• sumber : beritagar.id

Mubeng Beteng – Tradisi Ritual Sambut 1 Suro di Yogyakarta

posted in: Jawa, Tradisi, Yogyakarta | 0

Mubeng Beteng atau disebut Topo Bisu Mubeng Beteng atau Ritual Lampah Bisu Mubeng Beteng adalah budaya lokal masyarakat Jawa di Yogyakarta. Tradisi ini menjadi salah satu pesona Yogyakarta yang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nasional.

Mubeng Beteng adalah ritual khas dalam menyambut awal tahun baru penanggalan jawa (1 Suro) dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 4 km mengelilingi Benteng Keraton Kasultanan Yogyakarta. Tradisi ini terbuka bagi siapa saja dengan syarat dilakukan dengan benar-benar diam.

Ritual Topo Bisu Mubeng Beteng difungsikan sebagai sebuah refleksi masyarakat Jawa atas keberadaannya dihadapan Sang Pencipta yang diwujudkan dengan mengelilingi Benteng dalam kebisuan. Hal ini berbeda dengan penyambutan tahun baru masehi yang biasanya dirayakan dengan suka cita, masyarakat Yogyakarta lebih menyambut malam 1 Suro dengan aksi diam dan berdoa.

Adapun penetapan malam 1 Suro biasanya merujuk pada Kalender Sultan Agungan dimana hari-hari penting sejak tahun 1936 hingga tahun 2056 sudah tertulis dan terhitung oleh Keraton Yogyakarta. Dikatakan bahwa, Ritual ini bukanlah sebuah budaya yang diciptakan oleh pihak keraton dan bahkan diyakini telah ada sejak abad ke-6 sebelum adanya Kerajaan Mataram-Hindu.

Tradisi Mubeng Beteng dahulu dikenal dengan nama Muser atau Munjer yang dimaknai dengan berkeliling mengelilingi pusat. Pusat yang dimaksud adalah pusat wilayah desa dan sejak munculnya Kerajaan, pusat disini lebih mengarah pada wilayah pusat kerajaan sehingga kebiasaan Muser dialihkan dengan mengelilingi pusat kerajaan.

Di zaman Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede, Tradisi Mubeng Benteng bisa dilihat pada aktivitas prajurit yang ditugaskan untuk berjaga dan mengelilingi benteng untuk menjaga Keraton. Kemudian setelah kerajaan membangun parit disekeliling benteng, tugas tersebut dialihkan kepada abdi dalem keraton.

Para abdi dalem memiliki kebiasaan dalam menjalankan tugasnya yakni berdiam membisu dambil membaca doa-doa di dalam hati untuk memohon keselamatan. Sejak saat itulah tradisi ini semakin berkembang.

Malam Satu Suro menjadi malam tirakatan, salah satunya diwujudkan dalam kebiasaan Mubeng Benteng yang dilakukan Abdi Dalem Keraton dan diikuti juga oleh ribuan warga yang turut berjalan mengelilingi Benteng Kraton Yogyakarta dalam keadaan diam dan berdoa.

Pelaksanaan Tradisi Mubeng Beteng

Ritual Lampah Bisu Mubeng Beteng biasa dimulai pada pukul 00.01 WIB ditandai dengan lonceng Kyai Brajanala di Regol Keben yang berdenting sebanyak 12 kali. Biasanya Masyarakat yang ingin mengikuti tradisi ini berkumpul di pelataran Keben Keraton.

Meskipun baru dimulai dini hari, masyarakat sangat antusias untuk mengikutinya. Pelataran Keben biasanya telah ramai sejak pukul 20.00 WIB. Dalam pelaksanaannya, perjalanan dimulai dengan berjalan kaki keluar dari Regol Keben dengan rute yang telah ditentukan sebagai berikut :

Keben – Jl. Rotowijayan – Jl. Kauman – Jl Agus Salim – Jl. Wahid Hasyim – Suryowijayan – pojok Benteng Kulon – Jl. Letjen Mt Haryono – Jl. Mayjen Sutoyo – pojok Benteng Wetan – Jl. Brigjen Katamso – Jl. Ibu Ruswo – Alun-alun Utara.

Disini para Abdi Dalem menempati posisi terdepan dengan membawa bendera dan panji-panji Keraton, Lampu Teplok dan kemenyan. Masyarakat yang mengikuti acara ini berada di belakang Abdi Dalem, berjalan tanpa kata, tanpa makan maupun rokok.

Dalam perjalanan tersebut peserta diharapkan untuk dapat merefleksikan apa saja yang telah dilakukan ditahun yang lalu dan berdoa untuk kebaikan da tahun-tahun mendatang.

Meskipun hanya berupa jalan kaki, biasanya Tradisi Mubeng Benteng ini cukup menyedot perhatian masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Jogja. Baik itu untuk mengikuti jalannya acara atau sekedar ingin menyaksikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *