Wayang Palembang Sumatera Selatan – Perkembangan dari Wayang Jawa

Terdapat keyakinan bahwa keberadaan Wayang Palembang merupakan dampak dari perkembangan Wayang Kulit di Jawa. Melihat gaya wayang putren serta rupa ornamen, wayang yang ada di Palembang cenderung bergaya Gagrag Yogyakarta.

Meskipun demikian, tidak ada yang bisa memastikan apakah wayang ini didatangkan langsung dari Yogyakarta. Bahkan, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa wayang tersebut berasal dari Tangerang.

Perkiraan kuat bahwa wayang kulit di Palembang berasal dari wayang kulit di Jawa juga bisa kita tilik dari wayang yang paling tua. Selebihnya terjadi penambahan wayang-wayang srambahan (tokoh-tokoh pelengkap) yang dibuat di Palembang.

Di samping itu wayang-wayang yang paling baru adalah buatan pengrajin wayang gaya Surakarta dan Yogyakarta. Ada perkiraan yang menyebutkan bahwa kedatangan wayang dari Jawa bermula pada abad XVII melalui seorang yang bermigrasi ke Palembang.

Selanjutnya berkembang secara terbatas di lingkungan keluarga nenek moyang dari Dalang Ki Agus Rusdi Rasyid. Setelah kedatangannya di Palembang, keahlian dalang terwariskan secara turun temurun pada jalur keluarga yang sangat terbatas.

Seiring perkembangannya, pewayangan di Palembang bersentuhan dengan budaya setempat. Mengadopsi unsur-unsur lokal, terlebih pada bahasa dalam narasi ataupun dialog. Meski lakonnya tetap berkisar pada Mahabharata dan Ramayana, namun yang khas adalah terjadi pengolahan cerita berupa Sanggit sebagai lakon carangan.

Sebagai misal adalah lakon Arjuno Duo (Arjuna Kembar) yang terkesan telah jauh dari sumber aslinya. Hanya saja ketika kita runut, lakon cerita tetap saja motif-motifnya sama dengan Wayang Purwa Jawa. Seperti terlihat pada lakon Prabu Indrapura yang motifnya mirip dengan lakon Petruk Dadi Ratu.

Dalam pagelarannya, wayang di Palembang biasanya tersaji dengan iringan seperangkat gamelan berlaras pelog. Menggunakan caturan atau gendhing yang memiliki bentuk dan harmoni yang telah terolah sedemikian rupa.

Merujuk pada catatan dari Bapak Syah HM, Hanan, dalang yang lahir di tahun 1909. Pada era sebelumnya banyak dalang di antaranya adalah Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim Dalang Agus dan Dalang Ali. Konon wayang ini pernah populer di Palembang.

Dalam fungsinya sebagai hiburan maupun untuk Ruwatan lambat laun mengalami kemunduran. Tahun 1930-1978 orang sudah jarang menyaksikan pertunjukan wayang. Bahkan, mungkin tidak ada lagi orang yang mendengar lagi keberadaan wayang Palembang.

Setelah vakum kurang lebih 48 tahun, pada tahun 1978 PEPADI Sumatera Selatan berhasil melacak keberadaan Wayang Palembang dan berusaha membangunkan kembali dari kondisi yang sangat memprihatinkan. Selanjutnya ada usaha untuk bisa menampilkan kembali pementasan wayang.

Untuk mendukung upaya tersebut, lahirlah sebuah organisasi atau sebuah kelompok seni wayang yang bernama SRI PALEMBANG dengan dalang Ki Agus Abdul Rasyid. Beralamat di Kelurahan 36 ilir Tangga Buntung Kecamatan Ikir Barat II Kota Madya Palembang.

Dengan pembangunan kembali di sana-sini, maka tahun 1978 pewayangan di Palembang mulai tampil pada Pekan Wayang Indonesia III di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Ketika itu menggelar lakon Bambang Tukseno bertempat di Teater Tertutup TIM.

Sekembali dari Jakarta, kesenian wayang menggeliat kembali. Terbukti dari adanya minat dari saudara H. Ahmad Sukri Ahkab seorang asli Palembang kelahiran 1947 yang bekerja di RRI Stasiun Palembang sebagai penyiar. Ia tertarik belajar mendalang pada Ki Agus Abdul Rasyid.

H Ahmad Sukri Ahkab mulai berani tampil di RRI Palembang tahun 1978. Pada saat itu setiap sebulan sekali terdapat pagelaran wayang melalui RRI Palembang. Kesempatan tampil kembali di pentas nasional adalah pada Pekan Wayang Nasional IV tahun 1983.

Saat itu dalang sepuh sudah meninggal, dan yang menjadi dalang adalah putera dari Ki Agus Abdul Rasyid yaitu Ki Agus Rusdi Rasyid. Pada tahun 1983 sampai dengan tahun 1987 nyaris tidak ada lagi kegiatan seni pedalangan di Palembang.

Pada tahun 1988 wayang Palembang tampil lagi dalam rangka promosi wisata daerah Sumatera Selatan. Menurut Informasi Bapak H. Ahmad Sukri Akab, tahun 1978-1980 adalah pagelaran wayang terbanyak dengan memberi kesempatan pentas di RRI yang terjadwal sebulan sekali.

Selanjutnya pada tahun 1979, wayang Palembang tampil di TVRI Palembang berupa paket lokal dengan durasi 45 menit melakonkan cerita Suryadadari. Juga, mengisi paket acara yang tersiar secara nasional dalam program Taman Bhineka Tunggal Ika. selama 25 Menit dalam cerita Arjuno Duo (Arjuna Kembar).

Beberapa pertunjukan kesenian wayang yang sempat tercatat adalah pertunjukan-pertunjukan untuk mengisi paket acara media masa RRI-TVRI, panggung penerangan, peringatan Musda PEPADI Sumsel dan undangan khusus dari Menteri Penerangan.

Beberapa pentas yang terselenggara lebih banyak disebabkan karena adanya kebijakan dari lembaga yang mempunyai kepentingan dengan kelestarian wayang ini. Dalam hal ini adalah PEPADI dan Pemerintah Daerah, serta Departemen Penerangan.

Yang menjadi keprihatinan adalah sedikitnya apresiasi masyarakat. Hal ini terbukti dari pentas yang dikatakan “murni”, dalam arti atas permintaan masyarakat yang menginginkan jasa hiburan atau keterkaitan dengan tradisi setempat, hampir tidak ada.

Dalam sepuluh tahun terakhir (kurun waktu 1980-2000), tidak lebih dari 3 kali pentas yang terkait dengan upacara tradisi seperti hajatan perkawinan. Periode 2000-2002 belum ada satu pun pentas wayang di Palembang yang dilakukan.

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *