• sumber : wayangku.id

Wayang Sapuh Leger – Kesenian Wayang Terberat di Bali

posted in: Bali, Seni dan Budaya, Wayang | 0

Wayang Sapuh Leger merupakan satu dari sekian jenis Wayang Kulit Bali yang menjadi bagian dari upacara ritual yang sakral yakni Manusa Yadnya. Upacara ritual ini berkaitan dengan lingkungan siklus kehidupan manusia. Dikatakan wayang ini adalah jenis yang paling berat dan paling angker karena hanya dipertunjukan pada anak yang lahir pada wuku wayang. Terlebih ketika kelahiran tersebut pada hari sabtu (Saniscara Kajeng Tumpek Wayang). Meskipun begitu, pada kenyataannya wayang jenis ini digelar tidaklah khusus dihari sabtu saja, akan tetapi dimulai dari hari senin hingga sabtu dalam wuku wayang.

Secara etimologi istilah Sapuh Leger dimaknai sebagai sebuah pembersihan atau penyucian dari sebuah keadaan yang tercemar atau kotor. Istilah Sapuh Leger berangkat dari gabungan dua kata dasar “Sapuh” dan “Leger”. Sapuh dalam kamus Bali-Indonesia berarti membersihkan, sedangkan Leger merupakan sinonim dari kata dalam bahasa jawa yakni Leget yang dimaknai sebagai tercemar atau kotor. Jadi, Wayang Sapuh Leger adalah drama ritual yang disajikan dalam pertunjukan wayang dengan tujuan untuk pembersihan diri seseorang akibat tercemar secara rohani.

Fungsi Wayang Sapuh Leger

Merujuk pada fungsinya, Wayang Sapuh Leger adalah bersifat religious, magis dan spiritual. Sarat dengan wawasan mitologis, kosmologis dan arkhais yang lebih kentara dengan hadirnya simbol-simbol pada lakon, sajian artistik, fungsi, sarana dan prasarana yang digunakan. Simbol-simbol tersebut sangatlah bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Dari sini kemudian diharapkan menjadi sebuah sistem nilai budaya yang nantinya dijadikan pedoman bagi prilaku manusia Bali.

Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Leger berfungsi sebagai pemurnian (furifikasi) bagi anak atau orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada Wuku Wayang. Sehingga seni wayang ini berfungsi untuk pengukuhan dan pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Hal ini dikarenakan salah satu perwujudan dari dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Lakon Wayang Sapuh Leger

Umumnya lakon yang dibawakan adalah mengacu pada Lontar Sapu Leger yang berkisar pada perjalanan Batara Kala. Berkisar pada Dewa Siwa yang memberi ijin kepada Batara Kala (anaknya) untuk memakan orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Sedang Batara Kala sendiri memberi anugrah kepada Ki Mangku Dalang untuk mensucikan orang-orang yang dilahirkan pada wuku wayang sehingga mereka tiada menjadi mangsanya (buruannya) lagi.

Berdasarkan isi lontar tersebut umat Hindu Dharma pada umumnya, apabila diantara anak-anaknya ada yang dilahirkan pada wuku wayang. Demi keselamatan anaknya itu, mereka berusaha mengupacarainya dengan Wayang Sapu-Leger walaupun alat-alat perlengkapan yang harus disiapkan jauh lebih banyak (berat) dari wayang lainnya.

Pelaksanaan Wayang Sapuh Leger

Dalam pelaksanaannya Wayang Sapuh Leger biasanya digelar dalam pekarangan orang yang diupacarai. Apabila tempat tidak memungkinkan, pementasan dialihkan ke suatu tempat yang dekat jalan simpang empat (catur pata. Beberapa perlengkapan dan sajen-sajen pokok adalah :

  1. Gedebong (pohon pisang) tempat memancangkan wayang. Harus pisang kayu berikut jantungnya (biu lalung) berbelitkan benang tukelan dan berisi uang 250 kepeng. Demikian pula pada kedua belah ujung perentang kelir (Lelujuh), pada dammar wayang (blencong), dibelitkan benang tukelan dengan disertai uang masing-masing 250 kepeng.
  2. Dihadapan kelir sebelah udik dipancangkan satu sanggar Tutuan (tempat pemujaan Dewa Surya) disertai peji uduh biu lalung. Diberi berbelit benang tukelan beserta uang 250 kepeng. Disitulah dipanjatkan seongkok sajen (suci asorong, ajuman putih kuning).
  3. Dihadapan kelir disajikan seonggok sesajen antara lain sorohan pabangkit asoroh, nasi merah (penek bang), dengan daging ayam wiring dipotong-potong winangun urip, sampaian andongbang dan beberapa tetebasan (terutama tetebasan sapu-leger). Selain itu, sebuah tumpeng yaitu nasi berbentuk kerucut berpancangkan ranting beringin, berisi ayam panggang, beberapa keeping jajan dan sesisir pisang.
    • Tetebasan Tadah Kala, yaitu sebentuk nasi segi tiga beralaskan daun candung dilampir bawahi sepotong kain poleng dan kepala nasi segi tiga itu dilumiri (dipoles) darah babi, lauk urab merah urab putih.
    • Tetebasan lara melaradan yaitu nasi kuning dalam takir, iwak balung dan telur dadar.
    • Daksina penebus baya yaitu Daksina Gede serba delapan (kelapa 8 butir, telur 8 butir, beras 8 kulak (takar), gula aren 8 biji, sarma 8100 kepeng, setandan pisang, segabung sirih berpancangkan sehelai jamur, tuak, arak dan berem.

Wayang Sapu Leger sebagai sajian ritual, kandungan nilai-nilai religius diolah sedemikian rupa oleh dalang. Nilai-nilai tersebut sangatlah kentara dalam kehidupan masyarakat Bali sehingga kesenian ini memiliki kemantapan dalam kehidupan mereka.

Disimpulkan bahwa Sapuh Leger mengandung petunjuk dan ajaran yakni hendaklah orang dapat menguasai waktunya sendiri. Tidak membuang-buang waktu yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali pengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *