• sumber : ariatipasek.blogspot.com

Wayang Lemah – Salah Satu dari Tiga Wayang Sakral Bali

posted in: Bali, Seni dan Budaya, Wayang | 0

Wayang Lemah adalah salah satu jenis kesenian wayang yang berkembang di Bali yang biasanya difungsikan untuk “ngruwat”. Dijelaskan oleh Wayan Kawen bahwa wayang jenis ini termasuk dari tiga Wayang Bali yang disakralkan selain Wayang Sapuh Leger dan Wayang Suddhamala. Ketiganya memiliki fungsi yang sama.

Diantara ketiga jenis wayang tersebut, Wayang Sapuh Leger disebut sebagai yang paling angker dan paling berat bagi dalang, biasanya difungsikan untuk Manusa Yadnya (Ngruwat Kelahiran) khusus bagi orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Adapun Wayang Lemah dan Suddhamala memiliki fungsi lebih umum seperti Manusa Yadnya, pitra yadnya, Dewa Yadnya, Buta Yadnya serta Resi Yadnya.

Pelaksanaan Wayang Lemah

Wayang Lemah, dalam pelaksanaannya dipentaskan pada siang dan malam hari, bergantung pada jenis yadnya yang diiringinya. Pementasan menggunakan kelir benang tukelan (bukan layar putih) yang direntang susun tiga dengan masing-masing berisi uang 11 kepeng. Kelir tersebut diikatkan pada dua ranting dadap cabang tiga yang terpancang pada kedua belah ujung gedebong pentas dengan tidak memakai lampu belencong.

Adapun Bebaten (sesaji) yang digunakan adalah suci asoroh dengan guling itiknya. Selain itu ada juga ajuman putih kuning, canang gantal, lenga –wangi buratwangi, daksina gede serba empat, sarma 8100 kepeng, segehan gede, pedupaan dan tetabuhan arak berem.

Bahan air suci sama dengan persediaan pada Wayang Sapu Leger, dipuja setelah pementasan selesai. Hasilnya dipercikkan oleh pengacara yadnya atau oleh Ki Mangku Dalang sendiri kepada apa yang diupacarai. Apabila dalam rangkaian upacara manusa yadnya, telu-bulanan misalnya air suci dipercikkan kepada bayi yang diupacarai. Apabila dalam rangkaian dewa yadnya, melepaskan sanggar pemerajan, pelinggih-pelinggih misalnya air suci diarahkan kepada bangunan yang dipelaspas itu.

Lakon Wayang Lemah

Pertunjukan wayang ini membawakan lakon yang disesuaikan dengan jenis yadnya. Ketika difungsikan untuk mengiringi dewa yadnya maka lakon yang dipentaskan mengambil dari cerita Dewa Ruci atau Mahabharata (Parwa). Sebagai misal Wana Parwa yang isinya mengandung ungkapan2 bahwa dewa-dewalah penegak kebenaran dan keadilan. Adapun apabila wayang lemah sebagai pengiring manusa yadnya, pitra yadnya, bhuta yadnya, resi yadnya dicukilkan dari Mahabharata (Asta Dasa Parwa), Bhima Suarga dan Dewa Ruci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *