Tradisi Sekaten – Asal-Usul Istilah, Pelaksanaan & Sejarah Perkembangan

Tradisi Sekaten merupakan sebuah kebudayaan yang berasal dari dua keraton dari kerajaan Mataram, Ngayogyakarto Hadiningrat (Yogyakarta) dan Surakarta Hadiningrat (Solo). Sekatan terlaksana dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi).

Sebagai salah satu bentuk kebudayaan bercorak Islam di Tanah Jawa, Sekaten telah ada sejak abad ke-16. Tetap lestari hingga saat ini sebagai rangkaian kegiatan tahunan yang terlaksana pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriyah atau bertepatan bulan Mulud (Bulan Jawa).

Asal Usul Istilah Sekaten

Terdapat beragam pendapat yang berkaitan dengan penamaan tradisi Sekaten. Mengenai hal ini, pendapat yang paling populer adalah Sekaten berasal dari istilah bahasa Arab “Syahadataini“. Istilah tersebut mewakili Dua Kalimat Syahadat dalam agama Islam.

Dua kalimat tersebut merupakan syarat wajib bagi seseorang yang hendak memeluk agama Islam. Kalimat Syahadat memiliki pengertian “aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah“.

Selain itu, ada juga beberapa pendapat yang mengatakan asal-usul istilah Sekaten berasal dari istilah lain, di antaranya sebagai berikut:

  • Sahutain dengan pengertian menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng.
  • Sakhatain yang berarti menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan;
  • Sakhotain bermakna menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan;
  • Sekati berarti setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk;
  • Sekat berarti batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.(K.R.T. Haji Handipaningrat : 3).

Pelaksanaan Tradisi Sekaten

Baik di Yogyakarta maupun di Surakarta, pelaksanaan Sekaten selalu terkait dengan Gamelan. Di keraton Yogya, gamelan Sekaten bernama yakni gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Sedangkan gamelan di Surakarta bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Sejak beberapa hari sebelum 12 Robiul Awal (Maulud) alunan musik gamelan sudah terdengar. Sebagai pembeda, di keraton Yogya prosesinya berlangsung pada tanggal 6 Rabiul Awal (Maulud), sementara di keraton Surakarta sehari lebih awal, yakni 5 Rabiul Awal (Maulud).

Dalam tradisi di keraton Jogja, biasanya ada Pasar Malam Perayaan Sekaten yang terselenggara sejak sebulan sebelum upacara Sekaten. Selain itu, ada juga dua tradisi lain yang ikut meramaikan upacara Sekaten di Jogja, yakni tradisi Tumplak Wajik dan Tradisi Grebeg.

Tumplak Wajik merupakan upacara pembuatan wajik (makanan berbahan beras ketan dan gula kelapa) sebagai awal dari pembuatan pareden untuk upacara Grebeg . Grebeg sendiri adalah puncak peringatan Sekaten pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sekilas Sejarah Tradisi Sekaten

Tradisi upacara Sekaten merupakan warisan budaya Islam di Tanah Jawa. Sebuah tradisi yang telah ada sejak zaman kesultanan Demak atau masa kerajaan Islam setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Kebudayaan Jawa sebagian besar merupakan hasil akulturasi, tidak terkecuali dengan tradisi Sekaten. Terdapat folklor yang berkembang di masyarakat bahwa upacara Sekaten adalah salah satu warisan nilai budaya yang terwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang.

Di zaman dahulu, raja-raja di Tanah Hindu setiap tahun menggelar upacara serupa Sekaten. Tradisi tersebut berwujud selamatan atau sesaji untuk arwah para leluhur. Terdapat dua tahap dalam pelaksanaan tradisi oleh raja-raja Hindu, di antaranya sebagai berikut:

  • Tahap pertama bernama Aswameda yang berlangsung selama enam hari yang di dalamnya terdapat doa-doa, pujian serta tetabuhan.
  • Tahap kedua adalah Asmaradana yang merupakan upacara penutup di hari ketujuh. Ada prosesi mengheningkan cipta atau semedi dengan pembakaran dupa besar.

Dalam perkembangan selanjutnya, dengan masuknya agama dan pengaruh Hindu ke Jawa, maka Aswameda dan Asmaradana masuk pula ke dalam kebudayaan Jawa. Pada masa kerajaan Majapahit, upacara Aswameda dan Asmaradana biasanya bertempat di candi-candi.

Kemudian sejak pemerintahan Hayam Wuruk, pelaksanaannya berpindah ke tengah kota dengan upacara srada (sesaji untuk para leluhur). Pelaksanaan srada yang pada masa itu berlangsung selama tujuh hari diperuntukan bagi mendiang Ibu Suri Baginda Sri Wishnu Wardani.

Upacara sejenis tetap ada hingga pada masa Prabu Brawijaya V dengan keramaian yang jauh lebih besar. Prabu Brawijaya memiliki perangkat gamelan yang sangat tersohor. Nama gamelannya adalah Kanjeng Kyai Sekar Delima yang alunannya selalu ikut memeriahkan keramaian itu.

Terdapat cerita bahwa Raden Patah, seorang Adipati Bintara yang juga merupakan Putra Prabu Brawijaya V telah memeluk agama baru yakni Agama Islam. Raden Patah berencana menyerbu Kerajaan Majapahit apabila Sang Prabu Brawijaya tidak bersedia memeluk Agama Islam.

Mendengar berita tersebut, Prabu Brawijaya V menjadi sangat sedih dan melaksanakan semedi atau bertapa selama dua belas hari. Prabu Brawijaya V memohon kepada para Dewa agar Raden Patah berkenan membatalkan niatnya untuk menyerbu kerajaan Majapahit.

Sementara itu, untuk menghibur hati Sang Prabu Brawijaya V, para ahli gending di Majapahit menciptakan lagu-lagu melalui perangkat gamelan pusaka kerajaan. Tidak sesuai dengan perkiraan, alunan gamelan tersebut malah mengalunkan kesedihan yang menyayat hati.

Prabu Brawijaya V pun semakin bersedih mendengarnya dan membayangkan nasib buruk yang akan menimpa kerajaannya. Para ahli gending lalu menyuruh para niyaga memukul gamelan itu keras-keras dengan irama yang dapat membangkitkan gelora semangat baginda.

Dari kejadian itu, pemukulan gamelan mulai menggunakan irama bertingkah. Kadang keras dengan irama yang membangkitkan jiwa. Terkadang juga lemah lembut mengalun dan menyayat hati. Gamelan tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekati, karena membuat Prabu Brawijaya seseg ati (sesak hati).

Sekaten Sebagai Budaya Islam

Melalui para wali yang berjumlah sembilan (Wali Songo), agama Islam mulai berkembang di Tanah Jawa pada kisaran abad ke-14. Untuk mengetahui kemajuan perkembangan agama Islam di Tanah Jawa, diadakanlah pertemuan tahunan di Kota Demak.

Pertemuan itu biasa berlangsung selama satu minggu di bulan Rabiul Awal. Sebagai penutup pertemuan tersebut biasanya ada keramaian besar dengan tujuan untuk merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi).

Selanjutnya sebagai penanda langkah kemajuan Islam, pada tahun 1477 Masehi dibangunlah sebuah masjid besar di Kota Demak. Pelopor pembangunannya adalah Raden Patah (Adipati Demak Bintara) dengan mendapat dukungan dari para wali.

Berdirinya masjid diperingati sebagai surya sengkala kori trus gunaning janmi, yang menunjukkan angka tahun 1399 Saka. Sebagai agama baru, usaha penyebaran pun terus ditingkatkan mengingat masyarakat Jawa waktu itu sebagian besar masih beragama Hindu.

Selanjutnya, berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah digelarlah kegiatan syiar Islam selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Melalui saran Sunan Kalijaga, pelaksanaan peringatan Maulud Nabi akan menyesuaikan tradisi dan budaya Jawa.

Agar kegiatan syiar agama Islam tersebut dapat menarik perhatian masyarakat, dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri pun mengalun dengan membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata syahadatain itulah kemudian muncul istilah Sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan.

Sekaten terselenggara secara rutin tiap tahun seiring berkembangnya kerajaan Demak menjadi kerajaan Islam hingga bergeser ke Mataram. Adapun ketika Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), Sekaten tetap terselenggara sebagai warisan budaya Islam.

Referensi:

  1. http://kundharu.staff.uns.ac.id…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *