Naik Dango, Kalimantan Barat – Tradisi Ritual Padi Suku Dayak Kanayatn

Naik Dango. Ritual padi merupakan satu bentuk kearifan yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat tradisi. Kesadaran akan adanya keterikatan kuat dengan Sang Pencipta, memicu rasa bersyukur atas keberlimpahan padi sebagai kebutuhan pokok bagi penghidupan.

Dalam hal ini, masing-masing suku di Indonesia memiliki upacara panen padi yang unik. Ada Seren Taun Suku Sunda, ada A’dengka Ase Lolo di Tanah Bugis dengan Atraksi Adu Betis-nya. Adapun artikel ini akan mencoba lebih dekat dengan Tradisi Naik Dango oleh Suku Dayak.

Diantara 450-an subsuku Dayak, ada Suku Dayak Kanayatn yang umumnya tersebar di bagian barat Kalimantan. Dari suku tersebutlah dikenal Naik Dango sebagai salah satu Gawai Dayak. Gawai merupakan istilah umum untuk menyebut pesta padi dalam budaya Dayak.

Naik Dango merupakan puncak dari serangkaian ritual perladangan yang dimaksudkan untuk memanjatkan rasa syukur kepada Jubata (Tuhan Yang Maha Tinggi). Dalam tradisi ini juga dipanjatkan doa agar panen tahun mendatang melimpah, dijauhkan dari hama dan bencana.

Sebuah tradisi nan sakral sebagai wujud kemesraan manusia, alam dan Tuhan-nya. Dayak Kanayatn meyakini bahwa alam adalah saudara. Selain itu, kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah mengharuskan mereka menghormati tanah dan segala yang dihasilkannya.


Sejarah Tradisi Naik Dango

Kesejarahan tradisi panen padi oleh Suku Dayak Kanayatn ini sangatlah terkait dengan kuatnya tradisi lisan dalam lingkup budaya masyarakatnya. Beberapa diantaranya adalah sastra lisan tentang asal mula Dayak Kanayatn, asal mula penduduk Kalimantan, serta asal mula Padi.

Cerita-cerita yang berhubungan dengan asal-usul masyarakat Dayak Kanayatn menggambarkan betapa tingginya nilai kearifan dalam kehidupan mereka. Kesadaran bahwa menusia tercipta dari debu tanah mengharuskan mereka menghormati segala sesuatu yang dihasilkan oleh tanah.

Mereka juga sangat percaya bahwa manusia dan segala isi alam adalah saudara. Oleh karena itu mereka harus menghormati dan tidak boleh berlaku sembarangan atas apapun yang ada di alam raya ini. Sebagai salah satu wujudnya, Dayak Kanayatn selalu menandai setiap peristiwa dengan upacara.

Sebagai penghormatan terhadap tanah, Suku Dayak Kanayatn menyelenggarakan upacara perladangan, baik diawal maupun diakhir. Sebelum musim tanam dimulai, ada ritual pemberkatan seluruh peralatan pertanian. Sebagai puncaknya diadakan upacara lagi, yakni yang disebut Naik Dango.

Upacara Naik Dango sendiri berangkat dari mitos tentang asal mula padi. Kisah seekor burung pipit yang mencuri setangkai padi miliki Jubata di Gunung Bawang. Padi tersebut kemudian jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau. Dari cerita inilah manusia mulai mengenal padi sebagai makanan pokok.

Secara tradisional, masyarakat Kanayatn melakukan tradisi ini hanya sebatas nyangahatn (pembacaan doa atau mantra). Setelahnya dilanjutkan dengan saling kunjung-mengunjungi tetangga dengan memberi suguhan berupa makanan tradisional yang terbuat dari hasil panen tahunan.

Meski tampak sederhana, pelaksanaan Naik Dango secara tradisi berlangsung lama, mulai pada kisaran bulan April hingga Juni. Seiring perkembangannya, sehubungan dengan Gawai (Pesta Padi) Dayak secara umum, maka diadakan pula Naik Dango versi modern yang biasa diselenggarakan pada 27 April di setiap tahunnya.

Jika versi tradisional hanya melibatkan antar warga sekitar dan tanpa ada kemeriahan apapun, versi modern di desain sangat meriah. Sebagai Gawai Dayak, Naik Dango diselenggarakan sangat meriah diwarnai perlombaan-perlombaan seni tradisional dan mengundang beberapa pejabat dan pemuka adat.


Pelaksanaan Tradisi Naik Dango

Baik secara tradisional maupun modern, pelaksanaan tradisi ini akan diawali dengan persiapan yang disebut dengan batutuk sehari sebelumnya. Persiapan ini berupa menumbuk padi dengan lesung oleh kaum wanita. Hal ini ditujukan untuk menyiapkan penganan adat untuk disuguhkan keesokan harinya.

Ada upacara yang dinamakan matik dalam batutuk, berupa penyampaian maksud atau hajat kepada Jubata (Tuhan) dan Awa Pama (arwah nenek moyang), agar mendapatkan restu. Dalam upacara ini ada sesaji yang terdiri dari tumpi’ sunguh (sejenis cucur), tungkat atau solekng poe’ (ketan), serta sirih masak.

Setelah upacara tersebut akan dilakukan Nyangahatn sebagai inti kegiatan ritual yang berupa pembacaan doa oleh Panyangahatn (imam adat). Doa di lumbung padi ini berisikan mantra-mantra pemanggilan pulang semangat padi yang masih diperjalanan agar berkumpul, sekaligus ucapan syukur dan memohon berkat penggunaan padi di lumbung untuk keperluan pangan.

Setelah para Panyangahatn menyelesaikan ritual Nyangahatn, masyarakat Dayak Kanayatn dari berbagai kampung akan menyimpan hasil panen mereka di rumah betang. Para pangayokng atau kontingen menyerahkan hasil panen dengan ragam atraksi yang dihantar oleh para pemuda dan tokoh adat setempat

Secara tradisi, Naik Dango berlangsung cukup panjang, antara bulan April sampai dengan bulan Mei. Karena saat ini telah diakui sebagai salah satu tradisi besar Suku Dayak Kanayatn, maka ada pula penyelenggaraan lebih modern secara besar-besaran yang berlangsung tiga hari , 27-30 April setiap tahun.

Naik Dango modern merupakan upacara besar yang sangat meriah. Beragam kegiatan turut mewarnainya. Ada permainan rakyat, kesenian rakyat, serta sajian beragam kreatifitas pemuda-pemuda Dayak Kanayatn. Saking meriahnya, acara ini juga menjadi magnet yang menarik banyak wisatawan, termasuk turis mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *