• sumber : membuka-misteri.blogspot.com

Saparan Bekakak, Yogyakarta – Tradisi Ritual Kuno di Bulan Syafar

posted in: Jawa, Sejarah, Tradisi, Yogyakarta | 0

Saparan Bekakak. Bagi masyarakat Jawa bulan Syafar atau Sapar yakni bulan kedua dalam kalender Hijriyah (Islam) telah umum diyakini sebagai bulan pelaksanaan berbagai tradisi ritual atau upacara adat. Yogyakarta, sebagai salah satu wilayah yang paling identik dengan tradisi dan budaya Jawa, tentunya memiliki masyarakat yang cukup aktif dalam menyemarakkan upacara adat sapar atau lebih dikenal dengan Saparan.

Salah satu yang terkenal dan paling mampu menyedot animo masyarakat adalah Tradisi Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang, Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebuah tradisi ritual kuno yang sangat meriah yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Dikatakan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Sultan Hamengku Buwono I pada kisaran tahun 1756 Masehi. Dari sini bisa diperkirakan usia dari Saparan Bekakak adalah hampir seusia dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Istilah Bekakak sendiri dimaksudkan sebagai korban penyembelihan hewan atau manusia, namun tentu saja tidak sesadis pengertian aslinya. Dalam upacara adat Saparan Bekakak, korban yang dimaksud dialihkan pada tiruan manusia dengan wujud sepasang boneka pengantin dalam posisi duduk bersila. Boneka tersebut didominasi oleh tepung ketan yang berisi cairan gula merah.

Ini merupakan ritual sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi warga Gamping, khususnya Masyarakat di Desa Ambarketawang yang biasanya digelar pada hari jum’at kisaran tanggal 10-20 di bulan Sapar. Adapun segala prosesi dan tujuan yang membentuk tradisi ini akan bisa dipahami ketika kita mengetahui sejarahnya.

Sejarah Tradisi Saparan Bekakak

Saparan Bekakak pada awalnya dilatarbelakangi oleh kisah dari Kyai Wirasuta yang seorang abdi dalem Penangsong atau abdi pembawa payung kebesaran. Kyai Wirasuta dan istrinya adalah abdi yang paling setia dan merupakan kesayangan dari Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Kisah ini berawal dari dimulainya pembangunan keraton yang baru setelah penobatan pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Selama proses pembangunan tersebut sultan memilih untuk tinggal di pesanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang bersama sejumlah abdi termasuk Kyai dan Nyai Wirasuta.

Ketika proses pembangunan keraton selesai, sultan bersama para abdinya pun kembali ke keraton yang baru terkecuali Kyai dan Nyai Wirasuta yang memilih dan diizinkan untuk tetap tinggal di Ambarketawang. Kyai Wirasuta dan istrinya kemudian disela-sela aktivitasnya merawat tempat tersebut, mereka menyibukkan diri dengan memelihara hewan piaraan seperti landak, ayam, merpati dan lain-lain.

Selanjutnya beragam sumber menyebutkan kisah tentang Kyai Wirasuta dengan alur yang bervariasi. Pada intinya Saparan Bekakak ini dihubungkan dengan meninggalnya Kyai Wirasuta dan istrinya serta sejumlah penduduk akibat runtuhnya Gunung Gamping di hari jumat kliwon di bulan sapar.

Runtuhnya gunung tersebut bukan hanya sekali namun sering dengan selalu memakan korban jiwa. Kejadian-kejadian itu kemudian dikaitkan dengan setan penunggu gunung yang meminta tumbal karena aktivitas sebagian besar penduduk setempat yang gemar menggali kapur di gunung gamping. Tumbal yang diminta adalah sepasang pengantin.

Melalui kejadian itu, kemudian sultan bertitah kepada masyarakat Ambarketawang untuk mengadakan upacara selamatan dengan harapan agar terhindar dari musibah. Adapun penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai pengganti pasangan Kyai dan Nyai Wirasuta, sekaligus untuk mengelabuhi setan bekasakan penunggu gunung yang meminta tumbal sepasang pengantin. Seolah-olah keinginannya dituruti namun bukan tumbal pengantin sungguhan, melainkan pengantin buatan yang dibentuk sedemikian rupa yang terbuat dari tepung ketan dan sirup gula merah.

Disebutkan juga oleh Hasyim Sastro Suhardjo selaku sesepuh desa setempat, pada awalnya tradisi bekakak diadakan atas dawuh Dalem Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I), untuk mengenang jasa dan kesetiaan abdi dalem bernama Ki Wirosuto dan istrinya . Ki Wirosuto adalah seorang penyongsong. Yakni, abdi dalem yang bertugas membawa payung kebesaran Sultan HB I ketika maju perang melawan Belanda.

Ki Wirosuto dan istrinya tinggal di gua gunung Gamping. Ketika gunung itu runtuh, Ki Wirosuto dan istrinya tidak terselamatkan. “Sepasang boneka pengantin dalam tradisi bekakak adalah lambang pengorbanan Ki Wirosuto dan istrinya itu. Sejumlah binatang dalam uba rampe bekakak seperti landak, merpati dan ayam adalah simbol binatang piaraan Ki Wirosuto semasa hidup”, pungkasnya.

Pelaksanaan Tradisi Saparan Bekakak

Dalam pelaksanaannya, Tradisi Saparan Bekakak terdiri dari beberapa tahap yakni Midodareni Pengantin, Kirab dan penyembelihan bekakak serta Sugengan Ageng. Biasanya dalam tradisi ini dibuat dua pasangan pengantin yakni pengantin bergaya Solo dan bergaya Yogyakarta.

Upacara akan segera dilangsungkan ketika segalanya dipastikan siap termasuk pengantin bekakak, kembang mayang, gendruwo serta joli berisi sesaji. Diawali dengan pengambilan air suci Tirto Donojati yang kemudian dibawa serta mengitari pelosok desa menuju bale desa dan dilaksanakanlah Midodareni pengantin Bekakak. Semalam suntuk warga desa akan melakukan tirakatan serta menggelar pertunjukan Wayang Wong dan Ketoprak.

Keesokan harinya acara dilanjutkan dengan pementasan fragmen “Prasetyaning Sang Abdi” yang menceritakan kisah Ki Wirosuto. Selanjutnya, pada kisaran pukul 14.00 WIB pengantin bekakak diarak menuju Gunung Gamping, beserta tiga buah joli yang berisi sesajen. Kirab ini juga diikuti oleh petinggi desa, bregodo atau kelompok prajurit, komunitas seni jathilan, dan genderuwo (dimaksudkan sebagai gambaran setan penunggu gunung yang sedang gembira mendapatkan tumbal).

Selanjutnya pengantin bekakak akan disembelih di altar penyembelihan di hadapan ribuan warga. Prosesi ini kemudian ditutup dengan penyebaran gunungan dan potongan tubuh bekakak kepada seluruh warga yang hadir. Sebagian warga juga ada yang meyakini bahwa potongan-potongan boneka pengantin itu bisa memberikan berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *