• sumber : busy.org/@sametravel

Peutron Aneuk, Aceh – Tradisi Memperkenalkan Bayi pada Masyarakat

posted in: Aceh, Sumatera, Tradisi | 0

Peutron Aneuk adalah tradisi masyarakat Aceh yang menjadi bagian dari rangkaian upacara menyambut kelahiran anak. Tradisi ini secara umum dimaknai sebagai kebiasaan masyarakat membawa anak turun ke tanah yang dilakukan setelah Tradisi Peucicap.

Peutron Aneuk ini adalah upacara memperkenalkan seorang bayi untuk pertama kalinya kepada lingkungan masyarakat luas, baik dilingkungan itu sendiri seperti sanak saudara (famili) maupun masyarakat luar. Pelaksanaan tradisi ini biasanya diiringi dengan mengayunkan sambil mengadakan acara berjanzi (marhaban) dan sekaligus pemberian nama.

Anak yang telah mencapai umur 44 hari diturunkan ke halaman oleh seseorang yang terpandang baik perangai maupun budi pekertinya. Orang tersebut sudah lebih dulu diinginkan oleh orang tua si bayi dengan tujuan agar si anak kelak mengikuti jejak orang tersebut. Orang yang menggendong memakai pakaian yang bagus-bagus.

Bayi diturunkan dengan dipayungi ija batek (kain gendong berukir batik) dan kaki anak tersebut diinjakkan ke tanah (peugilho tanoh). Diatas kepala si anak di belah buah kelapa dengan alas kain putih yang dipegang empat orang dengan tujuan agar si bayi tidak takut terhadap suara petir.

Waktu pelaksanaan Tradisi Peutron Aneuk pada masyarakat Aceh tidaklah selalu sama. Masyarakat Gayo biasanya melakukan ritual ini ketika sang bayi berumur 7 hari yang bersamaan dengan upacara cukur rambut, pemberian nama dan hakikah.

Adapun oleh masyarakat Anuek Jamee, upacara ini dilakukan ketika sang bayi telah berusia 44 hari yang dibarengi dengan cukur rambut, pemberian nama, kadang-kadang pula disertai dengan upacara hadiah. Begitu pula di Tamiang dan masyarakat Aceh lainnya.

Dahulu ada kalanya Peutron Aneuk dilakukan setelah bayi berumur satu sampai dua tahun, lebih-lebih jika bayi itu anak yang pertama. Karena anak yang pertama biasanya upacaranya lebih besar (Syamsuddin, T, 1988; 128).

Berbagai upacara adat yang terdapat pada suku bangsa Aceh, pelaksanaanya selalu dipengaruhi atau diiringi dengan nilai-nilai agama Islam. Demikian pula halnya dengan upacara Peutron Aneuk pada suku bangsa Aceh.

Agama Islam yang dianut tidak sampai pula menjadikan masyarakat Aceh bersifat fanatik bahkan membenarkan terus berlangsungnya tradisi-tradisi setempat namun akan selalu berpedoman kepada ajaran-ajaran Islam.

Meskipun tradisi-tradisi tersebut masih selalu dilaksanakan masyarakat, tetapi dalam pelaksanaannya sudah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perubahan masyarakat dari dahulu sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *