• sumber : budayajawa.id/wp-content/uploads/2018/03/IMG_1953.jpg

Wayang Wong – Seni Pertunjukan Tradisional Jawa

Wayang Wong atau Wayang Orang adalah salah satu jenis seni pertunjukan tradisional Jawa. Berbeda dengan Wayang Kulit atau jenis wayang lainnya, kesenian ini tidaklah memakai properti boneka wayang, namun dimainkan langsung oleh orang sebagai tokoh dalam pertunjukannya.

Para pemain wayang ini mengenakan tata busana yang sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai dalam Wayang Kulit. Kesenian Wayang Wong disebut juga sebagai penggabungan Seni Drama dan Pertunjukan Wayang Kulit yang lebih dahulu tumbuh dan berkembang di Jawa.

Pertunjukan biasanya dibuka dengan jejer yang didahului dengan dialog umum. Kemudian baru cerita dan dialog ditampilkan yang diikuti adegan perang kembang, namun sebelum adegan perang terlebih dahulu ditampilkan adegan goro-goro yakni lawakan dari punakawan.

Dalam setiap pagelaran kesenian ini terdapat unsur yang menjadi perhatian penting yakni Ontowacono atau dialek tokoh. Ontowacono bisa berarti setiap tokoh memiliki idiolek tersendiri yang sekaligus mencerminkan watak masing-masing.

Perhatian penting jugaa dalam hal tata busana, Wayang Wong memiliki standar yang ketat karena kostum dianggap memiliki makna yang simbolis. Oleh karena makna simbolisnya pula, maka persoalan bentuk tubuh dan perilaku tokoh pun menjadi amat penting.

Lakon dalam Wayang Wong

Merujuk pada Sejarah Budaya Jawa, kisah Mahabarata dan Ramayana cukup mempengaruhi dan menjadi lakon bagi sebagian besar seni pertunjukan Jawa, tidak terkecuali pada pagelaran Wayang Kulit Purwa dan Wayang Wong.

Diantara kedua kisah diatas, kisah mahabarata yang paling menonjol dan sering dijadikan runutan, terutama pada seputar konflik Pandawa dan Kurawa dalam sengketa negeri Astina yang berujung pada peperangan Bharatayudha.

Dalam Kesenian Wayang Wong, keberadaan lakon dibedakan menjadi dua yakni Lakon Pakem dan Lakon Carangan. Pakem adalah lakon yang berupa cerita Mahabarata dan Ramayana, sedangkan Carangan lebih berupa cerita karangan atau fantasi yang masih ada kaitannya dengan kisah-kisah dalam lakon pakem.

Dalam hal ini, Wayang Wong yang digelar di Taman Sriwedari Surakarta biasanya lebih mementaskan lakon pakem dan berusaha untuk memenuhi pakem pertunjukan wayang secara ketat.

Sejarah Kesenian Wayang Wong

Menurut Dinas Pariwisata Kotamadya Dati II Surakarta, Wayang Wong lahir pada Abad XVIII. Kesenian ini diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dan pertama kali ditampilkan di Surakarta, namun tidaklah bertahan lama dan berpindah ke Yogyakarta.

Kesenian ini kembali hidup di Surakarta dimulai pada bulan april 1868 yakni disaat Mangkunegara IV mengadakan khitanan putranya yang bernama Prangwadana dan Mangkunegara V. Dalam acara tersebut didatangkanlah petikan Wayang Wong dari Yogyakarta.

Selanjutnya kesenian wayang disempurnakan lagi oleh Mangkunegara IV dan V, terlebih dalam hal tata busana dan perlengkapannya. Dari sini, kesenian ini semakin berkembang terutama sejak dibangun Taman Sriwedari oleh Pakubuwana X di tahun 1899. Bahkan, Wayang Wong dijadikan sebagai kesenian yang selalu mengisi acara di Taman Kasunanan tersebut.

Pada awalnya, Wayang Wong adalah jenis pertunjukan tradisional yang eksklusif dan hanya ditampilkan dilingkungan Kraton. Namun sejak tahun 1902 muncul pertunjukan Wayang Orang dengan dasar komersil yang disajikan di luar Keraton.

Wayang Orang komersil semakin berkembang dan mencapai puncaknya terlebih ketika muncul perkumpulan “Ngesti Pandowo” yang dipimpin oleh Sastrosabdo. Perkembangan tersebut juga turut mempengaruhi keberadaan Wayang Orang di Taman Sriwedari yang juga mengikuti pola komersil dan memungkinkan masyarakat untuk menonton dengan membeli karcis.

Di Jakarta, pada tahun 1960 – 1990, pernah pula berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, diantaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Pandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, Ngesti Widada, Panca Murti, dan yang paling lama bertahan adalah Bharata.

Pentas seni Wayang Orang juga melahirkan seniman-seniman tari yang menonjol, antara lain Sastradirun, Rusman, Darsi, dan Surana dari Surakarta; Sastrasabda dan Nartasabda dari Semarang; Samsu dan Kies Slamet dari Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *