• sumber : www.benarnews.org

Tabuik – Festival 10 Muharram (Asyura) di Pariaman, Sumatera Barat

posted in: Sumatera, Sumatera Barat, Tradisi | 0

Tradisi Tabuik. Masyarakat di kota Pariaman dikenal memiliki keunikan budaya tersendiri apabila dibandingkan dengan etnis Minangkabau pada umumnya. Hal ini dikarenakan kawasan ini berada dalam struktur rantau yang memungkinkan banyaknya pengaruh budaya dari luar Minangkabau. Akulturasi tersebut, termasuk juga memunculkan berbagai tradisi yang awalnya berasal dari luar, salah satunya adalah Festival Tabuik.

Tabuik adalah pesta adat yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Asyura, wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Hussein bin Ali. Dalam sejarahnya, Hussein beserta keluarganya gugur dalam pertempuran di Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun ke-61 Hijriyah. Rangkaian prosesi Tabuik diadakan tiap tahun di Pariaman selama 10 hari dengan puncaknya tanggal 10 Muharram, atau yang lazim disebut Hari Asyura.

Tradisi yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatera Barat ini, telah berlangsung sejak 1831. Pada mulanya, upacara ini diperkenalkan oleh Pasukan Tamil Syi’ah dari India. Meskipun awalnya dikatakan sebagai upacara Syi’ah, tetapi pada kenyataannya penduduk terbanyak yang turut meramaikan acara seperti ini adalah penganut Sunni. Selain di Pariaman, di Bengkulu juga ada perayaan serupa yang dinamakan Tabot.

Tabuik, Makna dan Pengertian Istilah

Istilah tabuik merujuk pada usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara Asyura di Pariaman, Sumatera Barat. Dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia, istilah tersebut disebut “tabut” yang berarti peti kayu. Penamaan ini berkaitan dengan legenda yang mewarnai wafatnya Hussein, tentang kemunculan buraq yang digambarkan sebagai makhluk berwujud kuda bersayap berkepala manusia.

Dikisahkan bahwa setelah wafatnya Husain, sebuah kotak kayu berisi potongan jenazah Husain dibawa dan diterbangkan ke langit oleh buraq. Dari sini, dibuatlah tiruan dari makhluk tersebut yang sedang mengusung tabut di atas punggungnya. Dalam Tradisi Tabuik, selain prosesi melabuhkan tabuik ke laut, juga ditampilkan kembali pertempuran Karbala, serta dimeriahkan oleh drum tassa dan dhol.

Dalam bentuknya, tabuik terbagi menjadi dua bagian utama, atas dan bawah. Bagian atas dilengkapi dengan payung besar yang dihias dengan bunga-bunga salapan. Selain itu, juga diletakkan hiasan untuk menutupi bagian peti yang ditegakkan diatas tabuik. Bagian atas, secara keseluruhan menggambarkan peti Hussein.

Sementara itu, bagian bawah terdiri dari beberapa bagian berbentuk tubuh kuda bersayap, berekor, berkaki empat dan berkepala manusia berambut panjang. Tiruan buraq ini terbuat dari rotan dan bambu berlapis kain beludru halus berwarna merah dan hitam. Pada intinya, seluruh bentuk tabuik berusaha menirukan bentuk buraq yang menerbangkan peti Hussein ke langit.

Pelaksanaan Tradisi Tabuik

Tradisi Tabuik adalah pesta adat yang berlangsung selama sepuluh hari. Dimulai dari tanggal satu hingga puncaknya pada tanggal sepuluh Muharram. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahap yang harus dilalui, sebagai berikut :

  • Maambiak Tanah : Prosesi pengambilan tanah pada tanggal 1 Muharram yang disertai arak-arakan dan dimeriahkan dengan gendang tassa. Dua kelompok tabuik, Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang mengambil tanah di anak sungai yang berbeda atau berlawanan arah. Tabuik Pasar mengambil di Desa Pauh, sementara Tabuik Subarang di Alai-Gelombang. Selanjutnya, tanah tersebut di bawa ke tempat pembuatan tabuik yang disebut daraga.
  • Manabang Batang Pisang : Ini adalah prosesi penebangan batang pisang. Upacara ini dimaksudkan sebagai gambaran ketajaman pedang yang digunakan dalam perang. Oleh karena dimaksudkan sebagai simbol menuntut balas kematian Hussein, penebangan ini dilakukan oleh seorang pria berpakaian silat. Batang pisang ditebang putus dalam sekali tebasan.
  • Maatam : Prosesi ini dilakukan selepas sholat Dhuhur, dimana orang yang termasuk dalam keluarga penghuni rumah tabuik berjalan mengelilingi daraga. Mereka berkeliling sambil membawa peralatan ritual tabuik sambil menangis meratap-ratap. Upacara ini dimaksudkan sebagai penanda kesedihan yang teramat dalam atas kematian Hussein. Dalam hal ini, daraga hakekatnya adalah kuburan Hussein.
  • Maarak Panja : Kegiatan membawa tiruan jari-jari tangan Husein yang tercincang, sebagai pemberitahuan kepada umum perihal kekejaman raja yang zalim. Arak-arakan ini dimeriahkan dengan “hoyak tabuik lenong” pembawaan tabuik berukulan kecil yang diletakkan di atas kepala seorang laki-laki dengan diiringi bunyi gendang tassa.
  • Maarak Saroban : Arak-arakan yang ditujukan untuk memberitahukan kepada umum mengenaik penutup kepala Hussein yang terbunuh di Pertempuran Karbala. Sama halnya dengan Maarak Panja, kegiatan ini juga disertai dengan pembawaan miniatur tabuik lenong yang diramaikan oleh gemuruh bunyi gendang tassa.
  • Tabuik Naik Pangkat : Dilakukan dini hari pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah kegiatan menyatukan tabuik agar menjadi utuh. Kemudian, tabuik akan diusung ke arena jalan sebagai persiapan Hoyak Tabuik.
  • Pesta Hoyak Tabuik : Pesta ini berlangsung sepanjang hari pada tanggal 10 Muharram yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam pesta ini, Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang disuguhkan ke tengah pengunjung sebagai gambaran perang Karbala yang berujung pada kematian Husein. Acara ini berlangsung hingga sore hari dan berakhir dengan pembawaan tabuik ke pinggir pantai.
  • Tabuik Dibuang Ke Laut : Setelah seharian masing-masing tabuik di arak keliling Kota Pariaman, akhirnya menjelang senja keduanya dipertemukan kembali di Pantai Gondoriah. Ini adalah acara puncak dari Tradisi Tabuik. Dalam upacara ini, kedua tabuik diadu sebagai penggambaran perang Karbala. Setelah itu, menjelang matahari terbenam, keduanya dibuang kelaut. Prosesi pembuangan ini adalah bentuk kesepakatan untuk membuang sengketa dan perselisihan, selain juga melambangkan terbangnya buraq membawa jasad Husein ke surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *