• sumber : busy.org/@fathakam/

Peucicap, Aceh – Tradisi Menyentuhkan Aneka Rasa ke Lidah Bayi

posted in: Aceh, Sumatera, Tradisi | 0

Tradisi Peucicap. Adalah masyarakat Aceh yang memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut kehadiran anak yang baru lahir. Disana terdapat 2 tradisi turun temurun yang disebut Peucicap dan Peutron Aneuk.

Artikel ini akan mencoba mengulas tradisi yang pertama, yakni Tradisi Peucicap. Sementara itu, untuk Peutron Aneuk akan ditulis pada artikel tersendiri sebagai kelanjutan tulisan ini.

Tradisi Peucicap merupakan prosesi menyentuhkan aneka rasa ke lidah sang bayi dalam usia ke tujuh setelah kelahiran. Mula-mula kepada sang bayi tersebut dicicipkan Madu Lebah, Kuning Telur dan Air Zam-zam.

Proses tersebut juga disertai pembacaan doa dan pengharapan dengan kata-kata agar si bayi kelak tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa.

Disamping itu pihak orang tua, sang suami dibawakan seperangkat keperluan bayi yakni ija (kain) ayunan, ija geudong (kain pembalut) bayi, ija tumpe (popok), tilam, bantal dan tali ayun (tali ayunan). Kalau dikalangan kaum hartawan ada juga yang membawa tali ayun dari emas.

Sedangkan untuk sang istri yang baru melahirkan diberikan sepersalinan pakaian yang diberikan oleh ibu mertuanya. Pada hari itu juga diadakan akikah. Menyembelih seekor kambing, cukur rambut bayi dan pemberian nama kepada si bayi dengan upacara Peusijuek dan sebaran beras- padi serta doa selamat.

Setelah prosesi Peucicap selesai, ibu dari sang bayi akan menjalani masa-masa madeung, yakni masa pantangan hingga bayinya menginjak usia 44 hari. Selama masa pantangan Madeung, ibu sang bayi diwajibkan untuk tetap berada didalam kamarnya.

Sang ibu tidak boleh berjalan-jalan keluar rumah, juga dilarang banyak minum dan nasi yang dimakan juga tanpa gulai dan lauk pauk. Begitu juga dengan makanan yang peda-pedas sangat dilarang.

Selama pantangan tersebut ibu bayi selalu dihangatkan dengan bara api yang terus menerus disamping atau dibawah ranjang tidurnya. Usaha itu dimaksudkan untuk menjaga badan dan perut si ibu yang baru melahirkan tidak melar dan agar tetap langsing, dilakukan cara tradisional yakni dengan toet bateei (memanasi batu).

Batu dibakar lalu di balut dengan kain dan diletakkan di perut wanita yang baru melahirkan. Rasa hangat atau panas dari batu tersebut akan membakar lemak sehingga tubuh wanita yang baru melahirkan tersebut setelah menjalani masa pantangan akan tetap langsing.

Setelah masa Madeung selesai, ibu bayi akan dimandikan oleh bidan yang merawatnya dengan air yang dicampur irisan boh kruet (limau perut). Acara mandi ini disebut manoe peu ploh peut, yang bermakna mandi setelah 44 hari menjalani masa Madeung.

Pada hari itu juga, mertuanya akan datang membawakan nasi pulut kuning, ayam panggang, dan bahan-bahan untuk peusijuek ro darah (keluar darah) menantunya pada saat melahirkan. Setelah seluruh proses dalam Tradisi Peucicap selesai, kemudian akan dilanjutkan dengan Upacara Peutron Aneuk.

Berbagai upacara adat yang terdapat pada suku bangsa Aceh, pelaksanaanya selalu dipengaruhi atau diiringi dengan nilai-nilai agama Islam, demikian pula halnya dengan Tradisi Peucicap.

Agama Islam yang dianut tidak sampai pula menjadikan masyarakat Aceh bersifat fanatik bahkan membenarkan terus berlangsungnya tradisi-tradisi setempat namun akan selalu berpedoman kepada ajaran-ajaran Islam.

Meskipun tradisi-tradisi tersebut masih selalu dilaksanakan masyarakat, tetapi dalam pelaksanaannya sudah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perubahan masyarakat dari dahulu sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *