• sumber : travellink-indonesia.com

Meugang, Aceh – Tradisi Memasak Daging Menjelang Ramadhan

posted in: Aceh, Sumatera, Tradisi | 0

Tradisi Meugang. Dalam menyambut datangnya Bulan Puasa Ramadhan, setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri, tidak terkecuali di daerah Aceh. Berbeda dengan apa yang dilakukan di daerah lain, masyarakat Aceh menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan dengan berbondong-bondong mendatangi pasar untuk membeli daging sapi. Daging tersebut selanjutnya dimasak dan dinikmati bersama kerabat serta sebagian lainnya dibagikan kepada yatim piatu. budaya masyarakat Aceh ini dikenal dengan nama Tradisi Meugang.

Dalam Tradisi Meugang yang biasa dilaksanakan dua hari menjelang Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, seluruh keluarga atau rumah tangga dalam masyarakat Aceh memasak daging yang nantinya disantap oleh seisi rumah. Pantang jika keluarga tidak memasak daging pada hari Meugang. Meugang memiliki nilai religius karena dilakukan di hari-hari suci umat Islam. Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk Tradisi Meugang.

Asal Usul Istilah Meugang

Tradisi Meugang juga dinamai lain seperti Makmeugang, Memeugang, Haghi Mamagang, Uroe Meugang serta Uroe Keumeukoh. Penamaan tradisi ini diketahui berangkat dari istilah Makmeugang. Ketika merujuk pada situs melayuonline.com, seperti apa yang dikatakan oleh Amir Hamzah (Tokoh Masyarakat Aceh) bahwa Gang (bahasa Aceh) berarti pasar.

Seperti diketahui, sebuah pasar yang pada hari menjelang Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha aktivitasnya tidaklah seperti hari-hari biasa. Umumnya sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk membeli Daging. Dari situlah muncul istilah Makmu That Gang Nyan (Makmur sekali pasar itu) yang lama-kelamaan berubah menjadi nama Makmeugang. Seiring perkembangan bahasa istilah tersebut berubah menjadi Meugang.

Sejarah Tradisi Meugang

Tradisi Meugang di Aceh diketahui telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di Aceh pada Abad ke-14 M. Dimulai pada masa kerajaan Aceh dimana sultan memotong hewan dalam jumlah banyak. Kemudian dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya.

Kebiasaan tersebut terus dilakukan setidaknya hingga kerajaan Aceh ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1873. Karena kerajaan bangkrut, rakyat Aceh yang menganggap tradisi itu telah mengakar dalam kehidupan mereka, berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkannya meugang.

Tradisi ini juga membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Tradisi Meugang bagi masyarakat Aceh disamping merupakan momen untuk bersedekah dan mengandung nilai kebersamaan, juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan sebagai pemberi rezeki. Banyak dermawan membagi-bagikan daging untuk fakir miskin sehingga terbangun interaksi sosial dan kebersamaan. Dengan begitu, semua warga meski berasal dari keluarga tak mampu bisa menikmati masakan daging pada hari istimewa tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *