• sumber : phinemo.com

Tumpeng Sewu, Banyuwangi – Tradisi Ritual Selamatan Suku Osing

posted in: Jawa, Jawa Timur, Tradisi | 0

Tumpeng Sewu adalah salah satu dari ragam Tradisi Suku Osing di Banyuwangi. Dalam hal ini setiap kepala keluarga dari masyarakat Osing diharapkan untuk mengeluarkan minimal satu tumpeng sebagai bagian utama dari Ritual Adat Selamatan Masal Desa Kemiren. Suatu upacara adat yang digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahanan yang mereka terima.

Tumpeng Sewu bisa diartikan sebagai tumpeng yang berjumlah seribu. Disebut begitu karena dikaitkan dengan jumlah masyarakat di Desa Kemiren yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Kota Banyuwangi itu dihuni sekitar seribu kepala keluarga.

Ritual ini dipercaya sebagai upacara selamatan tolak balak yakni selamatan dalam rangka menghindar dari segala bencana dan penyakit. Masyarakat Osing Kemiren percaya apabila tradisi selamatan ini ditinggalkan akan menimbulkan dampak buruk. Berbekal keyakinan tersebut, mereka menjaga tradisi ini hingga turun temurun.

Kuliner Khas Osing dalam Tumpeng Sewu

Dalam Ritual Tumpeng Sewu setiap satu rumah mengeluarkan atau membuat nasi berbentuk kerucut (Sego Pincuk) dengan lauk pauk khas Osing yakni Pecel Pithik, Biasanya terdiri dari ayam kampung yang dibakar, kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang lebih dulu diberi bumbu.

Tumpeng Pecel Pithik dalam bentuknya yang kerucut memiliki makna khusus yakni gambaran petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Disamping itu juga kewajiban menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni “ngucel-ucel barang sithik”. Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Pelaksanaan Tradisi Tumpeng Sewu

Sebelum upacara Tumpeng Sewu digelar, berbagai kegiatan akan mengawali tradisi tersebut. Biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, diawali dengan penjemuran kasur “Mepe Kasur” oleh seluruh warga. Menariknya adalah warna kasur tersebut berwarna sama yakni hitam-merah tentunya dengan beraneka macam usianya dan bahkan ada yang berusia lebih dari setengah abad.

Kasur hitam-merah merupakan tradisi orang tua di Kemiren yang dilakukan ketika ada anak perempuannya menikah. Warna hitam-merah pada kasur warga Kemiren ini memiliki makna mendalam. Merah berarti simbol semangat dan hitam adalah simbol kelanggengan. Dengan tidur di kasur itu, diharapkan rumah tangga si pengantin menjadi langgeng.

Selanjutnya pada sore hari setelah kasur-kasur selesai dijemur, warga kemudian menuju makam Buyut Cili, seseorang yang mereka anggap sebagai penghuni desa pertama kali. Di makam itu, warga menggelar syukuran sambil memanjatkan doa-doa.

Setelah itu ratusan warga menggelar arak-arakkan barong berkeliling kampung. Barong Kemiren mirip dengan Barong Bali, namun bentuknya lebih kecil. Selain menjadi kesenian khas, barong cukup disakralkan warga setempat dan menjadi simbol utama dalam setiap upacara adat.

Tradisi Tumpeng Sewu dilaksanakan setiap pekan pertama dalam bulan Syuro atau Dzulhijjah pada hari Kamis atau Minggu. Kedua hari ini dianggap sebagai hari baik bagi warga Kemiren dalam melaksanakan semua tradisi.

Bila pada bulan Dzulhijjah warga Kemiren menggelar Tumpeng Sewu, pada bulan Syawal, tepatnya hari kedua Lebaran, warga juga melaksanakan Tradisi Barong Idher Bumi. Dalam tradisi ini, barong juga menjadi simbol utama desa yang diarak keliling kemudian berakhir pula dengan makan bersama tumpeng pecel pithik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *