• sumber : instagram.com/p/Bj66BbshXee/?taken-by=cf_mokoginta

Tradisi Tumbilotohe – Kemeriahan Menyambut Lebaran di Gorontalo

posted in: Sulawesi, Sulawesi Utara, Tradisi | 0

Tradisi Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo di Sulawesi Utara. Sebuah tradisi yang menandai akan berakhirnya Bulan Suci Ramadhan yang biasanya dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Tumbilotohe sangatlah meriah karena disaat itulah Gorontalo menjadi penuh cahaya. Pernah di tahun 2007 silam tradisi ini masuk rekor Muri disaat lima juta lampu ikut menyemarakkan dan menghiasi wajah kota Gorontalo.

Istilah Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo dan merupakan gabungan dua suku kata, Tumbilo yang berarti pasang dan Tohe yang berarti Lampu. Sesuai namanya Tumbilotohe bisa dikatakan sebagai Tradisi Pasang Lampu.

Lampu-lampu disini merupakan lampu tradisional yang masih menggunakan minyak tanah dengan memanfaatkan botol dan kaleng bekas yang diberi sumbu dan dibentuk dan ditata sedemikian rupa.

Sejarah Tradisi Tumbulotohe

Tumbilotohe merupakan kebudayaan dari masa lampau dan diketahui telah ada sejak abad XV. Pada awalnya masyarakat Gorontalo memasang lampu didepan rumah-rumah mereka sebagai penerangan yang berguna untuk menerangi jalan menuju Masjid.

Masyarakat Gorontalo dahulu menggunakan penerangan yang disebut wango-wango. Lampu ini terbuat dari Wamuta atau Selundang yang dihaluskan dan diruncingkan yang kemudian dibakar. Selanjutnya karena menghendaki penerangan yang cukup lama, masyarakat mulai menggunakan Tohetuhu atau Damar atau semacam Getah Padat.

Seiring perkembangannya, Tohetuhu diganti lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa. Penerangan ini menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut Padamala.

Kemudian berkembang lagi hingga alat penerangan memanfaatkan minyak tanah. Di jaman sekarang masyarakat Gorontalo juga memanfaatkan ribuan lampu listrik untuk lebih menyemarakkan Tradisi Pasang Lampu ini.

Tradisi Tumbilotohe adalah budaya turun temurun yang telah menjadi ajang hiburan Masyarakat Gorontalo. Disebut-sebut Malam Tumbilotohe adalah yang paling ramai disana. Pada awal pemasangan lampu biasanya dibarengi dengan ramainya anak-anak melantunkan Lohidu atau kalimat pantun “Tumbilotohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii….“.

Keunikan dan banyaknya cahaya yang ada dan nyaris tidak ditemukan sudut kota yang gelap menjadikan tradisi ini tidak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Gorontalo namun juga menarik minat masyarakat di daerah sekitarnya.

Gemerlap lentera Tradisi Tumbilotohe banyak yang digantung pada kerangka – kerangka kayu. Dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota gorontalo.

Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan hati menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bisa didapati pula beberapa formasi lampu-lampu pada lahan luas yang membentuk gambar Masjid, Kitab Suci Al-quran, Kaligrafi serta Tulisan-tulisan unik lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *