melanggar aturan atau berutang secara adat apabila Batombe dilakukan tanpa penyembelihan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, alur Batombe dimulai dengan pembacaan pantun pembuka oleh seorang datuk. Kemudian, terdapat 13 pemain yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. 12 pemain memasuki arena dengan membentuk lingkaran, sedangkan satu pemain akan menari didalam lingkaran tersebut.

Kesenian tradisional ini berjalan dengan penuh keceriaan dengan diringi oleh musik dari gendang dan talempong. Bertempo cepat senada dengan irama tarian dan nyanyian para pemain. Suasana semakin meriah dengan kehadiran para penonton yang ikut menari bersama-sama. Suasana tersebut berjalan hingga pada bagian akhir.

Dalam hal tata busana, para pemain Batombe menggunakan pakaian adat khusus menyerupai pakaian Randai atau Silat. Sebagai pembeda hanyalah terletak pada motif yang ada pada lengan baju yang disulam dengan benang emas serta warna pakaian yang lebih bervariasi.

Celana yang digunakan menyerupai sarung dengan dirancang lebih besar di bagian paha. Mereka juga menggunakan ikat kepala berwarna kuning keemasan, sementara pada area pinggang dihiasi dengan sehelai kain bersulam benang emas.

Sejarah Kesenian Batombe

Sejarah kesenian ini selalu dikaitkan dengan tradisi pembangunan Rumah Gadang. Masyarakat Nagari Abai membangun rumah yang akan ditempati bersama-sama agar terhindar dari ancaman satwa liar serta cuaca yang tidak bersahabat. Dalam proses pembangunan Rumah Gadang tersebut, terciptalah kesenian Batombe yang ditujukan untuk memotivasi para pria dewasa agar kembali bersemangat dalam menebang pohon setelah makan siang.

Rumah Gadang yang pertama dibangun adalah Rumah Gadang 21 Ruang dan menjadi rumah adat terpanjang di Sumatera Barat. Dalam perkembangannya, rumah tersebut juga difungsikan sebagai tempat pertemuan dan Pusat Pagelaran Seni Budaya.

Perihal aturan adat yang menjadi syarat dilaksanakannya tradisi kesenian Batombe adalah diawali dengan keberadaan sebatang pohon yang hendak dijadikan tiang Rumah Gadang 21 Ruang. Pohon yang dimaksud tidak bisa ditarik setelah ditebang. Menariknya, tatkala seekor kerbau disembelih, pohon tersebut pun bisa ditarik oleh beberapa penduduk.

Tradisi kesenian Batombe hingga kini tetap lestari meskipun sejak tahun 1960-an tidak ada lagi pembangunan rumah adat di Nagari Abai. Kesenian ini tetap terjaga dan menjadi salah satu tradisi lisan Minang yang cukup populer sebagai media hiburan masyarakat. Sering kali digelar sebagai hiburan pada pesta perkawinan, pengangkatan datuk, festival kebudayaan, penyambutan tamu khusus, dan ajang promosi pariwisata daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *