Seba Baduy, Banten – Tradisi Penyerahan Hasil Bumi Oleh Urang Kanekes

Seba Baduy. Urang Kanekes atau Orang Baduy (kadang dieja Badui) dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang mengisolasi diri dari dunia luar. Bahkan, kelompok etnis dari masyarakat adat suku Banten ini memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya masyarakat di wilayah Baduy Dalam.

Meski demikian ada satu masa dimana mereka berbodong-bondong menunjukkan diri pada dunia, yakni saat mereka menjalankan tradisi Seba. Di saat itulah ribuan orang Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, akan melakukan perjalanan jauh dari desa Kanekes di Kabupaten Lebak menuju Kota Serang, ibukota Provinsi Banten.

Seba merupakan tradisi penyerahan hasil tani atau hasil bumi pada pemerintah, yakni Gubernur Banten. Ritual tahunan ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur karena hasil panen melimpah. Menariknya, suku Baduy melakukannya dengan berjalan tanpa alas kaki, seperti halnya Kaum Bonokeling pada Tradisi Perlon Unggahan.


Sejarah Tradisi Seba Baduy

Seba suku Baduy merupakan budaya peninggalan leluhur tetua (Kokolot) yang telah berlangsung ratusan tahun, sejak zaman Kesultanan Banten. Dengan berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1522, otomatis kampung halaman suku Baduy, yakni desa Kanekes (Kabupaten Lebak, Banten) dimasukkan dalam kekuasaan Banten.

Hal ini juga berarti Urang Kanekes diharuskan patuh pada penguasa kerajaan Islam di Tatar Pasundan tersebut. Sebagai bentuk kepatuhan dan pengakuan, setiap selesai musim panen ladang huma, suku Baduy menyerahkan hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) pada Kesultanan Banten. Rutinitas tahunan itulah yang kemudian disebut Seba.

Selain sebagai bentuk kepatuhan pada pemerintah Banten, upacara Seba juga merupakan ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi. Sampai sekarang Seba terus dilakukan karena merupakan titipan lembaga adat dari leluhur suku Baduy. Untuk saat ini hasil bumi diserahkan pada Gubernur Banten, melalui bupati Kabupaten Lebak.

Pada tahun 2018 yang lalu, tradisi Seba berlangsung meriah dikemas dalam Exciting Banten on Seba Baduy. Sekitar 1.300-an suku Baduy melakukan perjalanan dengan berjalan tanpa alas kaki seratusan kilometer. Di tahun 2019 ini event Exciting Banten on Seba Baduy rencananya akan di gelar pada tanggal 24-31 Maret 2019.


Pelaksanaan Tradisi Seba Baduy

Tradisi Puasa Kawalu

Upacara ritual Seba umumnya digelar setelah masa panen, biasanya padi huma. Ini merupakan acara puncak setelah sebelumnya dilaksanakan tradisi Kawalu selama tiga bulan. Kawalu merupakan ritual puasa khas Baduy Dalam yang tersebar di 3 kampung, yakni kampung Cibeo, kampung Cikartawana, dan kampung Cikeusik.

Tradisi puasa Kawalu telah menjadi ketentuan adat Baduy Dalam yang pantang untuk tidak dilaksanakan. Tiga kali selama tiga bulan mereka berpuasa seharian. Umumnya, prosesi Kawalu pertama dimulai pada bulan Februari dan Maret, sedangkan Kawalu kedua dan ketiga dilaksanakan pada bulan April mendatang.

Selama Kawalu tidak ada kegiatan lain kecuali kegiatan yang difokuskan pada prosesi Kawalu. Tidak diperbolehkan membetulkan rumah atau selamatan-selamatan lain, satu-satunya kegiatan adalah mengumpulkan hasil panen padi dan menumbuknya menjadi beras. Semua energi dipersiapkan untuk menyambut Seba Baduy.

Selama ini suku Baduy yang eksotik selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin lebih dekat mengenal mereka. Kesempatan itu selalu ada kecuali saat Kawalu, karena wisatawan dilarang keras memasuki kawasan suku Baduy Dalam. Suasana kampung cenderung sepi, karena mereka lebih fokus dalam berdoa.

Upacara Seba Baduy

Upacara Seba adalah puncak ritual bagi segenap masyarakat suku Baduy. Oleh karena itu, pesertanya bisa mencapai ribuan. Khusus untuk Baduy Dalam yang biasanya berpakaian serba putih, termasuk ikat kepalanya (lomar). Ada sumber yang mengatakan mereka hanya diwakili oleh sekitar 30-an orang saja, mungkin termasuk Puun (pemimpin).

Yang pasti, Seba Baduy menjadi momen dimana Suku Badui berbondong-bondong meninggalkan kampung tercinta untuk bertemu Ibu Gede (Bupati Lebak) dan Bapak Gede (Gubernur Banten). Mereka berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan membawa hasil bumi yang mereka miliki sebagai bentuk rasa syukur juga kepatuhan pada leluhur.

Pertama-tama mereka akan menemui Bupati Lebak. Dalam pertemuan itu, dilaksanakan Babacakan Jeung Urang Baduy (makan bersama warga Baduy) dan Sapeuting Jeung Urang Baduy (semalam bersama warga Baduy). Acara itu biasanya dimeriahkan dengan berbagai acara hiburan yang menarik memadukan seni budaya suku Baduy.

Di hari kedua sebagai acara puncaknya, mereka berlanjut menuju ke Pendopo Gubernur Banten. Disinilah momen terbaik bagi masyarakat luar (wisatawan) untuk sejenak berbaur dengan masyarakat Baduy. Masyarakat umum bebas berinteraksi langsung dan bertanya perihal kehidupan mereka dilingkungannya.

 

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *