• sumber : kaba12.co.id

Malamang – Tradisi Minang Saat Ramadhan, Idul Fitri & Maulid Nabi

posted in: Sumatera, Sumatera Barat, Tradisi | 0

Tradisi Malamang. Keragaman budaya masyarakat di Indonesia telah memberi warna yang turut menciptakan harmonisnya kehidupan. Hal ini semakin kentara ketika tiba saat-saat istimewa, dimana dalam satu keyakinan banyak dihiasi oleh tradisi yang berbeda-beda. Sebagai misal adalah tradisi menyambut Ramadhan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Selain disambut dengan Mandi Balimau, ada juga Tradisi Malamang yang mewarnai kedatangan bulan puasa tersebut.

Malamang adalah tradisi memasak lemang, yakni penganan berbahan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan dalam bambu. Bambu tersebut adalah bambu yang dialasi oleh daun pisang muda yang kemudian dipanggang di atas bara api. Setelah siap, biasanya lemang ini akan disajikan bersama tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasikan. Meski telah menjadi tradisi yang tersebar di sebagian besar wilayah Minangkabau, kuliner lemang juga bisa ditemukan di negara Semenanjung.

Dalam prakteknya, Tradisi Malamang akan melibatkan banyak orang dan dilakukan secara gotong royong oleh sekelompok masyarakat atau kerabat. Tradisi kuliner khas Minang ini tidaklah secara khusus dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan saja, namun juga dilakukan saat acara Maulud Nabi serta acara perhelatan atau selamatan. Lemang umumnya digunakan hanya sebagai kudapan atau penganan yang dihidangkan kepada para tamu.

Dalam kaitannya dengan penyambutan bulan Ramadhan, Tradisi Malamang mewarnai kegiatan silaturahmi sebagai hidangan khas yang disajikan kepada para tamu. Penyajian lemang menjadi simbol penghormatan kepada tamu yang datang. Selain di bulan Ramadhan, tradisi ini biasa dilakukan pada Maulud Nabi, tepatnya pada hari ke-12 Rabiul Awal. Sementara itu, di beberapa daerah ada juga yang melaksanakannya untuk memperingati hari kematian, khususnya di hari ke 14, 40 dan 100.

Sejarah Tradisi Malamang

Dalam sejarahnya, tradisi kuliner ini sangat erat kaitannya dengan peran Syekh Burhanuddin asal Pariaman. Ketika merujuk pada Tambo (kisah-kisah tentang asal-usul dan kejadian masa lalu di Minangkabau), dikisahkan bahwa Syekh Burhanuddin suka berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturahmi dan menyiarkan agama Islam.

Sudah menjadi kebiasaan penduduk untuk menjamu para tamu, namun ulama tersebut agak meragukan perihal kehalalan hidangan yang disajikan oleh mereka. Selanjutnya, Syekh Burhanuddin pun menyarankan kepada penduduk yang dikunjunginya untuk mencari bambu dan mengalasinya dengan daun pisang muda.

Diisilah bambu tersebut dengan beras ketan putih dicampur santan dan kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar. Dari sini, kebiasaan membuat penganan yang disebut lemang ini mentradisi. Nuansa kegotong-royongan sangat melekat dalam tradisi ini, ada yang bertugas mencari bambu, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menyiapkan bahan-bahan dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *