• sumber : www.indonesiakaya.com

Rambu Solo, Sulawesi Selatan – Upacara Adat Kematian di Tana Toraja

posted in: Sulawesi, Sulawesi Selatan, Tradisi | 0

Rambu Solo. Tana Toraja sebagai daya tarik wisata paling diminati di Sulawesi Selatan memiliki kebudayaan yang khas Suku Toraja. Budayanya khas Austronesia asli dan lebih kentara di daerah pegunungan. Keunikannya bisa dilihat dari Rumah Adat Tongkonan yang semakin sempurna dengan adanya berbagai tradisi dan ritus-ritus persembahan.

Adalah Rambu Solo, salah satu tradisi unik dari masyarakat Toraja. Sebuah upacara adat kematian yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia. Diantar menuju alam roh yang dimaknai dengan kembalinya ruh pada keabadian bersama para leluhur di sebuah tempat peristirahatan.

Tradisi ini diyakini sebagai upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dikatakan benar-benar meninggal setelah melalui seluruh prosesi upacara ini.

Uniknya, seorang yang meninggal dan belum melalui upacara Rambu Solo akan dianggap masyarakat sebagai orang sakit dan tetap diperlakukan seperti orang hidup, dibaringkan serta di beri hidangan makanan dan bahkan selalu di ajak bicara.

Merujuk pada Wikipedia, istilah Rambu Solo yang berasal dari Bahasa Toraja ini dimaknai sebagai asap yang arahnya ke bawah. Penamaan tersebut berkenaan dengan waktu pelaksanaan ritus persembahan ini yakni dilakukan sesudah pukul 12 ketika matahari mulai bergerak menurun.

Nama lain dari tradisi ini adalah Aluk Rampek Matampu’ atau ritus-ritus di sebelah barat yang berarti bahwa sesudah pukul 12 matahari akan berada di sebelah barat. Pelaksanaannya juga di sebelah barat .

Jenis Upacara dalam Rambu Solo

Dalam Tradisi Rambu Solo terdapat jenis upacara yang ditentukan oleh status orang yang meninggal. Seperti diketahui bahwa dalam masyarakat Toraja terdapat Tana’ atau Kelas Masyarakat, jenis upacara untuk semua kelas diantaranya adalah : 1. Didedekan Palungan, 2. Disilli’, 3. Dibai Tungga’, 4. Dibai A’pa’, serta 5. Tedong Tungga’.

Jenis upacara selanjutnya adalah 6. Tedong Tallu atau Tallung Bongi yang diperuntukkan bagi Tana’ Karurung ke atas, 7. Tedong Pitu, Limang Bongi untuk Tana’ Bassi, 8. Tedong Kasera dan Pitung Bongi serta 9. Rapasan untuk Tana’ Bassi dan Tana’ Bulaan.

Jenis 1 dan 2 untuk mematian anak, jenis 3 dan 4 berlaku untuk budak, jenis ke 5 untuk semua kelas termasuk budak asalkan sanggup membiayai. Adapun jenis yang ke 7 adalah yang sering dilaksanakan karena lebih ekonomis.

Pelaksanaan Tradisi Rambu Solo

Upacara Rambu Solo terdiri dari beberapa rangkaian ritual, diantaranya proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah pada lumbung persemayaman serta proses pengusungan jenazah ketempat peristirahatan terakhir.

Adapun puncak acara biasanya di laksanakan di lapangan khusus dengan diramaikan oleh beragam atraksi budaya diantaranya adalah adu kerbau (Mapasilaga Tedong) yang nantinya akan disembelih untuk kurban. Penyembelihan kerbau pun terbilang unik yakni leher kerbau ditebas hanya dengan sekali tebasan.

Kerbau yang disembelih adalah kerbau Bule Tedong Bonga yang harga perekornya berkisar 10-50 juta. Selain Adu Kerbau beserta penyembelihannya, Upacara Rambu Solo juga diramaikan dengan Adu Kaki, pementasan musik dan Tarian Toraja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *