Pemamanan – Tradisi Sunatan Khas Masyarakat Suku Alas Aceh Tenggara

Menempati sela-sela Bukit Barisan, Aceh Tenggara daerahnya membentang datar layaknya alas (tikar) dan merupakan lumbung padi bagi daerah Aceh. Di sanalah tempat hidup Suku Alas yang terkenal dengan budaya Altruis (tolong menolong). Pemamanan menjadi salah satu wujud dari budaya tersebut.

Tradisi Pemamanan merupakan tradisi ritual adat berkaitan dengan prosesi khitanan terhadap anak laki-laki dalam budaya masyarakat Suku Alas di Kabupaten Aceh Tenggara. Penamaan tradisi ini berasal dari istilah “paman”, yakni sebutan untuk seorang laki-laki dari garis keturunan ibu-adik atau kakak-ibu.

Penamaan tersebut terkait dengan kebudayaan Suku Alas yang mempercayai paman sebagai penanggung jawab atas perhelatan pesta sunat atau khitan dan nikah keponakannya. Dalam tradisi ritual inilah setiap paman dalam masyarakat Alas mempertaruhkan marwah demi kesuksesan pesta keponakannya.

Lebih Dekat Dengan Tradisi Pemamanan

Ritual sunatan yang telah diwariskan turun-temurun selama puluhan tahun ini biasanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Namun bergantung juga dengan kemampuan paman dari lelaki yang melakukan prosesi ritual adat ini. Sehingga, ada juga yang hanya menggelarnya selama empat hari empat malam.

Sebagai penanggung jawab, paman akan melangsungkan kenduri di rumahnya dengan memanggil masyarakat kampung sekaligus menyampaikan hajat keluarga keponakannya. Dalam tradisi ini, terdapat proses pengumpulan uang dari masyarakat kampung sebagai bentuk gotong-royong tanda hidup saling berdampingan.

Seorang paman juga bertanggung jawab dalam memenuhi segala kebutuhan pesta di rumah keponakannya, termasuk segala permintaan pihak ibu keponakan tersebut. Terkadang, tanggungan beban ini juga melihat status pekerjaan si paman, meski si paman juga wajib memahami status keluarga keponakannya.

Bagi Suku Alas, paman adalah tulang punggung keponakan. Paman wajib membantu berapapun atau apapun, karena kalau tidak membantu maka namanya tidak tertulis di “buku keluarga” yang menggelar pesta. Karena moral taruhannya, hutang-piutang para paman selepas pemamanan menjadi hal yang lumrah sejak dulu (1).

Apabila acaranya mewah, pihak keluarga biasanya memotong beberapa lembu/kerbau. Puncaknya pada hari ke tujuh akan ada prosesi arak-arakan pengantin sunat yang menaiki kuda. Selanjutnya rombongan keluarga mendatangi rumah paman yang menghadiahi kuda. Jumlah kudanya selalu bergantung kesepakatan.

Anak dikhitan oleh mantri pada malam harinya. Setelah itu, ia ditidurkan di atas tilam yang kelambunya terbuat dari kain adat khas Suku Alas. Tilam berkelambu tersebut terletak di ruang tamu dan terikat pada seutas tali di atas pada bagian tengahnya (tempat menggantungkan pakaian adat yang telah terpakai) (2).

Budaya Tolong Menolong Suku Alas Aceh

Masyarakat Suku Alas terkenal sangat gemar tolong menolong, baik dalam bidang sosial ekonomi, pertanian, terlebih dalam penyelenggaraan adat istiadat. Misalnya, seorang yang baru membentuk rumah tangga akan mendapatkan bantuan orang tua, baik dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan.

Dalam bidang pertanian, terdapat budaya peleng akhi yang berarti bergiliran. Dalam hal ini masyarakat bekerja sama secara bergiliran dalam melakukan pekerjaan dalam bidang pertanian. Seorang yang telah mendapatkan bantuan pertanian dari orang lain wajib mengganti bantuan tersebut di lain waktu.

Selain itu, ada juga sejumlah acara adat istiadat yang erat kaitannya dengan budaya tolong memolong. Selain tradisi Pemamanen, ada juga tempuh (bantuan dari sukut, saudara dekat yang punya kerja). Ada pula Nempuhi Wali, yakni bantuan dari suami-istri pada pihak wali ketika mengadakan acara adat (3).


Tradisi Pemamanan merupakan salah satu tradisi yang masuk dalam daftar penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2018, bersama dengan 2 kuliner khas Aceh yakni Keumamah dan Kuah Beulangong. Untuk tradisi Aceh lainnya, baca juga Tradisi Peucicap dan Peutron Aneuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *