• Tradisi Ruwatan

Ruwatan – Ritual Penyucian dalam Budaya Jawa

Tradisi Ruwatan adalah salah satu bentuk upacara atau ritual penyucian yang hingga saat ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini diberlakukan bagi orang yang Nandang Sukerta atau berada dalam Dosa. Meruwat bisa berarti mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan atau ritual. Umumnya ritual tersebut menggunakan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Istilah Ruwat sendiri berasal dari istilah Ngaruati yang memiliki makna menjaga kesialan Dewa Batara. Upacara Ruwatan biasa dilakukan orang jawa ketika mengalami kesialan hidup. Sebagai misal adalah anak sedang sakit, anak tunggal yang tidak memiliki adik maupun kakak, terkena sial, jauh jodoh, susah mencari kehidupan dan lain-lain.

Dalam budaya Jawa sendiri, Tradisi Ruwatan telah dibagi dalam tiga Golongan Besar yakni ruwatan untuk diri sendiri, ruwatan untuk lingkungan dan ruwat untuk wilayah. Proses ruwat untuk perorangan biasanya dilaksanakan di siang hari dimana sang sukerta (orang yang berada dalam dosa) dipotong rambutnya.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Untuk ritual ruwatan dalam lingkup lingkungan biasanya dilaksanakan di malam hari dan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.

Ritual Ruwatan bisa dibilang sebagai upacara besar dan sakral yang pastinya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun masih tetap dilestarikan, ruwatan yang dilengkapi pagelaran Wayang mungkin hanya bisa kita dapati dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.

Perihal Tradisi Ruwatan Murwakala

Perlengkapan Wayang Kulit

  • Alat musik jawa (Gamelan)
  • Wayang kulit satu kotak (komplit)
  • Kelir atau layar kain
  • Blencong atau lampu dari minyak

Sesajen Ruwatan Murwakala

  • Tuwuhan yang terdiri dari pisang raja setudun yang sudah matang dan baik yang ditebang dengan batang. Disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih. Semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri. Bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.
  • Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.
  • Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter. Direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang. Sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
  • Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah. Diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).
  • Bermacam-macam nasi antara lain : Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.
  • Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).
  • Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa. Lengkap juga dengan makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).
  • Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.
  • Hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.
  • Sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk yang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading lima ros. Kesemuanya itu diletakkan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak tanpa garam. Ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.
  • Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil. Tumpeng itu berisi lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.
  • Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

Selesai upacara Ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah. Bambu tersebut disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam. Tidak terkecuali uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita-citakan.

2 Responses

  1. Za Bhie

    Maaf Mba Ulil, Artikel diatas hanya memakai referensi dari artikel-artikel yang ada di internet dngn tambahan beberapa pengetahuan pribadi mengenai Tradisi tersebut, jd saya tidak ada referensi yang di ambil dari buku…harap dimaklumi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *