Tradisi Meugang Aceh – Budaya Menyambut Bulan Ramadhan dan Lebaran

Tradisi Meugang. Dalam menyambut Bulan Puasa Ramadhan, setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri, tidak terkecuali di Aceh. Berbeda dengan lainnya, masyarakat Aceh menyambut Ramadhan dengan mendatangi pasar untuk membeli daging sapi.

Daging sapi tersebut selanjutnya mereka masak dan menyantapnya secara bersama-sama dengan kerabat. Sebagian dagingnya juga ada yang mereka bagikan kepada yatim piatu. Budaya masyarakat Aceh yang satu ini terkenal dengan nama Tradisi Meugang.

Tradisi Meugang biasanya berlangsung saat dua hari menjelang Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam hal ini, seluruh keluarga atau rumah tangga di dalam masyarakat Aceh memasak daging yang nantinya disantap bersama oleh seisi rumah.

Pantang jika keluarga tidak memasak daging pada hari Meugang. Meugang memiliki nilai religius karena terselenggara di hari-hari suci umat Islam. Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah selama 11 bulan wajib mereka syukuri dalam bentuk Tradisi Meugang.

Asal Usul Istilah Meugang

Nama lain Meugang adalah makmeugang, memeugang, haghi mamagang, uroe meugang, dan uroe keumeukoh. Penamaan ini berasal makmeugang. Merujuk situs melayuonline.com, menurut Amir Hamzah (tokoh masyarakat Aceh) gang (bahasa Aceh) berarti pasar.

Telah lazim bahwa aktivitas di sebuah pasar yang pada hari menjelang Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha tidaklah seperti hari-hari biasa. Umumnya pasar-pasar di berbagai daerah sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat yang ingin membeli daging.

Dari situlah muncul kalimat makmu that gang nyan yang berarti makmur sekali pasar itu. Lama-kelamaan kalimat tersebut berubah menjadi istilah makmeugang. Seiring perkembangan bahasa istilah tersebut berubah menjadi Meugang.

Sejarah Tradisi Meugang Aceh

Tradisi di Aceh ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Hadir bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di wilayah Aceh pada abad ke-14 M. Berawal dari masa kerajaan Aceh, terkait kebiasaan sultan memotong hewan dalam jumlah banyak.

Kemudian dagingnya dibagi-bagikan secara gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Kebiasaan tersebut tetap lestari setidaknya hingga kerajaan Aceh takluk kepada penjajah Belanda pada tahun 1873.

Kenyataan tersebut membuat kerajaan bangkrut. Meski demikian, rakyat Aceh yang menganggap tradisi itu telah mengakar dalam kehidupan mereka, secara mendiri berpartisipasi dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan Meugang.

Tradisi ini juga membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yakni melalui pengawetan daging. Dengan daging awetan, para pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Tradisi Meugang bagi masyarakat Aceh merupakan momen untuk bersedekah dan mengandung nilai kebersamaan. Selain itu, juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa memberi keberlimpahan rezeki kepada mereka.

Saat Meugang, banyak dermawan membagi-bagikan daging untuk fakir miskin sehingga terbangun interaksi sosial dan kebersamaan. Dengan begitu, semua warga meski berasal dari keluarga tak mampu bisa menikmati masakan daging pada hari istimewa tersebut.


Referensi:

  1. id.wikipedia.org/wiki…
  2. acehpedia.org/Tradis…
  3. melayuonline.com/in…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *