• sumber : explorlombokisland.blogspot.com

Tradisi Peresean, Lombok, NTB – Ketika Dua Lelaki Saling Beradu Nyali

posted in: NTB, Tari, Tradisi | 0

Presean (Peresean). Selain kaya akan keindahan alam, pesona Pulau Lombok juga didukung oleh kebudayaan masyarakatnya, Suku Sasak. Suku asli pulau Lombok inilah yang turut memperkukuh kemolekan wilayahnya dengan kekhasan tradisi dan budaya mereka. Jika para perempuan Sasak terkenal pintar dalam hal menenun (sesek), para lelakinya juga jago bertarung. Bahkan untuk membuktikan ke-maskulin-an mereka itu, sebuah tradisi bertarung pun tercipta, yakni Peresean.

Presean adalah tradisi bertarung antara dua laki-laki Sasak. Oleh masyarakat internasional, tradisi ini biasa disebut stick fighting karena dalam prakteknya para petarung bersenjatakan tongkat rotan, selain juga menggunakan perisai kulit kerbau yang keras dan tebal (ende). Dalam sebuah sesi tarung di arena, selain kedua petarung yang disebut pepadu, ada juga wasit pinggir yang disebut pakembar sedi serta wasit tengah yang disebut pakembar.

Seperti umumnya olahraga beladiri satu lawan satu, pepadu dalam Peresean akan bertemu di tengah arena di lapangan terbuka. Keduanya bertelanjang dada, tubuh mereka hanya dibalut dengan kain sarung khas Sasak serta menggunakan capuk (penutup kepala khas Sasak). Di tangan kanan mereka telah siap sebuah tongkat pemukul dari rotan (penjalin), sementara di tangan kiri ada pelindung Ende.

Pakembar akan memimpin jalannya pertarungan dengan aturan dan kode etik (awig-awig) yang sudah ditetapkan. Aturan main umumnya berisi tentang periode pertarungan (ronde). Biasanya ada 5 ronde, namun juga bisa disesuaikan dengan kesepakatan bersama antar panitia. Salah satu hal menarik dalam tradisi tarung Presean adalah para peserta tidaklah dipersiapkan sebelumnya. Siapa saja, termasuk penonton bisa ikut berpartisipasi masuk ke medan laga, bertarung menunjukkan keberaniannya.

Disini, pepadu hanya diperkenankan memukul bagian perut ke atas, adapun jika ada yang terkena kepalanya dan berdarah, maka ia dinyatakan kalah (KO) meski masih sanggup melanjutkan. Pertandingan akan berakhir setelah bunyi peluit panjang dari pakembar. Sebagai simbol tidak adanya dendam yang tersimpan, kedua petarung kemudian bersalaman dan berpelukan mengakhiri pertarungan mereka. Dengan penuh kedewasaan, setiap pencinta tradisi ini sadar bahwa ini hanyalah sebuah permainan dan hiburan.

Sejarah & Nilai Filosofis Tradisi Presean

Presean adalah seni tradisi yang termasuk dalam seni tari khas daerah Lombok. Dalam sejarahnya, tradisi ini dulu digelar untuk melatih ketangkasan lelaki Sasak dalam mengusir para penjajah. Disebutkan juga bahwa Presean adalah bentuk pelampiasan emosional para prajurit Lombok di masa lalu, setelah menang dalam perang melawan musuh. Seperti halnya dengan Tradisi Adu Betis di Tanah Bugis, Peresean juga sarat dengan nilai patriotisme.

Tradisi Presean telah dikenal oleh masyarakat Sasak secara turun temurun. Sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat tradisional, ajang pertarungan ini dulunya juga berfungsi ritual. Konon, Presean adalah bagian dari upacara adat atau ritual untuk meminta hujan di musim kemarau, selain juga digelar untuk acara-acara besar kerajaan. Seiring perkembangannya, Tarung Peresean turut menjadi daya tarik wisata yang memperkuat potensi keindahan alam Pulau Lombok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *