• sumber : reresepan.com

Tradisi Makepung – Atraksi Adu Cepat Kerbau di Jembrana, Bali

posted in: Bali, Tradisi | 0

Tradisi Makepung Bali. Tradisi di Indonesia memang unik dan sangatlah beragam. Keberagaman tersebut selalu senada dengan kebiasaan masyarakat pelaku tradisi, sehingga tidak jarang keberadaan Tradisi akan memanfaatkan berbagai properti dalam keseharian masyarakat.

Dalam budaya masyarakat agraris, dimana keberadaan hewan kerbau dan sapi memiliki peranan yang penting dalam keseharian Masyarakat petani. Disisi lain hewan-hewan tersebut juga dimanfaat sebagai pendukung budaya mereka. Salah satu tradisi masyarakat agraris tersebut adalah atraksi Makepung oleh masyarakat di Kabupaten Jembrana, Bali.

Tradisi Mekepung secara sekilas sangat mirip dengan tradisi Karapan Sapi di Madura yang keduanya lahir sebagai budaya basyarakat Agraris. Hanya saja pada Makepung, hewan yang digunakan adalah Kerbau. Makepung oleh orang-orang Bali dimaknai dengan berkejar-kejaran.

Atraksi ini terinspirasi oleh tahap pengolahan tanah sawah. Tepatnya proses melumatkan tanah menjadi lumpur dengan menggunakan Bajak Lampit Slau (Bajak Kayu Tradisional) yang ditarik oleh dua Kerbau yang berkalungkan Genta Gerondongan. Biasanya aktivitas ini dikerjakan secara gotong royong yang melibatkan banyak Bajak yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau dengan dikendalikan oleh seorang sais yang berdiri diatas Bajak Lampit Slau.

Pelaksanaan Tradisi Makepung

Atraksi Makepung dalam pelaksanaannya sangatlah berbeda dengan karapan atau balapan lain. Dalam perlombaan ini pemenang tidaklah ditentukan pada siapa yang tercepat menyentuh garis finish, melainkan ditentukan oleh jarak antar pembalap. Setelah pembalap pertama dilepaskan, terdapat rentang jarak sekitar 10 meter untuk keberangkatan pembalap yang kedua.

Selanjutnya kedua pembalap Makepung saling memacu kerbau-kerbau mereka. Ketika keduanya telah sampai di garis finish, penentuan pemenang akan dilihat dari jarak keduanya. Apabila pembalap kedua berjarak kurang dari 10 meter dari pembalap pertama maka pembalap kedualah yang ditetapkan sebagai pemenang.

Tradisi Makepung mulai berkembang pada kisaran tahun 1930 dengan joki atau sais biasanya memakai baju adat Bali dengan ikat kepala bercorak khas bali. Hingga saat ini atraksi balap kerbau ini tetap lestari dan menjadi agenda tahunan yang ikut memajukan Wisata Budaya Bali.

Makepung adalah salah satu daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Bali. Atraksi ini biasanya dimulai bulan Juli hingga November dengan pertandingan bergilir di beberapa lokasi sirkuit dan biasanya berlangsung selama akhir pekan pada hari minggu pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *