• sumber : wacana.co

Seren Taun – Upacara Adat Panen Padi Suku Sunda

posted in: Jawa, Jawa Barat, Sejarah, Tradisi | 1

Tradisi Seren Taun adalah salah satu upacara adat masyarakat Sunda yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur setelah panen padi. Dilaksanakan tiap tahun setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender Sunda. Upacara adat ini biasanya berlangsung dengan sangat khidmat dan semarak di berbagai Desa Adat Sunda.

Secara Etimologi Seren Taun berasal dari Bahasa Sunda yakni Seren yang berarti menyerahkan dan Taun yang berarti Tahun. Dengan begitu Ritual Tradisi Seren Taun bisa dimaknai sebagai serah terima hasil yang di peroleh di tahun yang lalu. Selain itu, juga sebagai wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil yang didapat pada tahun ini. Berharap hasil pertanian akan meningkat pada tahun yang akan datang.

Pelaksanaan Tradisi Seren Taun

Dalam Pelaksanaannya, Tradisi Seren Taun sangatlah beraneka ragam dan tidak selalu sama antara desa satu dengan yang lainnya. Pada intinya ini merupakan prosesi penyerahan padi hasil panen dari masyarakat kepada ketua adat.

Padi kemudian akan dimasukkan ke dalam leuit (lumbung) utama dan lumbung-lumbung pendamping. Pemimpin adat kemudian memberikan indung pare (induk padi/bibit padi) yang sudah diberkati dan dianggap bertuah kepada para pemimpin desa untuk ditanam pada musim tanam berikutnya.

Dibeberapa desa biasanya upacara ini dimulai dengan mengambil air suci dari sumber air ( 7 Mata Air ) yang di anggap keramat. Air tersebut kemudian di satukan dalam sebuah wadah, di doakan dan dianggap bertuah serta diharapkan akan membawa berkah. Air itu lalu dicipratkan ke setiap orang yang hadir.

Ritual selanjutnya adalah sedekah kue, warga yang hadir berebut mengambil kue di dongdang (pikulan) atau tampah. Mereka percaya bahwa kue itu memberi berkah yang berlimpah bagi yang mendapatkannya.

Kemudian ritual penyembelihan kerbau yang dagingnya kemudian dibagikan kepada warga yang tidak mampu dan makan tumpeng bersama. Sedangkan pada malam harinya akan dimeriahkan dengan pertunjukan Wayang Golek.

Acara puncak akan dibuka sejak pukul 08.00 dengan diawali oleh prosesi Ngajayak (Penjemputan Padi). Diteruskan dengan tiga pergelaran kolosal, yakni Tari Buyung, Angklung Baduy, dan Angklung Buncis. Kesenian tersebut dimainkan oleh berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang hidup di Cigugur.

Rangkaian acara tersebut akan di kukuhkan dengan pembacaan doa secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama. Sebagai puncak acara akan dilakukan penyerahan padi hasil panen dari para tokoh kepada masyarakat untuk kemudian ditumbuk bersama-sama.

Ribuan orang yang hadir pun akhirnya terlibat dalam kegiatan ini. Mengikuti jejak para pemimpin, tokoh masyarakat, maupun rohaniwan yang terlebih dahulu dipersilakan menumbuk padi. Puluhan orang lainnya berebut gabah dari saung bertajuk Pwah Aci Sanghyang Asri (Pohaci Sanghyang Asri).

Meski diisi dengan ritual-ritual yang bersifat sakral, Tradisi Seren Tau juga akan diramaikan dengan berbagai Kesenian Sunda. Diantaranya Pencak Silat, Nyiblung (musik air), kesenian dari Dayak Krimun, Indramayu, Suling Rando, Tarawelet, Karinding, dan Suling Kumbang dari Baduy.

Sejarah Tradisi Seren Taun

Seperti yang tertulis di Wikipedia, Perayaan Seren Taun merupakan tradisi turun temurun yang telah ada sejak zaman Kerajaan Sunda Purba. Dahulu upacara tersebut bermula dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri yang merupakan Dewi Padi dalam kepercayaan masyarakat Sunda Kuno.

Dikala itu sistem kepercayaan Sunda Kuno sangatlah dipengaruhi oleh Warisan Kebudayaan Asli Nusantara, yakni Animisme dan Dinamisme. Sarat dengan pemujaan arwah karuhun (nenek moyang) dan kekuatan alam, serta dipengaruhi ajaran Hindu.

Adapun dalam lingkup Masyarakat Agraris Sunda Kuno, kekuatan alam sangatlah dimuliakan karena berkaitan dengan kesuburan tanaman dan ternak. Dalam hal ini diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri sebagai Dewi Padi dan Kesuburan.

Terdapat juga istilah Kuwera sebagai Dewa Kemakmuran sebagai pasangan dewi padi. Kedua dewa dewi tersebut diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu). Keduanya melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga.

Upacara-upacara di Kerajaan Pajajaran ada yang bersifat tahunan dan delapan tahunan. Upacara yang bersifat tahunan disebut Seren Taun Guru Bumi yang dilaksanakan di Pakuan Pajajaran dan di tiap wilayah. Upacara delapan tahunan atau sewindu disebut upacara Seren Taun Tutug Galur atau lazim disebut upacara Kuwera Bakti yang dilaksanakan khusus di Pakuan.

Dahulu perayaan Seren Taun sempat terhenti bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran, namun sekitar empat windu kemudian upacara tersebut di lestarikan kembali di Sindang Barang, Kuta Batu dan Cipakancilan. Itulah yang terakhir sebelum benar-benar berhenti selama 36 tahun sejak 1970an.

Sebagai upaya membangkitkan kembali jati diri kebudayaan masyarakat Sunda, Seren Taun Guru Bumi kembali digelar di tahun 2006. Tepatnya di Desa Adat Sindang Barang, Pasir Eurih, Kecamatan taman Sari, Kabupaten Bogor.

Akulturasi budaya lokal dengan semakin banyaknya masyarakat Sunda yang telah memeluk Agama Islam, sedikit banyak mempengaruhi tata pelaksanaan Upacara Adat Seren Taun. Ritual tersebut kemudian digelar dengan Doa-doa Islam.

Sedangkan bagi masyarakat yang teguh memeluk sistem kepercayaan Sunda Wiwitan, seperti Masyarakat kanekes, Kasepuhan Banten Kidul dan Cigugur. Mereka tetap melaksanakan Upacara Adat ini dengan tata cara sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *